Pejalan Kaki dan Trotoarnya

Berjalan kaki itu seharusnya menyenangkan, seperti beberapa waktu belakangan saat saya dan Bazzeveritas mengubah kebiasaan makan siang dengan berjalan kaki beberapa blok sebelum makan. Melihat sudut perumahan tempat kantor saya berada dari pandangan pejalan kaki. Tidak ada trotoar memang, karena jalan perumahan ini cukup lebar dan sepi di bagian dalam. Tapi agak mengkeret kalau jalan di poros utama karena mobil dan motor berlomba menjadi yang pertama.

Hari ini rute perjalanan kami ubah sedikit. Keluar ke pinggir jalan besar jalur utama Arjosari – Gadang. Hasilnya? Jauh dari menyenangkan. Jantung berpacu dengan bunyi roda kendaraan. Ditambah klakson truk kontainer nyaring memekakkan telinga. Hanya 100 meter dan kami kembali masuk ke jalur komplek. IT IS SCARY AS HELL!

Bagaimana mau jalan dengan senang kalau setiap langkah terasa bahaya mengintai. Memang tidak ada trotoar di situ, tapi setidaknya apakah pengguna jalan itu ngga mau mengendurkan ijakan kaki di pedal gas melihat dua orang berjalan mlipir? Mungkin ngga ketabrak, tapi kesenggol dikit aja kan ya serem. Kesenggol truk kontainer –“….. Saya berjanji akan lebih bersabar diri untuk pengendara lain yang nyerobot sana sini, karena jantungnya pasti lebih kuat dari saya.¬†Saya berjanji akan lebih menghormati pejalan kaki yang juga bertaruh nyawa dengan pengguna jalan lain.

Dan masih ngga habis pikir, Afriyani the Xenia driver menyalahkan trotoar demi 9 nyawa yang disambar Xenianya-dalam-kondisi-fly.

Dunia semakin aneh.

 

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *