rumah sakit lavalette malang

Jangan Takut ke Rumah Sakit Lavalette Saat Pandemi!

Apalagi di saat virus Covid19 semakin merajalela dengan kehadiran varian Delta ini. Saya sangat memaklumi kalau memikirkan rumah sakit aja bisa bikin depresi. Tapi percayalah, kalau memang sangat butuh perawatan medis, jangan takut ke rumah sakit saat pandemi apalagi termakan issue yang periksa ke RS akan dicovidkan. Jangan lah. Sejak dari IGD sampai ruang perawatannya dipisah. Itu saja dulu yang saya alami di Rumah Sakit Lavalette, Malang.

Bagian sayap lain dari rumah sakit masih tetap berfungsi untuk melayani pasien-pasien yang membutuhkan perawatan reguler. Poliklinik, Laboratorium, Radiologi, sampai Rawat Inap, dipisahkan benar-benar. Yang membedakan memang protokol kesehatannya di mana harus diingat bahwa: SETIAP CALON PASIEN DIANGGAP SUSPECT POSITIF SAMPAI TERBUKTI NEGATIF, apalagi jika datang dengan gejala dan membutuhkan penanganan segera lewat IGD.

GEJALA COVID PALING UMUM:
Demam, Batuk Kering, Kelelahan
GEJALAN COVID YANG SEDIKIT TIDAK UMUM:
Rasa tidak nyaman dan nyeri, Nyeri tenggorokan, Diare, Konjungtivitis (mata merah), Sakit kepala, Hilangnya indera perasa atau penciuman, Ruam pada kulit atau perubahan warna pada jari tangan atau jari kaki.
GEJALA COVID PALING SERIUS:
Kesulitan bernapas atau sesak napas, Nyeri dada atau rasa tertekan pada dada, Hilangnya kemampuan berbicara atau bergerak.

Anak saya demam tinggi di hitungan hari kelima saat akhirnya masuk IGD. Hari kedua kemarinnya sudah swab dan negatif. Masuk IGD dengan rujukan dan berkas-berkas laboratorium dari dokter spesialis untuk rawat inap. Yang dilakukan tetap sesuai prosedur sebelum rawat inap. Setelah mendapat penanganan pertama di IGD Reguler yaitu cek tekanan darah, suhu, dan saturasi, kemudian pengecekan data-data dari surat rujukan, dilanjutkan dengan pemeriksaan swab ulang dan foto thorax. Ini standar, karena anak saya datang dengan gejala demam.

Setelah dipastikan aman, hasil swab negatif dan foto thorax dikonsultasikan pada dokter yang berwenang, baru pasien diijinkan dipindah ke ruangan untuk mendapat perawatan selanjutnya. Beruntung, benar-benar beruntung karena anak saya memasuki masa di mana bisa digambarkan dengan pelana kuda karena kritis demam berdarah. Diketahui kemudian trombositnya anjlok dari pemeriksaan sebelumnya 216000 ke 77000.

Ngeyel sehari lagi, mungkin perawatannya harus lebih intensif alias masuk ICU, kata dokter IGD.

Fix demam berdarah. Swab negatif, foto thorax bersih, penyebabnya ketahuan. Terima kasih respon kilatnya dokter spesialis anak terbaik di Malang, dr. Brigitta Ida R.V.C, Sp.A (K); pelayanan dokter IGD dan nurses-nya yang tindakannya ramah pada anak kecil, nurses Ruang Platinum yang merawat anak sampai pulang.

Dari pengalaman rawat inap di Rumah Sakit Lavalette kemarin, takut ke rumah sakit memang masih ada, tapi melihat sendiri bahwa penanganannya cukup aman di bagian non covid.

UPDATE:
Hari ini saya kontrol ke dr Brigitta kembali pasca anak pulang dari perawatan. Sambil menanti edc yang ngadat, beliau cerita-cerita sedikit soal kenapa banyak orang takut ke RS, padahal tempat penanganannya dipisah bahkan pintu keluar pun dipisah. Terutama penanganan suspect covid di Rumah Sakit Lavalette yang saya bilang sebelumnya saya nggak tau ada di mana bangsalnya. Benar-benar nggak kelihatan dari pintu depan.

Kata dokter, dari IGD Covid, pasien yang akan dirawat dilewatkan pintu khusus jadi tidak kembali lewat pintu masuk IGD. Begitu juga ambulans Covid dibawa langsung menuju pintu yang berbeda dari pasien umum. Ruang perawatannya berada di sayap belakang dari kompleks RS Lavalette sehingga benar-benar terpisah dari sirkulasi kegiatan rumah sakit secara umum.

Dalam hati saya, pantas saja waktu checkout dari rumah sakit malam itu ada ambulans lewat tapi langsung lenyap ke samping deretan ruangan IGD Covid dan sama sekali nggak ada kehebohan yang terjadi. Good Job. Pasien umum seperti saya dan anak jadi merasa terlindungi. Bagaimana dengan di rumah sakit lainnya ya?

Kronologi yang Bikin Pengalaman Rawat Inap di Rumah Sakit Lavalette Jadi Seru

rumah sakit lavalette malang
CUMA ILUSTRASI, NGGAK PAKE GINI GINI PAS DIRAWAT KEMARIN

Seru karena berasa kayak di dunia lain. Setelah setahun lebih WFH, ditambah beberapa waktu belakangan benar-benar di rumah aja karena Pipinya anak-anak berubah jam kerja, DAAAAANG malah diserang nyamuk demam berdarah. Jadilah memang jangan terlena dengan kadar trombosit di batas normal tetapi demam masih naik turun nggak karuan. Pengalaman anak menginap di Rumah Sakit Lavalette bikin saya nggak pengen ngulangin, tapi seru sekali memang di masa seperti ini. Mind to read rest of the story?

Pokoknya Jangan Sampai Batuk Pilek

Salah satu penyakit yang nggak mau mau banget saya hadapi di masa pandemi adalah batuk pilek demam. Baik saya maupun anak-anak, juga keluarga. Pipinya sempat demam di awal saya WFH Maret tahun lalu karena kehujanan hampir setiap hari. Tentu sudah isoman dan segala macam suplemen digerojok. Bersyukur memang mungkin karena drop saja mengingat tempat kerjanya di rumah dinas dilockdown tidak menerima tamu, jadi cukup aman.

So far yang serius cuma itu. Anak-anak sendiri rutin vaksin influenza setiap tahun. Pertengahan Juni, anak-anak hobi sekali main air. Di halaman, di kamar mandi bisa lama sekali. Lalu si bocah lanang mulailah pilek dan batuk. Cukup saya empet aja di rumah nggak keluar-keluar dulu. Konsultasi dengan dokternya lewat ponsel untuk obat juga rutin karena nggak ada gejala yang nganeh-anehi. Pas mau periksa pas longgar kerjaan, dokternya sedang menguji. Sampai seminggu kemudian mereda. Hari Sabtu pilek batuknya pas berhenti. Minggu pagi main air lagi sambil menunggu eyangnya senam pagi bareng tetangga dengan berjarak tentu.

Saya mengawasi dari rumah. Tidak banyak ibu-ibu yang ikut senam, yang ikut pun pakai masker dan menjaga jarak. Bocah dan adiknya bermain di sela-sela kaki eyangnya. Lalu pulang dan main air lagi siram-siram tanaman sampai basah bajunya. Dimandikan ulang, ganti baju, lalu ndusel tiba-tiba tidur.

Jam 1 siang dia pindah ke depan tv tanpa bilang apa-apa. Tampak lemes sih memang sambil nonton Blaze kesayangannya. Saya masih duduk di meja kerja, kemudian iseng lihat wajahnya kok merah padam kayak kepiting rebus. Tempnya 38 derajat celcius. WUOW. Buru-buru diberi Sanmol lalu turun.

Demam 2 Hari, Periksa Dokter

Salah tiga pedoman penanganan pertama Covid adalah pantau terus suhu badan, saturasi, dan jauhkan dari keluarga lainnya. Kalau ada keluhan segera periksa. Ya namanya bocah cuma bisa ngerengek saja bahkan dia ngga bilang kalau pusing atau gimana. Kamarnya segera dipisah dengan adiknya, dipantau terus suhu dan saturasi oksigennya. Suhunya yang naik turun 37-38 mepet 39 derajat celcius. Saturasinya OK di 99 stabil selama beberapa hari.

Jelang hitungan hari ketiga saya uda nggak jenak aja menunggu demamnya nggak turun. Di antara deadline juga rekan kerja yang ijin recovery setelah vaksin, diangkutlah periksa ke dokter. Untung sepi, tapi memang banyak anak yang batuk pilek antri periksa. Dokternya nggak pakai babibu setelah cek dada dan demamnya langsung bilang “SWAB dulu aja ya.” “Paru-parunya ada gejala kah dok?” “Engga kok, kedengerannya bersih, tapi semua kemungkinan bisa terjadi.”

Keluar ruangan dokter, nangis saya. Hahaha.

Pengalaman SWAB Pasien Anak di Rumah Sakit Lavalette

Dokter memberi rujukan pengantar SWAB dan Cek Darah Lengkap di Rumah Sakit Lavalette. Sebenarnya ini adalah salah satu rumah sakit yang cukup saya hindari setelah RS Saiful Anward. Males aja, ada banyak cerita-cerita nggak seru yang bikin… AH UDAH AH ke RS PERSADA AJA AH.

Tapi kali ini saya manut. Masuk ke area loket, saya cukup amaze. Cukup banyak perubahannya dari terakhir kali ke sini. Masing-masing layanan sudah dibagi-bagi sesuai dengan tujuan, tapi tetap ada nomor antrian sesuai loket. Saya menunggu di mobil sih tepatnya, wkwkwk, Pipi yang mendaftarkan nama bocah.

DOKUMEN yang HARUS DIBAWA PASIEN BARU RUMAH SAKIT LAVALETTE

– Kartu Identitas Diri (Anak bisa pakai KIA)

– Kartu Keluarga optional

– Surat rujukan dari Dokter kalau ada

– Sertakan kartu BPJS/ASURANSI kalau ada

Setelah proses pendaftaran selesai, lanjut ke Laboratorium yang berada di sayap kiri Lavalette. Serahkan berkas-berkasnya dan tunggu dipanggil. Swab dilakukan di ruang terpisah dari laboratorium. Di hari itu ada cukup banyak yang mengantri giliran diSwab selain si bocah. Drama swab anak tentu ada dong, mohon maaf banget untuk mbak-mbak perawat yang ditendang si bocah ya. Padahal sudah dipegangi orang 2…

Pembayaran pendaftaran dan cek laboratorium dilakukan di kasir depan.

ALHAMDULILLAH HASIL SWABNYA NEGATIF!

Hasil tes darahnya cenderung normal pun.

Tapi Jadi Pusing, Demamnya Kenapa? Masih Lanjut 3 Hari Lho!

rumah sakit lavalette malang

Awal demam hari Minggu, swab hari Selasa. Rabu masih naik turun, Kamis sempat turun lama dan saya ajak dia melihat kereta. Bahagia sampai mau minta makan setelah beberapa hari kehilangan nafsu makan. Kamis malam naik lagi dan bertahan di 38. Pagi-pagi saya beri Proris dari obat dokter, dan memutuskan untuk periksa kembali. Dokter bilang, “Udah ini dirawat aja ya. Mau di Mardi Waluyo atau di Lavalette?”

Saya nangis lagi di luar ruangan. Setelah berdiskusi dengan kakak dan suami, saya memutuskan ke Lavalette dan diberi surat rujukan. Tapi pulang dulu sekalian menyiapkan baju.

Masuk UGD RS Lavalette, Mulai Deg-degan

Bukan cuma parkirannya RS, bagian IGD juga adalah yang paling saya hindari. Tapi ya kali ini harus dihadapi. Di IGD anak diletakkan di ruang terpisah untuk diperiksa ulang. Cek tekanan darah, saturasi, suhu. Secara otomatis karena mendapat rujukan rawat inap, pasien harus menjalani tes swab dan foto thorax. Sekali lagi, semua calon pasien adalah suspect sampai terbukti negatif. Sampai hasilnya keluar, ditentukan dulu kondisinya, baru dipindahkan ke ruangan.

Nggak lama kok, paling 2 jam. Situasi IGD Reguler juga cukup lengang. Ada 1 pasien di kamar sebelah, juga ada 1 lagi yang ditangani jarinya kayaknya terluka. Si bocah cukup tersita perhatiannya melihat kesibukan di luar ruangan jadi infus di tangan dan waktu menunggu cukup panjang nggak bikin merengek. Pipinya malah sempat makan pangsit di pujasera RS Lavalette. Saya? Buka email-email kerjaan. Pencitraan.

Ruang Perawatan Anak yang Sepi

Saat mengurus asuransi anak untuk rawat inap, untung bisa upgrade ke VIP di Ruang Platinum dengan selisih biaya yang ditoleransi oleh pihak asuransi. Ruang yang dipesan sebenarnya Kelas 1 karena terdiri dari 2 bed. Namun untuk VIP satu ruangan dipakai sendiri. Ruangnya luas, bener-bener luas dengan kamar mandi yang nggak kalah luas, air panas, televisi, dan ac, serta banyak colokan.

Seluas-luasnya dan senyaman-nyamannya rumah sakit, mending nginep di hotel. Tapi nggak dibayarin asuransi memang.

Ada 5 pintu kamar di lorong tempat anak berada. Di depan nurse stationnya ada playground mungil untuk anak-anak. Kamar 1-2 kosong, saya menempati kamar 3. Kamar 4 itu rame sekali isinya nggak tau sakit apa, kadang-kadang ada suara ibu-ibu memprospek suatu layanan yang terdengar sampai kamar saya. Salut, menunggui anak sakit sambil terus bekerja. Di ujung ruangan sepertinya kamar kelas 2 yang tidak kalah sepinya.

Jadi sebuah konfirmasi juga ya teman-teman. Ruang pelayanan biasa, poliklinik, apotek, laboratorium, ruang radiologi dan lain sebagainya selain pelayanan covid, berlangsung seperti biasa. Ada protokol tambahan seperti swab dan foto thorax dulu memang, tapi cukup normal. Menurut nurse, ruang IGD Covid dan perawatan Covid memang overload. Saya sendiri nggak tau ada di sebelah mana RS Lavalette.

Jumat Sampai Senin Seperti Berada di Luar Negeri

rumah sakit lavalette malang

Begitulah adanya. Kalau nggak ke nurse station karena pindah infus anak pun, saya nggak keluar ruangan sama sekali. Supply kebutuhan seperti pakaian yang dibawa pulang, jajanan, makan siang, laptop yang ketinggalan, dibawakan Pipinya. Saya benar-benar seperti di luar negeri, hanya terima kunjungan nurse dan dokter saja. Eh secara reguler juga ada cleaning service dan katering.

Pemandangan yang saya lihat hanya pohon besar Lavalette, gedung belakang SMP 5, dah itu saja. Lainnya melihat dunia dari layar ponsel. Seram di RS ah, saya takut memang. Sampai hari Senin pagi, kedamaian itu dipecahkan dengan kehadiran Gojek yang mengantar hampers dari teman-teman alumni SMA. Meski bersungut-sungut karena saya sudah bilang kalau nggak usah kirim-kirim yang artinya saya harus keluar ruangan, ya udah kadung dikirim juga. Saat menyiapkan dobel masker untuk menunggu kiriman di satpam, tiba-tiba pintu kamar diketuk.

Mas Gojeknya sudah berdiri di depan kamar. Dengan tangannya yang gemeteran hebat. Sampai mencet-mencet ponselnya pun dia kesulitan karena terus shaking. Mas anak saya DB kok nggak diisolasi, sambung saya sambil memberikan tip secukupnya. Antara geli sama saya cukup maklum dengan kondisi mas Gojeknya.

Saya tahu maksudnya teman-teman baik sekali memberi perhatian, namun sama-sama menghormati keinginan juga ada baiknya.

Hampers yang datang berupa buah-buahan segar dan Brownieskoe produksi teman alumnus SMA 3 Malang. Saya suka sekali browniesnya itu karena teksturnya pas dirasakan. Si bocah langsung minta anggur yang melambai-lambai di atas tumpukan buahnya. BERUNTUNG sekali saat dia mulai makan buah, infus di tangannya sudah dilepas karena trombositnya naik melesat dari pemeriksaan hari ketiga di rumah sakit yang sempat turun 73.000.

Perjalanan pemeriksaan darahnya cukup bikin deg-degan.

Hari kedua demam, trombositnya 216.000, leukositnya 5.000 sekian.
Hari kelima demam, trombositnya 77.000, leukositnya 2.000 sekian
Hari ketujuh demam mulai turun, trombositnya 73.000, leukositnya 8.000 sekian
Hari kedelapan demam hilang, trombositnya 124.000, leukositnya 11.000 sekian

Ketika demam berdarah sudah lewat diagram pelana kuda dengan perawatan yang tepat, kemungkinan trombositnya sudah beranjak naik. Bisa jadi di hari keenam trombositnya justru di bawah 73.000 karena leukositnya sudah melesat naik yang artinya tren trombositnya juga ikut naik.

Dengan badan yang sudah tidak lagi demam, nafsu makan sudah kembali perlahan. Tapi dia masih belum bisa pup juga. Perutnya tampak besar, didorong dengan beberapa butir anggur, jadi deh saya panen hari kesekian nggak bisa pup. WKWKWK. Beneran untung sudah lepas infus dan sudah bisa berdiri meski masih lemas. Bisa dibilas di kamar mandi, WKWKWK. Malamnya kami pulang ke rumah.

Proses Pasien Asuransi Pulang dari Perawatan di Rumah Sakit Lavalette

Anak saya mendapat tanggungan biaya perawatan dari asuransi kantor. Sejak bergabung dengan Emtek, asuransi yang digunakan adalah ETIQA dari AdMedika. Modelnya cashless. Cukup gesek saat pendaftaran rawat inap saja, petugas help desk layanan rawat inap yang kemudian akan membantu prosesnya ke asuransi. Mulai dari konfirmasi naik kelas yang tersedia, obat tambahan yang diberikan dokter juga dibantu mereka. Saya terima jadi laporannya.

Saat pulang juga demikian. Sebenarnya sudah ditawarkan untuk pulang sejak siang. Tapi saya agak kerepotan kalau membawa banyak barang-barang sendirian. Sedangkan Pipinya bertugas cuma 1 kilometer aja dari rumah sakit. Saya pilih menunggu visite dokter (sambil nunggu Pipi selesai kerja). Untuk pulang duluan sebelum ada tanda tangan dokter, pasien bisa membayar dulu biaya yang dikeluarkan selama perawatan. Cara ini tentu bisa berbeda ya di tiap rumah sakit.

Ketika akhirnya mendapat TTD dokter, proses checkout dari kamar juga gampang. Saya membawa pulang bundel hasil lab, foto thorax, dan surat rujukan kontrol dari dokter. Cukup di nurse station saja. Nggak perlu repot-repot ke loket asuransi. Selesai, lalu pulang. Sehari kemudian saya mendapat pemberitahuan dari petugas loket asuransi di Rumah Sakit Lavalette kalau terjadi tagihan yang ditolak bayar dari asuransi yaitu untuk layanan Edukasi Gizi.

Diberikan juga catatan total keseluruhan biaya perawatan, kamar, dan konsultasi dokter sejumlah 6juta sekian.

Tinggal siap-siap kontrol dokter ke Rumah Sakit Lavalette saja untuk pemeriksaan akhirnya.

TERIMA KASIH KAPANLAGI YOUNIVERSE!

Bismillah tetap bisa beli iPhone.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.