Dia Positif Covid19

Adik saya.

Beberapa hari lalu mengabarkan kondisi terkininya. Saya jadi sedih pernah menulis soal positif Covid19 ini. Walau sudah mengerti paparan virus mematikan ini semakin mendekati circle terdekat, tetap saja hati terasa maktratap tidak percaya. Apalagi dia positif dengan gejala.

Kami tidak siap.

Dua adik saya merantau ke Jakarta. Mengikuti jejak Papa yang dulu stay di ibukota sampai masa pensiunnya. Saat pandemi ini, keduanya work from home secara bergantian. Istri adik saya masih sering melakukan perjadin ke sekitar Jakarta dan diantarkan dengan mobil pribadi demi amannya.

Sampai minggu lalu semua aman. Sampai gejala itu datang.

Saat kabar itu dibaca, kakak pertama kali syok tidak percaya. “Aku nggak bisa mikir,” katanya. Namun ia bergerak cepat dengan membuat daftar obat serta vitamin beserta sederet petuah khas seorang kakak perempuan. Dokter pula.

Adik satunya bagian standby jika terjadi hal darurat meski rumahnya jauh sekalipun. Saya bagian menjaga orangtua di rumah dari berita-berita tidak perlu sampai adik mau mengabari mereka sendiri soal kondisinya. “Nunggu aku stabil dulu,” katanya.

Hari ini adalah hari ketiga setelah hasil swab mandirinya keluar. Gejala awal yang dia rasakan di hari Senin adalah badan terasa nggak enak banget. Mulai kamis demam, dan swab hari Jumat karena baru bisa bangun.

Ketika hasilnya positif, rasanya gelap ya. Saya dan orangtua jauh di sini. Jadi dia harus berjuang mengalahkan penyakitnya sendiri sambil menjaga anak istri. Namun langkah cepat sudah dilakukan. Dia telah pindah kamar sendiri sejak mulai merasakan gejala.

Istri dan anaknya menyusul melakukan tes swab mandiri hari Sabtu dan hasilnya negatif.

Alhamdulillah.

Namun demi keamanan semuanya, kini mereka berpisah rumah mengungsi ke tempat adik saya satunya di belahan daerah ibukota yang berbeda.

Hingga hari ini demamnya masih dia rasakan. Saturasi bagus, batuk ada tapi tidak sering.

Papa mama juga sudah diberi tahu semalam. Kaget tidak menyangka akan terjadi di keluarga, tapi mereka menerima kabar itu dengan legowo. Papa sempat ogah makan semalam, pagi ini sudah bersemangat lagi.

Hanya duduk setelah salatnya Papa Mama terasa lebih lama dari biasanya.

Sekarang adik di rumah sendiri. Mengantri safe house yang juga sudah penuh terisi.

Mengurus makan dan minum obat sendiri.

Kami yang di rumah sini, kakak di rumah sana, dan adik di langit Jakarta yang sama, menunggu kabarmu selalu ya. Semua berdoa. Semua mendoakan kamu agar cepat pulih kembali.

Terima kasih bagi yang ikut mengaamiinkan doa kami. Tetap jaga jarak, pakai masker, cuci tangan, dan jangan berkerumun ya.

Bismillah.

UPDATE DAY BY DAY

15 Desember 2020: Hasil CT Scan menunjukkan dia harus rawat inap.
18.06 Saturasi 98
18.12 Dapat rumah sakit dari siang tadi nyari
20.21 Sudah masuk kamar di Siloam Kelapa Dua. Bismillah lanjut perawatannya.
22.02 Saturasi 99
22.14 Diputuskan besok swab ulang untuk anak dan istrinya, adik saya satunya dan istrinya juga

16 Desember 2020: Gimana kondisi hari ini? Baik.

17 Desember 2020: Sudah makan? Sudah. Hasil visitenya gimana? Belum ada.

Kakaknya konten banget. Adiknya irit ngomong banget.

20 Desember 2020: Swab ulang istri adik Positif. Harus pisah kamar dengan Rafif. Mulai menangis karena nggak bisa bantu apa-apa dari Malang.

22 Desember 2020: Kondisi adik membaik, menunggu hasil swab. Sementara istrinya masih akan swab ulang lagi.

23 Desember 2020: Istri adik periksa ke poli covid. Hasilnya mild, kondisinya bagus. Termasuk skala ringan. Adik sudah diberi sinyal bisa keluar dari rumah sakit segera.

24 Desember 2020: Sudah boleh keluar rumah sakit, alhamdulillah.
28 Desember 2020: Adik ipar dan rafif sudah swab ulang
29 Desember 2020: Alhamdulillah negatif. Yay Lulus!

Mungkin seperti ini masa inkubasi virus Covid yang diderita adik ipar saya.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.