pembangunan malang heritage

Malang Macet!

Kalau dipikir-pikir, pada jam tertentu setiap harinya, dan hari tertentu setiap minggunya, Malang macet ini sudah biasa. Setiap pagi sebelum jam masuk sekolah dan pulang sekolah. Setiap jam makan siang dan jam pulang kantor. Juga setiap weekend. Sejak beberapa bulan yang lalu, keluhan Malang macet hampir setiap saat setiap waktu. Ditambah dengan pembangunan Malang heritage beberapa hari lalu.

Seharusnya proyek Malang Heritage sudah dimulai sejak April 2020. Akibat pandemi, pembangunannya agak tersendat dan baru serentak dilakukan lagi dengan langsung menutup beberapa persimpangan jalan protokol mulai tanggal 9 November 2020. Bencana kemacetan di mana-mana pun dimulai.

Sebelumnya, warga Malang sudah cukup tersiksa dengan ditutupnya jembatan Kedungkandang karena proyek pembangunannya dilanjutkan kembali. Arus kendaraan ke arah Selatan hampir semuanya dialihkan ke poros Gadang. Akibatnya, Gadang yang sudah macet itu semakin macet setiap harinya. Baik dari arah kota Malang, dari arah Kendalpayak, juga dari arah Kacuk. Belum lagi main srobot-srobotan yang membuat deadlock di tengah perempatan Gadang.

Jalur neraka ini sempat saya rasakan sendiri ketika mengantar adik ipar pulang ke Krebet. Ibunya waktu itu sedang sakit karena kanker kelenjar getah bening yang dideritanya. Berangkat sesudah ashar, pulangnya terjebak sampai isya’ karena ada mobil yang nyelonong di lampu merah. Menyebabkan semua orang tidak mau mengalah. Yang bisa dikeluarkan cuma sumpah serapah.

Kondisi macet luar biasa saya alami kembali ketika tidak lama kemudian ibu adik ipar meninggal dunia. Sore hari sebelumnya adik dan ipar tiba di Jakarta dengan menyetir sendiri setelah seminggu menemani ibunya, paginya terbang dengan pesawat di penerbangan pertama. Siang hari semakin parah kondisi jalan di Gadang itu. Setelahnya saya belum pernah lagi ke arah sana sejak kejadian awal-awal pandemi itu.

Sebenarnya nggak papa sih macet, saya nggak tahan sama emosi jiwa aja ngeliat orang serobot-serobotan. Makanya ketika pembangunan Malang heritage dimulai, saya lebih menyabarkan hati untuk anteng di rumah. Karena pembangunannya agak-agak geje juga sih.

Seminggu sebelum dimulai tanggal 9 November 2020 itu, dinas-dinas terkait sudah memberi tahu bahwa jalan akan ditutup, dan perkiraan imbasnya ke mana saja. Jalan yang ditutup itu jalur protokol jalan Basuki Rahmad dari Kayutangan sampai pertigaan PLN.

Tapi, tidak ada jalan yang ditutup waktu itu. Sebenarnya masyarakat juga sudah bersiap-siap mencari jalur alternatif bagi yang harus melintasi daerah yang ditutup. Tapi tidak ada jalan yang ditutup.

Bencana macet luar biasa itu dimulai sejak tanggal 9 November 2020. Tanpa pemberitahuan lagi, di mana masyarakat sudah agak tenang berarti pembangunan apa nggak jadi dilakukan? Suami sempat bilang, apa dibangunnya malam hari ya jadi pagi sudah bisa dilewati lagi. Tapi nggak terjawab juga karena kami nggak pernah lewat jalan itu, tepat di hari-hari itu.

Di hari H proses pembangunan mulai tanpa aba-aba, tiba-tiba saja timeline Twitter dipenuhi omelan Malang Macet, Malang Macet, Malang Macet. Lewat sana ditutup, lewat sini ditutup, arus dialihkan ke sini. Dan jalan penyangga pun dipenuhi kendaraan. Motor aja mandeg, apalagi mobil. Parkir di jalan kayaknya.

Semua keriuhan jalan raya itu saya nikmati dari rumah saja. Sambil ketik-ketik bekerja. The perks of work from home permanently. Ngga wfh juga arah ngantornya berbeda dengan simpul kemacetan pembangunan Malang heritage. Di lain sisi, suami yang putar otak mencari jalan untuk ke kantornya.

Kami berdua WFH tapi WFH kami berbeda. Saya dari rumah nggak ke mana-mana. Dia dari rumah dinas. Sama-sama bekerja dari rumah. Beruntung jalan ke kantornya tidak searah dengan kemacetan akibat pembangunan juga, hanya memotong dan bertemu di satu jalan aja. Setiap hari isinya laporan pandangan mata di jalan berangkat dan pulang.

Bagi suami, dampak ditutupnya jalan itu hanya membuat jalurnya memutar sedikit. Bagi ribuan orang lainnya, dampaknya berbeda. Seorang teman baru saja membuka restonya beberapa hari sebelum pembangunan dimulai. Lokasinya di Jalan Semeru dekat pusat pembangunan Malang heritage. Akses jalannya ditutup.

Akhirnya restonya pun terdampak karena pelanggannya tidak boleh masuk. Dia sempat mengeluarkan unek-uneknya di Komunitas Peduli Asli Malang, dan mendapat dukungan dari netizen yang tergabung di sana. Bagaimana dengan Hotel Whiz, Indomaret, Ahass, Yamaha, Bank Sinarmas, BCA, BNI, Siomay Telkom, Tahu Campur, dan toko-toko sepanjang jalan yang ditutup? Mereka yang nggak bisa bersuara di dunia maya dan hanya menunggu kapan jalannya dibuka?

Apakah ini sudah dipikirkan dan apakah mereka mendapat ganti rugi yang setara sebelum pembangunan dimulai ya? Apalagi pembangunannya yang dijanjikan dilakukan 24 jam agar memenuhi tenggat waktu, ternyata tidak dilaksanakan sepenuhnya seperti itu. Bapak Walikota sendiri yang menemukan fakta di lapangan. Begitu juga teman-teman yang ikut rutin memantau. Saya lagi-lagi hanya di rumah saja.

Proyek pembangunan Malang Heritage tersebut dimulai 9 November, untuk penataan ulang koridor Kayutangan. Koridor tersebut akan dibuat menyerupai Malioboro di Yogyakarta, atau Jalan Braga di Bandung dan Ditarget rampung pada 20 Desember. Pendanaan proyek pembangunan Malang Heritage di kawasan Kayutangan tersebut, sebagian besar berasal dari pemerintah pusat yang disalurkan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), dengan total mencapai Rp 23 miliar.

Suatu malam saya kepengen banget keluar rumah. Sekalian beli sabun mandinya anak-anak karena tokonya hanya ada di mol. Bisa belanja online sih sebenernya. Ya ngecek jalanan juga. Kami berangkat lewat Alun-alun, rencananya masuk ke jalan Kawi lalu belok ke jalan Bromo dan masuk mol dari arah jalan Semeru.

Ternyata arah ke Alun-Alun dari jalan Blok M dibelokkan ke kiri memutari belakang Bank Indonesia. Lurus ke arah Kantor Pos bisa belok kanan ke Kauman. Lalu ke Talun, belok kiri ke Kawi. Belok kanan di Jalan Bromo. Dari sana sesuai rencana masuk MOG dari arah Semeru. Aman.

Pulangnya saya bingung tadi waktu berangkat, kendaraan yang berpapasan di Blok M lewat mana ya. Karena jalannya ditutup full dan dijaga polisi ke arah Alun-alun. Setelah melewati lampu merah baru terlihat kalau bisa belok kiri dari Hotel Richi lalu masuk ke jalan Blok M langsung menuju Tugu. Saya kelewatan dan pulangnya lewat Gatot Subroto. Sepi jam 7 malam itu. Berbeda kalau matahari masih tinggi, macetnya bikin emosi.

Pagi ini tanggal 17 November 2020, masyarakat Malang digemparkan dengan ditemukannya jalan tembus lewat parkiran pertokoan!

Jalur Avia x Pullman x Indocell ini benar-benar penemuan terbesar yang menjadi hidden gems selama pembangunan Malang heritage belum kelihatan ujung-ujungnya kapan selesai. Video dashboard cam Yi Cam itu dipublish akun radio cityguide911fm untuk pertama kalinya.

Benar-benar heboh. Video ini kemudian viral di whatsapp grup sana sini. Saya pun ikut nyetori di Instagram. Jadi di antara Pullman dan Indocell ada lorong yang menghubungkan parkirannya. Tapi masih jadi pertanyaan itu keluarnya di Parkiran Indocell atau bangunan mangkrak yang dirubuhkan di samping Indocell. Bayar seiklasnya untuk yang mengatur lalu lintas di jalan baru karena memang hanya cukup dilalui 1-1.

Sorenya saya berniat mencoba rute tersebut. Ndilalah rame banget, hahahahhahahahahhahahaha. Belok ke arah Tugu mau ke Blok M dan ke arah Dieng mau membeli Haup Burger milik Rizki Boncell yang baru launching pun urung. Ujung antrian kendaraannya sudah muntup-muntup di depan Stasiun Kota Baru, hahahahhahahahhahahaha.

Balik kanan dan pulang.

Beruntung Sawojajar sudah banyak fasilitas umum dan jajanan lengkap yang dapat menampung aspirasi belanja warganya.

SAYANGNYA, DI SAWOJAJAR JUGA SEDANG ADA PENGGALIAN SALURAN DRAINASE. HADAH BOSSS, JALAN UTAMA DITUTUP, JALAN DI DALAM JUGA DIJEBOLI ESKAVATOR SEGEDE GABAN.

Bahagia banget ini pemerintah mbongkar jalan barengan.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *