Warung Hujan on Progress

Setahun yang lalu, aku dan temen-temen, Xapi, Nora, Uyab, Dimas, Fanny, dan banyak lagi penasaran banget sama yang namanya Warung Hujan. Tersembunyi di jalan Saxofon, tembusan dari jalan Candi Panggung, Warung Hujan berdiri nyempil, asri dan nyaman. Gemericik air yang turun dari atap gazebo jatuh ke kolam ikan berisi ikan nila dan gurami siap dipancing. Sejuk. Tak kalah sejuknya, pemandangan di belakang warung hujan, masuk ke area trackingnya sungguh indah! Hijau terbentang padi di sawah. Disusul dengan lembah ke sungai yang curam. Diakhiri dengan jembatan baja yang menghubungkan wilayah Saxofon dengan Tlogomas. Hening. Sepi. Seperti hanya kita-kita yang ada di sana. Dan apalah artinya pemandangan indah tanpa foto-foto? Rugi bukan. Jadi lihat di sini.

Makannya? Bolehlah melalap ayam dan nasi goreng, digelontor dengan es beras kencur. Sedap bukan?

Akhir tahun ini, di Warung Hujan akan dilengkapi berbagai fasilitas alam. Gazebo dan danau buatan. Gubuk kecil tempat beristirahat di kala malam. Mendengarkan kicau jangkrik dan kodok di tengah sawah. Back to nature outbound facility. Dan tentu, wargame.

Minggu lalu bersenjata seragam lengan panjang, sepatu PDL dan rompi serbu (huhuhu ngga ada fotonya!!), mandi lumpur aku di sana. Memanggul senjata, bergerilya dengan pemuda setempat. Mencari bom untuk taklukkan Warung Hujan. Terperosok di dalam kubangan lumpur, jatuh bergelimpangan di sawah. Sepatu yang berangkat berwarna hitam mengkilat harus rela jadi cokelat. Baju yang licin disetrika, tak ada lagi bentuknya.

Ditutup dengan sepiring nasi goreng super pedas (katanya, tapi masih kurang pedes), dan segelas jeruk panas.

Di sana, di belakang warung sana, nanti kita akan berperang kawan. Ku tunggu kau di medan laga.

Sharing after reading, yes?

12 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *