gejala omicron gimana rasanya

Gejala Omicron Datang Juga, Kok Bisa Nggak Ketularan Ya?

Serumah resmi isoman pada akhir Agustus kemarin. Sepi-sepi aja nggak ramai ribut-ribut karena anak-anak memang sudah saya ijin sakit sejak seminggu sebelumnya. Bagaimana engga, medical claim setiap bulan isinya batuk batuk batuk mulu. Baru sembuh masuk sekolah batuk lagi, ya karena temen-temennya yang batuk tetap masuk. Capek juga miminya antri ke dokter selama tiga bulan belakangan. Namun keputusan untuk swab antigen sebelum eyang-eyangnya berangkat ke Jakarta memang keputusan yang tepat.

Saat anak-anak diliburkan kebetulan di waktu yang sama saya outing dengan tim sedivisi. Dari Jakarta dan Malang berkumpul di Jogja berangkat Kamis pulang Sabtu. Kebetulan juga salah satu teman sebelum berangkat sempat mengantar adiknya yang demam ke rumah sakit. Di tengah perjalanan saat berhenti makan siang, dia mendapat kabar hasil swab adiknya positif. Ke enam orang yang sedang makan bareng langsung berpandang-pandangan. Sorenya dia secara mandiri swab antigen dan hasilnya negatif. Dia mengulang terus selama tiga hari dan tetap negatif.

Tiga hari beramai-ramai kami semua sehat tanpa gejala. Namun di malam terakhir selepas bermain di Merapi, teriak-teriak offroad dan berbasah-basahan nyemplung sungai, suara saya habis. Di villa saya hanya berkumpul sebentar dan memilih masuk kamar lebih cepat sambil scroll-scroll Tokopedia karena kehabisan celana setelah kena air sungai. Besoknya tenggorokan masih disiksa dengan satu cone Tempo Gelato dan es Jeruk sebelum berpisah pulang. Sampai rumah saya nggak bisa ngomong.

Di rumah sedang ramai adik-adik datang dari Jakarta karena salah satunya mau berangkat ke Inggris. Senin rumah sepi kembali. Rabu pagi adik mengabari istrinya PCR +. Bapaknya anak-anak langsung saya minta swab karena dia juga masih aktivitas di luar rumah, hasilnya -. Setelah berembuk, kakak memanggilkan petugas lab untuk swab seluruh orang rumah pada hari Kamisnya. Saya, Pipinya, dan Gaga negatif, sementara Papa dan Mama langsung positif dan Sasi garis positifnya sudah samar.

Wkwkwkwkwkwkwk, padahal kami di rumah nggak pernah maskeran. Jadi pas anak-anak batuk ya semuanya juga jadi batuk. Sebelum swab pun kami semua sarapan pagi bareng-bareng, anak-anak berbagi sendok yang sama suapannya seperti hari-hari kemarin.

Boleh heran tapi ini nyata.

Gejala omicron yang nyata tampak ya batuk-batuk itu saja. Anak-anak kadang pilek juga tapi yang dewasa engga. Linu, demam, nggreges, tidak ada. Beruntung memang yang dewasa sudah vaksin dan booster semua. Alhamdulillah Papa Mama pun tidak mengalami gejala apapun selain batuk karena ya dugaan kami tertular dari anak-anak juga.

Hari ini sudah 10 hari lebih ya. Kami nggak menghitung secara pasti masa isoman karena ya nggak keluar rumah sudah jadi kebiasaan tanpa disadari setelah dua tahun pandemi. Apalagi setelah nggak ada mobil. Dahlah anteng kerja dari rumah juga. Hanya suami yang karena nggak ada alasan untuk ijin saja yang masih kerja di luar dengan perjanjian tidak boleh buka masker sembarangan.

Soal makanan selama isolasi mandiri nggak perlu diramaikan juga. Alhamdulillah untuk urusan belanja dimudahkan dengan kiriman dari kakak. Beras, mie, galon air, gas, semua juga bisa dipesan secara online di langganan Alfagift tanpa langsung bersentuhan dengan kurirnya. Bahkan saya sempat praktek bikin Risol Mayo Margo juga dengan bahan-bahan yang cukup discroll dari Tokopedia.

Cukup jadi pembelajaran saja. Imbauan untuk tetap memakai masker itu tetap didengar ya karena lingkup keluarga pun jadi simpul penularan paling kecil dan nyata adanya.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.