1000 Cerita Horor di Kantor: Tidak Mau Ditemani, Hantunya Bisik-bisik “Ndang mulih”

Email dengan huruf kapital dibold dan distabilo merah sepertinya enggak akan dibahas seru di meja makan saat malam jumat legi. Hanya cerita horor yang akan menguatkan hubungan kita semua. Sampai malam jumat pun nggak terasa gimana-gimana saling cerita dengan semangat dan melupakan bahwa kita akan duduk di dalam ruangan yang sama dengan yang di cerita, keluar dari gerbang yang sama, dan melewati spot-spot horor seperti dalam cerita.

Dibisiki hantu “Ndang mulih..”, adalah pitch terakhir yang ingin saya dengar dari 1000 cerita horor di kantor ini. Itu satu-satunya komunikasi verbal di cerita horor ini. And yes, serem…

Seperti Ada yang Lewat Ya..

Kayaknya saya hampir sedekade lebih duduk di ruangan ini. Berpindah-pindah dari satu sisi ke sisi yang lain di dalam ruangan. Awal-awal kantor ini berdiri masih ada ruangan yang disekat untuk ruang manajer di sayap kanan, dan ruang CS di sayap kiri. Semuanya berdinding kaca di bagian dalam. Kami menyebutnya Akuarium. Akuariumnya Ivan dan Reyno, serta akuariumnya CS.

Meja dan kursi saya menghadap ruang CS, memunggungi akuariumnya Ivan dan Reyno. Tidak strategis ya karena kalau buka Twitter dan Facebook jadi kelihatan Pak Manajer. Dan lebih tidak strategis lagi karena saya memunggungi lorong menuju kamar mandi yang kalau lampunya nggak dinyalain ya gelap sekali karena ujungnya ruang meeting.

Pada satu era, jam kerja saya berakhir pukul 10 malam, hanya menyisakan beberapa pria saja di dalam ruangan. Sedang asyik membuat report harian tiba-tiba hawa tenang itu terusik dengan gerakan orang berjalan di belakang punggung. Menoleh ke kiri kamar mandi nggak ada orang. Menoleh ke kanan ke taman belakang, nggak ada orang.

Hari itu saya pulang minta ditemani hingga motor keluar pagar. Untung ngga lama kemudian jam kerjanya berubah lagi. Jadi sudah pernah ngerasain 3 shift selama bekerja di sini. Dulu, juga ada cerita horor di kantor dengan bangunan lama.

Siapa Itu di Ruang Pojokan?

Mundur sejenak ke bangunan kantor lama di blok tetangga dari kantor baru ini. Waktu itu saya masuk malam dari jam 9 hingga jam 6 pagi. Di lantai 2 ada ruangan kecil di pojokan biasanya untuk salat. Depan meja saya kolam koi besar-besar yang dibatasi kaca. Jadi kalau ada anak di seberang ruangan yang lewat pasti kelihatan bayangannya mantul di kaca.

Kantor ini terdiri dari 3,5 lantai. 3 lantai full dipakai ruangan, setengahnya di bagian atap hanya ditutup sebagian. Spotnya cakep banget untuk foto-foto senja. Tapi sayang, saya masuknya malam saja sampai jam kerja diubah masuk pagi hingga bertemu teman di lantai lainnya.

Malam itu hening. Kami berlima di lantai dua baru saja menyelesaikan game bareng-bareng dan kembali khusuk bekerja menghadap layar masing-masing. Istirahat tengah malam, mau makan juga mau ke mana? Anak lantai atas tidak kedengeran lagi ngapain. Ruang pojokan seperti biasa anteng tidak ada pergerakan karena anak-anak semua sedang bekerja.

Jam 3 pagi. Saya merapatkan jaket dan memakai hoodie karena terasa dingin AC menerpa tengkuk. Tangan masih sibuk merapikan tepian hoodie di kepala, JEGREK! KRIIEEETTTT…. pintu ruang pojok terbuka pelan-pelan. Semua gerakan jari menghilang, ruangan terasa membeku semua menancap di kursi masing-masing.

Gelap. Ekor mata sempat melirik ke ruang pojok sambil jantung terasa melorot sampai dengkul. Sesosok perempuan keluar dari ruangan…tidak terdengar langkahnya..sambil bilang, “Amit mau ke kamar mandi, mbak..”, kemudian menutup pintu kaca lantai 2 dan turun ke lantai satu.

Kami .. hening. Sedetik. Dua Detik.

“GUOBLOK, TAKPIKIR HANTU!” Seru Wahyu yang wajahnya pucat pasi. Tenang, kami semua berpikir yang sama dan meneriakkan hal yang sama demi menenangkan jantung masing-masing. Kalau anak sekarang mungkin ngomongnya, ANJIIRRR WA PIKIR ITU HANTU, ANJING!

2 Comments

  • Bwahahaha… baca cerita ini saya jadi ingat zaman2 kuliah dulu. Suatu malam saya, seperti biasa, pulang jam 2-3 pagi abis nongkrong di sekret. Saya lewat gerbang samping, lewat bangunan tua-bangunan lawas dan jejeran cemara, terus lanjut jalan ke arah kosan. Terus di pojokan saya mencium bau bunga, melati. Merindinglah saya dan saya percepat langkah buat pulang.

    Eh, paginya pas lewat sana ternyata memang beneran ada pohon melati 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *