Architect, It Is

Ibu.

Pernah sangat jauh dari hari-hari saya. Pernah menjadi sosok yang menyebutnya saja bikin beban di pundak saya bertambah puluhan ton, rasanya.

Tapi, Ibu pula yang selalu mengikuti apa mau saya. Juga apa kata papa saya. Saat saya merasa ‘kepaksa’ ngikut pilihan papa, ibu yang menemani saya begadang nyelesaikan tugas menggambar arsitek. Bidang yang saya tau menempuhnya adalah setengah hati saya. Ibu tidak banyak bicara ketika saya memilih dunia laki-laki di luar tugas saya.

Ibu tidak mengeluh ketika membuatkan puluhan gelas teh dan kopi ketika teman-teman biker saya berkunjung ke rumah. Ibu tidak memprotes kenapa tugas akhir saya terbengkalai. Dan untuk ibu saya pula ijasah kelulusan Sarjana Arsitektur saya berikan.

‘Seharusnya downlight di rumah itu cukup pojokannya aja untuk menimbulkan efek dramatis fungsinya. Daripada tiga lampu berjejer malah rame’, komentar saya sambil lalu di jalan malam tadi sepulang dari rumah kakak.

Dan Ibu saya baru kali ini bertanya, ‘Kenapa ngga ngelanjutin arsiteknya aja? Kenapa milih dunia entertainment?’

JDUERRRR! Saya harus jawab gimana, temans?

(NengBiker/WP for BlackBerry)

Sharing after reading, yes?

13 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *