Little House on The Prairie

Kira-kira seperti itulah gambaran rumah idaman kami. Sebuah rumah di tengah padang rumput luas hingga tak terlihat ujung pagar tetangga terdekat. Menghabiskan waktu bersama anak-anak kami nanti, menyediakan lapangan tempat mereka bermain sepuas-puasnya tanpa takut mengganggu tetangga ataupun terlindas kendaraan raksasa.

Impian hanya tinggal impian. Harga tanah dan rumah melambung tinggi ketika kami sudah merasa cukup finansial untuk berdiri di atas kaki kami sendiri. Berbagai kota telah kami singgahi, kedua orang tua kami nyaman tinggal di ibu kota. Kami jatuh cinta pada kota kenangan Katon Bagaskara, Jogja, tempat kami pertama bertemu dan melanjutkan kisah hidup ini berdua. Sedangkan ibu kota tempat mencari nafkah semakin berat dengan jumlah penduduknya. Salahkah jika akhirnya kami memilih di Jogja?

Hampir setahun sejak menikah kami masih hidup di rumah orang tua. Sembari mencari dan terus mencari property yang pas dengan kantung kami. Tak mengapa jika harus di tengah kota dan tak berhalaman seluas lapangan bola, asal masih tersisa ruang untuk anak bermain lompat tali, kelereng, betengan, dan rumah-rumahan seperti saat kecil dulu. Tentu agar mereka sekuat, secerdas, dan segaul yang telah kami pelajari dalam hidup ini. Tidak hanya hidup di dalam rumah, tetapi mereka harus mengenal alam walau hanya dari sepetak halaman yang kami ciptakan di rumah impian. Mereka pun harus mengenal teman bermain dan tentu saja kerabat keluarga. Punya rumah dikelilingi saudara, bukan harapan kosong belaka kan.

Tuhan berkata lain. Hasil survei langsung ke lokasi-lokasi yang ideal ternyata tidak menghasilkan. Dan tersebutlah dunia maya yang membantu kami menemukan lokasi rumah idaman di pinggiran kota Jogja. Luas tanah dan bangunan awal sesuai dengan harga yang ditawarkan. Kantung kami pun tidak lantas kekeringan. Langsung kami bergegas terbang dari ibu kota untuk melihat langsung bakal rumah kami. Sip! Sangat sesuai dengan yang digambarkan. Setelah sholat memohon petunjuk, semakin mantap kami memilih property yang ditawarkan.

Karena ingin memberi kejutan, kami tidak mengabari saudara yang di lokasi berdekatan dengan rumah kami. Biarlah nanti mereka terkejut ketika istri hendak belajar memasak ke budenya. Lucunya, saudara sempat mengabarkan tetangga sebelah rumah hendak menjual propertynya tanpa mereka sadar kami telah membeli property berseberangan dengan rumah saudara kami. Dan tentu saja kami masih terus bersandiwara dan menolak tawaran mereka. hehehe.

1aaaa
jendela (bakal) kamar anakku

Tahap perancangan pun dijalankan. Dan saat ini telah memasuki tahap pembangunan. Doakan kami segera memiliki rumah kami sendiri. Belajar mandiri dan segera mengatur masa depan dengan lebih matang lagi.

~terinspirasi dari kisah mencari rumah idaman my best friends, pgb n sr~

untuk mengikuti PropertyKita.com Blogging Competition ‘09

bismillah


Sharing after reading, yes?

24 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *