Buah Juwet

Juwet, atau duwet di sebagian daerah manggilnya, panen sekitar perpindahan kemarau ke musim hujan. Itu hanya perkiraan saya aja sih berdasar pengalaman.
Tadi di salah satu liputan televisi ada satu pohon juwet saat panennya bisa menghasilkan 1 juta rupiah dengan harga 5 ribu per kilogram. Waw..kayak apa lebat buahnya ya. Berarti seharusnya juwet gampang dicari di pasar dong? Kenyataannya engga. Pasar deket ruma saya aja mungkin lupa bentuknya juwet.

Juwet emang merupakan salah satu kekayaan kenangan masa kecil saya. Empat tahun di pelosok desa di selatan Kota Malang yang penerangannya hanya mengandalkan mesin diesel dari jam 5 sampai jam 11 malam. Berarti saya mengalami 4x musim juwet di sana. Di sekitar komplek banyak pohon juwet dengan beraneka bentuk dan rasa. Bebas boleh diambil siapa saja.

Seragam putih merah sampai jadi ungu kantongnya karena setiap hari dijejali sangu buah juwet sambil pulang ke rumah. Ada 1 pohon yang sangat saya sukai karena pang-pang (dahan) kokoh bisa dipakai tidur-tiduran. Sayangnya, dia berada di jalur ke rumah kepala sekolah saya. Jadi tiap saya neduh di pohon itu harus angkut2 semua tas dan sepatu biar ngga malu anak cewek kok naik-naik pohon, pake rok lagi!

Sampai suatu ketika saya sudah di atas pohon dan teman masih ancik-ancik mau naik. Jreng jreng, kepala sekolah saya lewat dengan suara khas motornya. Sebenernya mungkin gapapa juga, tapi malu memang..
Tanpa babibu saya lempar tas ke bawah dan segera melorot turun dari pohon.
Apa daya pang yang masih muda di bawah itu ikutan patah, dan rok saya nyangkut di sana -.-”

Sejak hari itu, saya memutuskan berburu juwet di pasar saja.

(NengBiker/WP for BlackBerry)

Sharing after reading, yes?

15 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *