Warung Pedas Tangkilsari, Biarpun di Pedalaman Juga Tetap Dicari

Nama warung pedas ini cukup famous di kalangan pecinta kuliner Malang. Apalagi jenis masakan pedas-pedas nggak manusiawi masih saja terus bermunculan. Padahal Warung Pedas Tangkilsari ini konon sudah cukup lama berdiri. Lokasinya sendiri cukup mudah dicari biarpun tempatnya masuk jauh ke dalam desa di pinggiran kota.

Cerita menu Warung Pedas Tangkilsari ini sebenarnya sudah saya susun sejak akhir Agustus 2016 lalu. Tepatnya setelah tubing-tubing ria kembali ke Sumber Maron bersama lebih banyak rombongan dan memutuskan untuk makan siang jelang sore ke sini sekaligus perjalanan pulang balik ke Malang. Kenapa demikian, karena jalurnya ke luar kota sehingga agak malas kalau nggak ada apa-apa terus diagendakan makan bareng-bareng ke sini :D.

Lokasinya tepat di jalur GOR Ken Arok Buring ke arah Bululawang kalau lewat jalan belakang. Begitu kami menyebutnya karena jalurnya melewati jalan raya di belakang perumahan sebagian besar anggota rombongan. Kalau sudah melewati warung Onde-Onde Tangkilsari yang tak kalah tersohor karena enaknya, berarti lokasi Warung Pedas Tangkilsari sudah sedikit lagi jaraknya.

Tepat di pertigaan yang ada pohon beringin di pinggir jalan, masuk saja ke situ luruuuuus terus sampai disemprit pak penjaga parkir. Itulah yang bikin takjub juga, pak parkirnya nuduh-nuduh aja mobil kami mau makan di situ dengan mengarahkan langsung ke spot yang kosong (padahal iya). Kami beruntung. Ternyata warung tutup jam 4 sore dan waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 3.

Biarpun enggak kebagian menthoknya yang famous, Warung Pedas Tangkilsari masih menyediakan bebek, ikan, dan cumi untuk dipesan. Urap-urap yang katanya enak juga itu sudah habis sih. Kata si embak yang ngitungin pesanan, warung dibuka sekitar jam 9 pagi. Itupun belum semua masakan siap dipesan. Tapi siang dikit warung sudah ramai pembeli sehingga mau nggak mau harus cermat memilih jam berkunjung.

Buat yang mau menantang kekuatan lambung dan pencernaan, bisa dipilih menu menthok, bebek, ikan nila, ikan tuna potongan, udang, lele dan masih banyak lagi. Masing-masing digoreng kering dan dicelupkan ke kuah pedas yang bener-bener isinya biji lombok semua. Konon, dalam sehari mereka memasak hingga 15 kilogram lombok rawit, dan puluhan-puluhan kilogram bahan lainnya seperti menthok, bebek, dan lain sebagainya.

Yang nggak suka pedas juga bisa kok makan dengan nikmat di sini. Seperti pilihan cumi itu sama sekali ngga pedas. Saya dong, biarpun pemegang rekor dua kali dirawat di RS karena sakit lambung masih tetap mau coba yang pedas. TAPI, nggak mau makan yang kena kuahnya. Cukup nitili dagingnya doang.

Sayang sudah jauh-jauh ke sana tapi nggak nyoba kan? Apalagi harga makanan di Warung Pedas Tangkilsari ini cukup murah untuk porsinya yang besar-besar. Paling mahal katanya sih cuma si kepala ikan yang harganya sampai 30k tergantung ukurannya. Si menthok sekitar 25k. Lagi-lagi tergantung ukuran. Sungguh jeli si ibuk yang melayani ya kalau ada penilaian khusus gitu.

Paling nggak karena pedes banget rasanya, cukuplah 1 porsi lauknya untuk nasi 4 porsi. Bukan ngirit, biar nggak sayang banyak bumbu Warung Pedas Tangkilsari yang kebuang. #Alibi.

Gimana? Masih mau coba kekuatan diri dengan menu-menu Warung Pedas Tangkilsari?

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *