Sekarang Saya Tahu Rahasia Batik Gentongan

Batik Gentongan dikenal masyarakat pecinta batik sebagai batik yang penuh misteri. Walau proses membatiknya sudah diketahui masyarakat luas, namun semua masih berbalut pertanyaan, kenapa butuh waktu berbulan-bulan untuk membuat selembar batiknya?

Bersama Cultural Trip Potret Mahakarya tahun 2013, saya mengunjungi Madura untuk mencari tahu rahasia-rahasia yang tidak tercatat oleh masyarakat sampai saat ini. Madura masih dikenal sebagai pulau penghasil garam, pulau karapan sapi, dan yang terbaru adalah pulau dengan jembatan Suramadunya yang fenomenal. Salah satu tempat lain yang paling banyak dikunjungi adalah sentra batik gentongan yang terkenal dengan warna-warnanya yang berani dan goresannya yang halus, serta proses pembuatan batiknya yang misterius.

Salah satu sentra batik yang dikenal adalah Zulpah Batik di Tanjungbumi. Zulpah batik memiliki galeri batiknya sendiri yang dikumpulkannya dari masyarakat sekitar. Ditemani Pak Alim, kami bertanya ini itu sembari diceritakan tentang legenda batik gentongan yang beredar di masyarakat. Sebelum mengetahui ceritanya lebih jauh, kami diperlihatkan berlembar-lembar batik gentongan dari yang masih proses sampai yang sudah jadi dan harganya jutaan rupiah per lembarnya.

Kiprah pak Alim mengembangkan batik gentongan khas Tanjungbumi memang tepat waktunya. Awalnya dia memang tidak menggeluti batik sama sekali, dan memilih berkarir sebagai trainer dari sekolah ke sekolah. Tahun 2008 pak Alim mulai tergerak hatinya untuk mengurus usaha batik peninggalan sang ayah. Pemilihan waktu yang tepat karena setahun kemudian di 2009 batik diresmikan UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Masyarakat Indonesia pun berlomba-lomba menyelamatkan batik Indonesia. Ditambah Malaysia hendak mengklaim kekayaan asli Indonesia ini, semakin menjadi-jadi pula keinginan mempertahankan batik Indonesia.

Padahal batik di wilayah Indonesia sudah ratusan tahun umurnya. Di Tanjungbumi sendiri sebagai sentra batik, batik gentongan yang terkenal sudah turun temurun diturunkan dari generasi ke generasi. Awal mula masyarakat Tanjungbumi membatik dipengaruhi oleh kultur pesisir dengan para lelakinya yang bekerja sebagai pelaut. Untuk mengisi waktu ketika ditinggal selama berbulan-bulan lamanya, para istri memilih membatik agar dapat mengurangi rasa gelisah. Lambat laun batik Tanjungbumi mulai terkenal dengan bumbu pengerjaannya yang membutuhkan waktu bertahun lamanya demi selembar kain batiknya karena harus diwarnai berbulan-bulan di dalam gentong. Apakah legenda ini bohong?

Tidak juga.

Benar, batik gentongan dari Tanjungbumi membutuhkan waktu berbulan-bulan. Proses yang lama ini bukan karena pengerjaan batiknya, tetapi para istri yang melukis batik tidak diburu deadline untuk menyelesaikan pengerjaannya. Oleh karena itu, batik Tanjungbumi dikenal halus dan cantik motif batiknya. Seperti kita jika melakukan pekerjaan tanpa tekanan, bukan?

Benar, batik gentongan membutuhkan proses berbulan-bulan, tapi tidak untuk diwarnai lebih lama di dalam gentong. Batik gentongan melalui beberapa proses dari menggambar motif, pengisian motif, penutupan motif, dan pewarnaan latar, pelorotan lilin, baru dilakukan pewarnaan utama di dalam gentong. Keunggulan pewarnaan di dalam gentong adalah biang warnanya terhindar dari sinar matahari yang bisa merusak proses pewarnaannya.

Hingga hari ini, galeri batik Zulpah telah memiliki 55 motif batik yang tercatat rapi di buku katalognya. Setiap motif memiliki ciri khas gambarnya yang halus namun warnanya kuat terpancar. Dan dijamin tidak ada batik yang sama persis 100% hasilnya meskipun motifnya sama. Bukan karena quality controlnya yang buruk, tapi itulah ciri khas dari batik tulis. Hasilnya tergantung dari goresan tangan yang menorehkan garis di atas kain bakal batik.

Batik tulis Zulpah adalah beberapa dari galeri yang ramai di Tanjungbumi. Mendalami dan melestarikan batik memerlukan pengamatan jitu tentang bakat-bakat yang tersebar di lingkungan. Begitu juga yang dilakukan Pak Alim ketika mengembangkan seni batik di Tanjungbumi. Apalagi semua pebatik di Tanjungbumi adalah perempuan yang juga memiliki kesibukan domestik sebagai istri dan membatik ketika ada waktu luang. Pak Alim harus jeli melihat bakat ibu-ibu dari yang pandai menggambar, pandai mengisi motif, hingga pandai mewarna. Dengan memilih tangan mana yang akan mengerjakan prosesnya masing-masing, Pak Alim akan mendapatkan hasil batik yang jauh lebih baik.

Dan kita sebagai konsumennya tentu jauh lebih diuntungkan. Berkunjung dari jauh dengan ekspektasi menguak rahasia batik gentongan kemudian berhasil membawa setumpuk batik legendaris dengan harga yang masuk akal, tentu memuaskan sekali! Jadi, cobalah temukan sendiri rahasia batik gentongan di Tanjungbumi, dan puaskan dahagamu dari pengetahuan yang mungkin tidak kamu dapatkan di tempat lain.

Sharing after reading, yes?

16 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *