REVIEW: Botol Dot Pigeon, Avent, MAM, Comotomo, Mimijumi, Enak yang Mana?

Hampir setiap ke toko peralatan bayi bahkan melihat Instagram yang jual peralatan bayi, yang saya lihat pertama kali adalah koleksi botol dan dot bayinya. Sewaktu masih cuti rasanya menyenangkan lihat-lihat dan membandingkan satu demi satu kekurangan dan kelebihannya. Ternyata melihat-lihat saja enggak membantu. Harus dicobain satu demi satu untuk tahu mana yang enak dan mana yang enggak. Buat Ragaaaa, bukan buat saya. Mencoba botol dot bayi tentu harus beli ya. Perjalanan itu dimulai dari dot Avent dan berakhir di Comotomo. Begini kronologisnya.

Botol Dot Bayi Avent
Saya punya cukup banyak botol dot dari merk ini. Awalnya sih karena alat pumping yang saya beli dari teman sekantor merknya Avent. Avent punya 2 jenis botol, Classic dan Natural. Saya suka bentuk yang Natural karena gendut-gendut gimana gitu. Dotnya saya remet-remet memang terasa sedikit keras. Pertama kali Raga dilatih ditinggal ditemani oleh ASI perah dan botol Avent.

Hasilnya? Nangis kejer karena kecepatan minumnya nggak secepat aliran dotnya. Tapi saya kekeuh melatih pelan-pelan dan telaten melepas dot waktu sudah kelihatan kewalahan. Sampai dia menolak mik dot Avent sama sekali entah kenapa.

Menurut saya merk dot Avent yang masuk kelas premium ini punya kualitas yang bagus. Dari kualitas bahannya terutama. Bahannya dicuci pun gampang, tidak meninggalkan bekas ASI. Bahan dotnya pun bagus, hanya kenyalnya cenderung keras meskipun saya membeli yang baru juga. Baru-baru ini saya membeli botol Avent ukuran 240ml untuk menampung ASIP seharga 61an ribu. Seperangkat alat pumping dan botol tambahannya saya tebus dengan harga 1.5juta.

Botol Dot Bayi MAM
Rak botol bayi MAM biasanya nggak saya perhatikan lama-lama. Karena ada mbak SPG-nya sih, saya kadang nggak suka kalau lagi membaca diganggu dengan penawaran ini itu. Soalnya uda kena duluan beli botol dot MAM newborn-nya belum lama setelah makai Avent. Sedikit dendam soalnya harganya lumayan juga, sekitar 186rb.

Bentuk botol MAM beda dengan Avent, lebih besar di bagian bawahnya. Ini karena MAM membuat bagian tersebut mudah dilepas agar botolnya mudah dibersihkan dari bekas ASI. Bagian dotnya juga beda, pipih di bagian ujung dengan tekstur kenyal yang lembut. Sepertinya cukup mengadopsi bentuk puting payudara. Awalnya Raga keslepeken minum memakai dot ini. Setelah beberapa kali coba, ada triknya juga biar anak saya bisa minum dengan mudah. Nggak lama Raga mulai lepeh-lepeh dot ini juga.

Botol Dot Pigeon
Kakak menyarankan untuk coba yang biasa aja kenapaaaa, nggak usa yang mahal-mahal! Yaudah, saya membeli botol dot Pigeon yang imut nggak sampai 25rb harganya untuk newborn baby. Sekali dua kali, Raga mau memakai botol dot Pigeon ini sampai saya menghentikan segala perdot-dotannya karena gangguan produksi ASI sepulang dari rumah sakit.

Pada periode jeda ini saya juga memerhatikan bagian gusi depannya berubah bentuk seperti kena tekanan. Dugaan saya karena dotnya terlalu keras. Wew, agak kawatir memang, tapi kan ngga tau karena dot yang mana soalnya baru ini juga saya memerhatikannya. Juga ngga tau akibat dot apa jempolnya yang sudah mulai-mulai diemut. Lalu jedanya kelamaan, tiba-tiba saja cuti sudah habis dan Raga belum dilatih intens memakai dot kembali setelah dilepeh-lepeh itu.

Mama dan Papa yang dititipkan Raga pun pusing tujuh keliling karena dot-dotnya nggak pada mau dipakai minum. Disendokin pun susunya juga dilepeh kembali. Kemudian percobaan botol dan dot bayi baru pun dimulai lagi.

Botol Dot Mag Mag Pigeon
Lewat usia 3 bulan, beberapa saran masuk untuk memakai spoon feeder, cup feeder, sendok, atau gelas sloki saat minum. Dipilihlah botol dot Mag Mag keluaran Pigeon yang dibeli paket lengkap untuk 4 step latihan minum. Di usianya Raga masih pakai yang step 1. Dia nggak suka, mungkin karena lambat ya aliran susunya. Loncat ke yang step 2, terlalu deras, keslepeken lagi dan mogok minum lagi.

Haduh naaak..

Botol Dot Comotomo
Perburuan dot mulai merantak ke tahap yang lebih… mahal.. (insert emoticon uang melayang di sini). Tapi sebenernya sih memang pengen nyoba dot ini, secara botol dot comotomo direview sebagai botol yang remesable, alias menyenangkan untuk dipegang karena bahannya lembut. Padahal beli dot comotomo di Malang juga susah, nggak semua toko bayi ready stock.

Saya cari di Buchi nggak ada, dan direkomendasikan untuk ke Pipilo dari Tokopedia. Dan ternyata di sini juga ada botol dot Mimijumi yang kalau disearching agen Mimijumi di Malang adanya di Kepanjen sana.

Awal dicoba, botol dot Comotomo berhasil diminum (walau belum sukses banget) sama Raga.

Botol Dot Mimijumi
Dari sejarah perbotolan dotnya Raga, botol dot ini yang paling mahal yang pernah saya beli. Apa karena belinya barengan dengan botol dot comotomo yang harganya 270rb untuk ukuran 250ml dan botol dot Mimijumi 250ml juga dengan harga 360rb ya? Sambil nggesek atm saya berdoa semoga Raga akan lebih pengertian ke depannya. *tarik napas baca bismillah*

Botol dot Mimijumi bagi saya lebih menarikable karena bentuknya mirip dengan payudara. Warnanya juga coklat-coklat muda gimana gitu dengan bahan yang lembut. Dan Raga nggak memperhatikan itu. Botol Mimijumi pun siap diprelove tidak lama lagi.

Di hari pertama mencoba botol Comotomo, Raga masih ogah-ogahan sebenernya. Tapi setidaknya Raga mau ngenyot biar engga laper-laper banget sambil menunggu Miminya pulang. Siang ini sambil menyudahi postingan review botol dot Avent, Pigeon, MAM, Mimijumi dan Comotomo, dikirim foto Raga memilih botol MAM untuk minum siangnya.

*jedotin kepala.

*nanti pulang sungkem sama Mama Papa dan cium Pipi terima kasih sudah telaten semuanya.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *