Old Skul Teacher VS Facebook

Sejenak pandangan mataku terhenti pada grup ‘Gerombolan Anak Pembenci Peraturan Sekolah Dan Anti Guru B.P’ yang muncul di salah satu notifikasi temen fesbukku. Apa-apaan ini?

Ada yang salah ya sama sistem pendidikan di Indonesia? Atau ada yang salah sama pola pendidikan ke anak didik sekarang? Atau kebebasan berekspresi anak sekarang sudah berlebihan?

As we know, fesbuk itu bener-bener menggila, walopun friendster sebelumnya bagiku itu juga uda menggila. Tapi fasilitas di fesbuk yang lengkap itu dimanfaatkan semaksimal mungkin sebagai ajang aktualisasi diri abg-anak baru gede dengan berderet bahasa aneh dan foto-foto aneh mereka itu. Apa yang mereka lakukan itu semata-mata mencari perhatian dari sesama teman, orang tua, bahkan guru mereka. Intinya, perhatian dari lingkungan itu sangat mereka perlukan.

Foto profil Gerombolan tadi pun cukup provokatif, liat aja taglinenya : Ikatan Pembenci Peraturan Sekolah ( tapi ga pake guru B.P).

Sayangnya, sebagian besar dari kita di lingkungan mereka cenderung menganggap bahasa aneh, foto aneh yang dipajang, curcol di wall, itu mengganggu. Dan mungkin harus dibasmi. Itu menurut kita. Menurut mereka bisa berbahasa lebih aneh dengan mengganti huruf k pake g, i pake y, itu keren. Semakin susah dimengerti, itu dua kali lebih keren. Sudut pandang yang berbeda ini sering bikin kita berbeda pendapat. Memerangi dengan meremove dari friend list? Bisa jadi itu dianggap kemenangan bagi mereka. Mungkin memang lebih baik meng-ignore saja ya… Mau ngga mau mereka akan terus memakai bahasa seperti itu sampai gelombang bahasa aneh itu mereda dengan sendirinya, sampai mereka bosen. Kalo ngga ngikutin gerakan itu, brati mereka ngga keren kan?

Be wise. Jaman 90an aku sekolah sma itu baju semakin gombrong semakin keren. Belum tentu dilihat orang yang umurnya di atas kita menganggap itu keren. Samalah dengan perbedaan pola pikir kita dulu dan pola pikir anak sekarang yang sepertinya semua fasilitas sudah tersedia. Mereka sekarang cenderung manja dan malas berusaha. Maunya selalu ingin dimengerti. Usaha keras itu uda ketinggalan jaman. Memang ngga semua berpikir seperti itu. Banyak yang terdidik di lingkungannya sebagai pekerja keras tentu akan mencari yang lebih dari yang telah disediakan oleh jamannya. Mereka semakin maju dan berprestasi. Sedangkan yang tidak terbiasa ditempa dengan lingkungannya ya itu, yang ngga bisa dimarahin lah, yang ngga bisa diatur lah.. Banyak deh pelampiasannya.

Sementara pula peraturan dan disiplin di sekolah tidak bisa menampung pelampiasan mereka. Guru-guru cenderung bersikap defensif dengan menganggap kalo mereka ngga ikut aturan ITU SALAH. Kalo mereka dateng telat ITU SALAH. Kalo mereka nakal, ITU SALAH. Ngga sedikit kan kita denger adanya penganiayaan guru terhadap murid. Lebay juga sih, karena murid-murid itu sebenernya tau mereka salah dan bikin gemes gurunya karena terus ngulangin kesalahan mereka. Hukum sedikit kenapa sih? Paling ngga bikin jera dan ngga ngulangin lagi. Eh ternyata hukumannya dilaporin ke polisi dengan kasus penganiayaan karena ortunya ngga terima anaknya dihukum. Ortu sekarang cenderung protektif sih. Menganggap uda bayar spp mahal (yang harusnya pendidikan gratis) trus anaknya kudu diajar dengan sesopan mungkin. Padahal dengan sikap seperti itu bisa kan anaknya jadi ngelunjak dan menganggap bisa ngapa-ngapain seenak udel di sekolah? Perbedaan pola pandang itu yang bikin pendidikan anak sekarang ngga sinkron.

Aku suka dengan pendidikan yang diterapkan di banyak pendidikan anak sejak dini sekarang ini. Tenaga pengajar sering berdiskusi dengan orang tua bagaimana perkembangan anak di rumah setelah jam sekolah, bagaimana pola pendidikan mandiri di sekolah yang mestinya juga diajarkan di rumah. Jadi anak ngga bingung perbedaan di sekolah ma di rumah karena bisa sinkron antara pendidikan guru ma ortunya. Sistem mandiri sejak dini itu seharusnya juga berlanjut di pendidikan selanjutnya. Namun seringkali sistem itu terputus di smp dan lanjut ke sma. Anak yang terbiasa mandiri sejak kecil dihadapkan pada guru-guru orde lama yang cenderung susah beradaptasi dengan gejolak anak tersebut. Ngga bisa disalahin juga sih sama guru-guru itu, toh mereka ngajar kek gitu anak didiknya bisa jadi ‘orang’ kan? Anak-anak yang ngga tertampung ini biasanya jadi ngga stabil dan menolak mengikuti aturan. Yang kayak gini dianggap nakal dan harus selalu berhadapan dengan guru BP aka bagian konseling. Di bagian konseling juga biasanya mereka selalu dianggap salah, jarang didengarkan keinginan mereka, suara mereka. Berontaklah mereka di berbagai bidang. Jadi bandel dan ngga mau diatur. Padahal mereka cuman perlu didengerin loh.

Gelombang curcol di fesbuk semestinya uda terendus sama guru-guru sekarang. Guru yang ngga ikut fesbuk jadi ga gaul di kalangan anak didik. Makanya pendidikan internet ke guru-guru itu perlu. Teknologi itu terus berkembang, jangan mau ketinggalan. Dengarkan apa kata mereka, dan sesuaikan cara mendekati mereka sesuai dengan perkembangan pola pergaulan mereka. Gerombolan Anak Pembenci Peraturan Sekolah Dan Anti Guru B.P mungkin ngga akan muncul jika kita bisa berpikir ala anak didik, abg jaman sekarang. Kalo anak didik ngga bisa curhat di guru yang semestinya mendengerkan mereka, mereka akan mencari sarana lain yang akan mendengarkan mereka. Kritis dan ngga mau kalah dari sesamanya sebenernya bisa diarahkan untuk bermacam aktivitas yang merangsang kegiatan berkompetisi di antaranya. Nanti sistem seperti itu akan membentuk mereka untuk terbiasa berkompetisi di dunia luar sekolah yang kejam.

Berkaca pada seorang teman yang dijadikan guru idola di sekolahnya, dia membawa teknologi ke dalam proses belajar mengajarnya. Teknologi digital sampai kembali ke jaman analog dia padukan agar murid yang diajarnya ngga hanya terpancang pada kapur dan papan tulis, proyektor dan layarnya. Basic pengalamannya pun sebenernya bukan dari sekolah mengajar. Dia programmer yang memiliki ketertarikan besar untuk berbagi ilmu yang dia punya ke generasi anak sekolah sebagai bibit yang berguna bagi negaranya kelak. Berbagai inovasi cara mengajar digunakan untuk menarik perhatian anak didiknya agar mau duduk sejajar mengeksplor berbagai ilmu pengetahuan dan mencari hal baru bersama-sama. Dia ngga menggunakan penggaris untuk menghukum, tapi terus mengajar pada jalur yang sudah ditetapkannya. Siapapun yang terlambat berarti tidak mendapat transfer ilmunya dan muridnya terpacu untuk mencari tau. Pancingan dengan membuat klub programmer hingga klub fotografi juga salah satu cara dia menyalurkan hobi sekaligus berbagi bersama anak didiknya. Gaul? So pasti. Dia menanggalkan batas antara guru dan murid dengan caranya sendiri, namun dia juga mendapat tempat di hati anak didiknya sebagai orang yang dihormati, berilmu tinggi dan bisa dijadikan ‘teman’ berbagi.

Guru punya fesbuk? HARUS. Saat fesbuk dikalahkan oleh jejaring sosial lainnya, guru-guru mau ngga mau harus pula menyesuaikan dengan itu. Bukan untuk gaya-gayaan antar guru, tapi lebih ke tanggung jawab di pundak merekalah generasi bangsa ini dibentuk.

Ortu punya fesbuk? HARUS. Di situlah mereka bisa mengerti dan mengikuti pergaulan anak mereka sehari-hari. Jika ngga bisa memahami apa itu fesbuk, cari orang ketiga yang bisa menjembatani pola pikir anak mereka, internet, dan ke gurunya. Di tangan orang tualah pola pergaulan mereka terbentuk.

Dan kita yang ngerti gerombolan itu muncul mestinya jangan menganggap itu anarki. Turunkan sedikit derajat berpikirmu ala mereka dan pahami keinginan mereka untuk dimengerti sampai waktunya nanti mereka akan terbentuk untuk mengerti sebenernya yang mereka lakuin itu disturbing.

Fesbuk boleh jadi ajang aktualisasi diri asal jangan mengganggu, hihihi. Seperti taglineku, asal lu kagak senggol gw.


Sharing after reading, yes?

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *