operasi kantung empedu di persada hospital

Operasi Pengangkatan Kantung Empedu Karena Sudah Penuh Batu

Tak mampu menabung batu berlian, generasi penabung batu empedu dan batu ginjal rasanya semakin banyak saja. Salah satunya saya. Setelah bertahan 10 tahun sejak memiliki bibit-bibit batu (tidak) berharga di kantung empedu, akhirnya diambil juga. Mau cabut empedu, begitu yang selalu saya ucapkan setiap ada yang bertanya. Daripada dipikir berat-berat karena operasi pengangkatan kantung empedu juga tergolong berat.

Terhitung hampir seminggu lebih sejak tanggal 6 Januari 2023 saya dirawat di Rumah Sakit Persada. Itupun sudah sejak tanggal 28 Desember 2022 saya nggeblak berkali-kali karena nyeri di ulu hati. Per 11 Januari 2023 bertemu ruang operasi pengangkatan kantung empedu, beginilah yang ingin saya ceritakan. Pokoknya jangan ngeyel dulu.

Dimulai Dari Lupa Sarapan

Sebagai penderita maag akut, asam lambung, dan punya riwayat batu empedu 10 tahun yang lalu, skip sarapan kadang akibatnya fatal. Biarpun kadang ya ngga juga, tergantung asupan berikutnya apa. Hari itu saya menuntaskan keinginan ngopi yang sudah berapa hari diidamkan. Order kopi 1 liter dan menuang untuk 1 cangkir di meja. Tambah es batu dan baileys. Sorenya slemet-slemet di perut terasa kuat, dapat diatasi dengan omeprazole. Saya masih lupa, sudah sarapan belum ya.

Sisaan kopi literan yang masih sebotol itu dibawa paksu ke kantornya daripada saya tergoda lagi. Makan minum seperti biasa, malamnya dinner keluarga di Jardin menikmati pop up marketnya yang keci. Saya tidak memesan spesifik menu untuk sendiri, yang penting anak-anak makan dulu. Di jalan pulang saya mengeluh ke kakak, ulu hati sakit sekali kemudian dibelikan obat sesuai resepnya. Sabtu itu saya sempat mengantar adik ke stasiun dan malam tahun baruan sendiri nonton netflix.

Besoknya anak-anak minta dibuatkan nasi nori dan sisanya saya habiskan. Tiba-tiba saja siangnya saya muntah begitu hebat. Nah itu pertanda buruk yang harus saya waspadai. Tanpa babibu langsung ke ugd minta suntik pereda nyerinya. Nasib tanggal 1 Januari, pasien UGD pun mengantri. Setelah mendingan, saya minta pulang. Namun kondisi terus naik turun. Hari Rabu diputuskan USG dan konsul ke bedah digestive karena tampak batu empedu masif.

Bedah Digestive Ngga Harus Bedah Kok

Rabu malam saya langsung minta tolong diantrikan Ule yang kebetulan ke arah Persada. dr Dwicha namanya. Saya kira dia perempuan. Dokter tidak semerta-merta menyarankan langsung operasi saat itu juga. Tapi diajak dulu mencari penyebabnya apa. Endoskopi dulu untuk melihat kondisi lambung, dan diikuti laparoskopi untuk pengangkatan kantung empedu jika memang dibutuhkan.

Alhamdulillah saya pikir. Masih bisa ditunda dulu dengan obat. Mudahan sih nggak perlu operasi kan ya. Namun kondisi naik turun terus terjadi, Jumatnya setelah dari dinihari tidak bisa merem saya memutuskan ke UGD lagi karena tidak tertahankan sakit di rongga perut ini. Selepas subuh langsung ditangani, diberikan pereda nyeri, yang kemudian memicu mual dan muntah-muntah hebat sementara belum bisa juga masuk kamar karena proses asuransi. Sampai ditanyakan berapa level nyerinya, saya pun menunjuk 10 karena nggak tertahankan.

Malam harinya saat dr Dwicha visite, dikondisikan untuk MRI lebih dulu melihat seberapa parah kondisi perut saya. Istilahnya, distabilkan dulu tidak langsung diberikan tindakan. Hasilnya mencengangkan!

Operasi Batu Empedu yang (tidak) Berharga Itu

1×24 jam setelah dilakukan MRI, dr Dwicha dengan sabar membacakan hasilnya. Koleksi batu empedu saya sudah full sekantong-kantong sehingga menyebabkan peradangan hebat dan menebal. Dari saluran empedu bahkan tidak terlihat karena meradang. Hati dan pankreas saya juga menebal setelah ditelaah dari pembacaan MRI.

Kesimpulan sementara endoskopi tidak jadi dilakukan. dr Dwicha memilih langsung laparoscopy saja karena jelas penyebab nyeri hebat di dalam perut saya kemarin. Tapi beliau memilih didelay dahulu untuk menyembuhkan peradangan di organ-organ lain yang sudah terjadi agar tidak mempersulit tindakan operasi nanti. Ya, kalau meradang hebat konon bisa jadi operasi terbuka tidak laparoscopy lagi.

Enaknya Celana Relaco Uniqlo Pas Nganggur di Rumah Sakit

Saya pikir kondisi saya cukup cito. Sehingga nggak bawa banyak perlengkapan. Berangkat pun cuma bawa charger dan identitas diri saja, tiada bawa baju ganti. Ketika akhirnya dirawat, beruntung suami cukup sigap dan paham baju-baju apa yang ingin saya bawa. Kebetulan dari trip Surabaya sebentar beberapa minggu lalu saya membeli diskonan celana relaco pas diskonan Uniqlo. Bahannya ringan, memang gampang kusut, tidak memakai resleting, tapi nyaman untuk hawa rumah sakit yang gerah sekalipun.

Celana relaco 3 biji saya bawa semua ke rumah sakit. Pertimbangan ke depannya juga karena yang akan diperiksa kebanyakan daerah perut, kalau bawa daster pasti bukanya susah, ya kan? Cukup relaco dan kaos-kaos tipis. Apalagi saya berbagi kamar dengan 2 orang pasien lainnya yang mungkin tidak tahan dengan pendingin udara.

Buat duduk buka laptop, tidur, naik kasur dan ke kamar mandi, celana ini nyuaman sekali. Saya pun akhirnya buka laptop dan ikut meeting selama masa delay penyembuhan radang hati dan pankreas. Meskipun ilang-ilangan juga karena ada aja obat yang bikin ngantuk melayang, setidaknya saya tidak kehilangan pace awal tahun untuk ngegas ngejar target besar kali ini.

11 Januari 2023, Operasi Pengangkatan Kantung Empedu Dulu!

Setelah nganggur bego 2 hari, akhirnya tibalah hari di mana tindakan akan dilakukan. H-1 saya memesan paket mie ulang tahun dari Warung Memos untuk dikirimkan ke teman-teman sedivisi sekaligus minta doanya semoga operasi dilancarkan. Malamnya dibayar kontan oleh semesta alam karena pengumuman Gojek mencantumkan nama saya sebagai pemenang pertama quiz hari ibu. Bersyukur banyak sekali distraksi dari pikiran-pikiran yang mengganggu sebelum masuk ruang operasi.

Visite dokter anestesi dan dr Dwicha juga menenangkan ditutup dengan doa bersama untuk kelancaran operasi esok harinya. Pagi-pagi saya sudah diberikan baju ungu untuk operasi yang baru saya pakai siang hari. Diantarkan sampai pintu ruang operasi oleh sahabat-sahabat, mama mertua, juga bapak yang berangkat tapi tidak sempat bertemu. Tidak ada adegan nangis dipeluk suami karena heeeey lupa kite mau pamitan, hahahaha. Akhirnya saya menangis sendiri di ruang tunggu operasi. Capricorn yey tampak tegar tapi cengeng juga.

Saya mengikuti prosedur tindakan dengan masih berlinang air mata. Bujug dah. Pengecekan data pasien, riwayat kesehatan, sampai ditanya-tanya apa keluhan sebelum turun ke ruang operasi. Kemudian diajak bercanda dr Deni yang bertanggungjawab menganestesi. Ada tanya jawab sedikit dengan asisten dokternya, dimasukkan obat yang terasa nyeri di infus sebelah kiri, lalu tiba-tiba saja sudah di ruang pemulihan.

Ingat betul rasanya ngga ada sakit-sakit yang gimana begitu siuman. Yang terasa justru kok tangan kanan saya sakit digerakkan. Ndilalah infusnya dipindah ke jempol kanan, posisi terbangsat yang dipilih dokter di situasi darurat. Mudahan saya juga ngga ngigau macem-macem waktu siuman dan bisa pindah sendiri ke bed perawatan yang kemudian dibawa ke kamar lagi. Hanya sempat say goodbye ke mama mama dan papa, lalu langsung merem lagi sampai dinihari.

Hello World!

12 Januari jam 1an saya mengirimkan pesan ke beberapa teman. Hello world! Yup setelah nggrawil-nggrawil mencari henpon yang disimpan masbojo di laci samping tempat tidur. Guling kanan kiri sudah belajar sejak dini. Saya masih belum bisa memetakan di mana letak sayatan bekas operasi laparoscopynya. Memang lebih baik fokus pada yang lain seperti mencari henpon daripada mikir bekas sakitnya. Apalagi posisi infus di jempol kanan yang super gengges itu menyebabkan ngetiknya bagaikan oma-oma dengan 1 jari saja.

Hampir 24 setelah operasi, saya sebenarnya sudah ngga nyeri-nyeri amat. Lalu ditegur keras dokter anestesi kenapa masih tidur-tiduran saja waktu dia visite. Begini pak dokter, jempol saya ini yang lebih nyeri untuk pegangan dan kateter masih dipasang. Mau belajar jalan turun bed ke kiri, selangnya kejepit, kalau turun ke kanan kantungnya kecantol. Tapi ya begitulah pasien bandel. Ditinggal visite saya langsung duduk sendiri.

Pak suami datang baru minta tolong diaturkan kateternya dan ya udah langsung jalan-jalan bawa kantung berkemih itu. Tidak lama langsung minta dilepas lalu ganti baju sendiri walau belum berani mandi. Semalaman masih diberikan obat-obatan full seperti sebelum tindakan. Dan rencana pulang belum kelihatan hilalnya di hari Kamis kemarin sampai akhirnya saya memaksa pulang aja dong dok besok dok ketika dr Dwicha visite.

Pulang Setelah 8 Hari Perawatan

Hari Jumat itu saya banyak bengongnya kembali. Happy karena sudah jauh lebih baik, tapi mas bojo sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali. Obat-obat masih diinjectkan lewat jarum infus, mau tidak mau masih dipasang dulu. Karena masih belum lampu hijau pasca operasi pengangkatan kantung empedu dari dokter Dwicha, perlengkapan tidur mas bojo masih di kamar.

Sudah boleh mandi tapi jangan digosok pesan dokter. Buka laptop update sana-sini. Packing baju-baju kotor dan peralatan yang di laci. Menanti mas cleaning service yang biasanya ngajak ngobrol pagi-pagi, lupa kalau Jumat ini dia libur. Cek terakhir oleh ners melihat ada rembesan di bekas luka operasi atau tidak, dan dinyatakan boleh siap-siap pulang. Yay, jarum infus lucknut pun dilepas.

Lewat salat Jumat, mas bojo mulai angkut-angkut barang sambil ngajak saya jalan-jalan. Dikejar satpam 2 kali di gedung bpjs dan di jalan menuju rooftop garden karena masih memakai gelang pasien. Oya, waktu terbaik kalau lagi ranap di Persada dan main ke rooftop garden tentu pas jelang-jelang senja karena pagi bukanya jam 7 sudah lewat sunrise pastinya.

Jam 14.30 saya boleh pulang!

Prosedur Pulang Rawat Inap dari Rumah Sakit Persada

8 hari dirawat saya dilewati pulang hampir 8 pasien yang tinggal sekamar di ruang 522 berkapasitas 3 bed itu. Ibu pertama kena demam berdarah dan gula darah rendah, memakai asuransi. Ibu sebelah transfusi darah, pakai BPJS. Mbak dokter di Pakis yang kena demam berdarah juga, pakai BPJS. Ibu sebelah transfusi darah, pakai BPJS ada sekitar 4 pasien kemudian. Dan Mbak penderita benjolan-benjolan di sekujur tubuhnya, pakai BPJS. Yang proses pulangnya cepat adalah pemakai BPJS.

Sat set wat wet, proses masuk cepat, proses perawatan cepat, dan release cepat rata-rata sekitar tengah hari sudah selesai pemberkasan. Ibu asuransi menambah 1 hari lagi karena gula darahnya drop dari batas normal. Proses asuransinya sampai siang hampir sama seperti yang saya alami. Mbak dokter saja yang kurang sabar sampai bertanya bolak-balik ke ruang perawat kapan boleh pulang.

Saya tipe penunggu kabar baik. Dinikmati saja waktu menunggunya dengan bekerja, wkwkwkw.

Alhamdulillah saat ini sudah lewat dari 2 minggu kepulangan setelah operasi pengangkatan kantung empedu. Apa saja yang saya rasakan?

Cerita berikutnya ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *