silent treatment

Silent Treatment. I Just Knew.

Twitter bukan tempat sampah. Kalau biasanya asal posting what are you thinking dan cuma komen tentang Among Us, ada baiknya sesekali membaca thread-thread pengetahuan yang bukan spill the tea. Pengetahuan bagi saya, bukan selalu ilmu baru bagimu juga sih. Tapi saya baru tahu soal Silent Treatment.

Apa itu?

Dari thread Jiemi Ardian,

Silent Treatment: Penolakan untuk berkomunikasi secara verbal dengan orang lain yang mau berkomunikasi. Mulai dari sekadar merajuk hingga perilaku yang kasar. Mungkin bentuk abuse emosional pasif-agresif.

Jadi begini.

Saya pernah menjadi pelaku. Juga pernah menjadi pendengarnya. Bertahun yang lalu ketika saya belum memiliki kemampuan untuk mengungkapkan pendapat baik secara verbal maupun tulisan, saya bisa mendiamkan seseorang berhari-hari lamanya. Ini saya sadari sendiri karena kebetulan sedang berpacaran dengan orang yang talkative. Alias ya nggak heran sekarang jadi pengacara, dia bisa mengemukakan pendapatnya dengan sangat baik.

Saya kira saya pendiam.

Ternyata saya tidak bisa mengungkapkan apa yang ada di kepala dalam kalimat verbal. Waktu itu belum kenal blog, belum ada Facebook dan Instagram apalagi Twitter. Saya pernah melewati masa-masa menulis di buku diary bergembok lalu melupakan proses ini sampai bertemu pacar saya yang itu.

Setiap tidak sepaham, atau bertengkar, atau ya biasalah bengkerengan antar pasangan, saya diamkan dia. Yang sekarang saya tau namanya, silent treatment agar dia bisa mengerti sendiri apa yang sebenarnya saya mau. Dia sampai menyerah dan bertanya ‘Kamu maunya apa?’ ya tetap saya bisanya diam. Di otak ada berbagai kalimat yang berkecamuk tapi tidak bisa diungkapkan. Untungnya dia sabar.

Dari dia saya belajar. Sedikit demi sedikit bicara. Membicarakan apa saja untuk mengungkapkan apa yang ada di kepala. Belajar berargumen juga saya dapatkan dari dia. Pada akhirnya ketika bisa berdebat, saya tahu silent treatment yang pernah saya pakai agar dia mengerti, tidaklah benar untuk dijadikan senjata dalam suatu hubungan.

Dan saya super duper senang ketika selesai berdebat dia mengucek-ucek rambut di kepala ini tanda mengerti apa yang ingin saya ungkapkan.

Di lain sisi, Jiemi Ardian juga menambahkan bahwa silent treatment bisa dimasukkan kategori abusive jika:

  • tujuannya untuk menyakiti
  • diamnya berlangsung panjang
  • silent treatment diakhiri sesuka subjeknya
  • ngomong sama orang lain tapi ngga sama pasangan
  • cari sekutu
  • menggunakan diam untuk menyalahkan dan membuat guilt
  • manipulatif
    Saya ndak termasuk to? Dan saya sudah belajar untuk mengatasi kelemahan itu. Karena menjadi pendengar dari pelaku Silent Treatment itu tidak enak.

Abusive Silent Treatment

Pernah nggak ada orang yang jelas-jelas melakukan kesalahan dan mendiamkan kamu? Benar-benar mendiamkan meski kamu ada di depannya, meminta penjelasannya, menghubungi lewat hp dan tidak pernah dijawab atau diangkat teleponnya. Bahkan hingga hari ini pun kamu nggak pernah dijelaskan duduk perkara masalahnya.

Saya pernah. Hampir sejak menikah. Sampai detik saya menulis ini.

Berulangkali kesalahan yang sama dia lakukan. Ber. Ulang. Kali. Ketika dituntut penjelasannya, dia melarikan diri. Literally. Meninggalkan rumah. Menghilang. Mendiamkan saya berhari-hari sampai saya capek sendiri dan mengajaknya bicara lagi. Sama sekali tidak menjelaskan mengapa melakukan kesalahan yang sama. Ber. Ulang. Kali.

Pada dasarnya saya juga punya andil dalam masalah ini. Kenapa hanya diamkan saja dan tidak mengambil reaksi? Karena saya tahu, di luar sana dia adalah sosok yang pengertian, mampu mengungkapkan pendapat dengan kepala dingin, dan bisa menghadapi orang yang dalam emosi terpanas sekalipun. Mbokya sama istrinya juga berlaku yang sama.

Mengapa sekarang saya bilang itu abusive? Karena di balik itu dia bisa ngomong sama orang lain. Sama perempuan lain. Dan itu masalahnya yang terjadi berulang.

Later I give up.

Setelah 4 tahun berjibaku dalam masalah yang berulang. Saya memang tidak berkonsultasi dengan psikolog. Saya tahu masalah saya di mana. Yang tidak saya ketahui adalah masalah dia sama saya karena selalu diam. Berhari-hari dia mampu. Terakhir dua bulan berpisah, ya dia juga mampu untuk tidak menghubungi saya.

Later he asked to comeback.

How to Avoid Silent Treatment

Jangan menjadi salah satu pelakunya. Itu saran saya. Karena ketika kamu mengalami di posisi pendengar setelah selama ini menjadi pelaku, rasanya jauh lebih tidak enak. Karena kamu sudah belajar untuk tidak melakukannya.

Sedangkan menghadapi orang-orang dengan kecenderungan abusive silent treatment itu bisa dimulai dengan saling sharing. Bercerita tentang apa saja. Ajak dia untuk mengungkapkan mulai dari hal yang sederhana. Mau makan apa. Kalau jawabannya terus-terusan terserah, wajib waspada pada kemungkinan dia akan diam ketika menghadapi masalah.

Kecuali kecenderungannya memang pendiam. Bukan talkative di satu sisi tapi diam ketika menghadapimu. Dia hanya memang lebih senang diam.

Jangan Bermimpi Mengubah Orang Lain

Kalau bukan dari dirinya sendiri, mengubah kecenderungan pelaku silent treatment itu bagaikan mimpi. Saat bangun ternyata tidak ada yang berubah.

But, it happens to all character too. Jadi, bersikaplah yang baik pada semua orang. Dari dirimu sendiri kamu bisa menghindari untuk menjadi pelaku maupun menjadi pendengar silent treatment.

Jika memang membutuhkan waktu untuk diri sendiri, ungkapkan. Jangan hanya diam.

Jika memang tidak menyukai perlakuan yang kamu terima, ekspresikan. Jangan hanya dipendam.

Jika memang ingin pergi dari sebuah keadaan, lakukan. Menunda hanya membuat hati tertekan.

Jika memang masih cinta, buktikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *