Merekam Jejak Cultural Trip #PotretMahakarya ke Madura

Madura hanya seperjengkalan dari Malang. Dengan motor atau mobil, Madura sudah lebih mudah dijangkau atau bisa dengan menumpang kapal. Dulu saya enggan menginjak tanah Madura, kini saya ingin mengajak semua berkunjung ke Madura.

‘Sampiyan stereotype, mbak..’ kata @mamatgate, rekan kerja saya yang berasal dari Sampang, Madura. Ketika diumumkan menjadi salah satu pemenang #PotretMahakarya dan mendapat Cultural Trip ke Madura, saya memang banyak mlipir bertanya ke @mamatgate. Excited sekali dengan perjalanan ini, namun banyak juga keraguan mengingat image ‘Madura’ begitu buruknya di memori saya. Sampai @mamatgate memberikan cap stereotype untuk pertanyaan-pertanyaan yang khas ditanyakan tentang Madura.

Terbukti, Madura memang tidak seperti yang dibayangkan sebagian besar masyarakat Indonesia. Adalah tujuan #PotretMahakarya untuk membagikan informasi langsung dari lokasi tentang keindahan Madura baik dalam tulisan maupun foto agar dapat dilihat sampai generasi kita berikutnya, dan dapat diteruskan ke generasi berikutnya lagi.

Jumat pagi, tim #PotretMahakarya telah berkumpul di Bandara Juanda. 21 orang dari Jakarta, 1 orang dari Surabaya, dan 1 orang lagi dari Malang. Rombongan langsung bergerak menuju Madura via Jembatan Suramadu yang menjadi icon Pulau Madura. Kemegahan jembatan ini saja sudah membuat image Madura yang ‘udik’ menjadi modern. Lewat Twitter saya melaporkan perjalanan melewati jembatan Suramadu, dan ketika mengisi perut di Bebek Songkem karena Bebek Sinjay yang ctar membahana namanya tutup jelang salat Jumat.

Puas di Bebek Songkem, jelajah #PotretMahakarya bergerak menuju Bangkalan untuk melihat mahakarya Batik Gentongan yang masih diliputi misteri. Batik Gentongan dikenal masyarakat pecinta batik sebagai batik yang penuh misteri. Walau proses membatiknya sudah diketahui masyarakat luas, namun semua masih berbalut pertanyaan, kenapa butuh waktu berbulan-bulan untuk membuat selembar batiknya? Simak jawabannya di

Sekarang Saya Tahu Rahasia Batik Gentongan

Hari sudah sore ketika mata kami terpuaskan oleh keindahan batik tulis gentongan yang diproduksi di Tanjungbumi. Kantong belanja juga sudah terisi. Perjalanan dilanjutkan menuju Sumenep untuk menikmati Topeng Wayang Orang Madura. Kami beruntung bisa menyaksikan mulai dari persiapan, saat petasan diledakkan, hingga di depan panggung pertunjukan, karena Topeng Wayang Orang ini hanya dilakukan setiap hari Jumat ke tujuh dan pada saat syukuran desa dilaksanakan. Foto-foto di timeline om @barrykusuma menyuguhkan keindahan dan kehalusan seni budaya Madura.

Jejak #PotretMahakarya di pagelaran Topeng Wayang Orang tampaknya terkendala oleh sinyal SOS di lokasi. Kami jadi lebih menikmati gerakan tari Gambu Tameng sampai tari Klono dan saatnya kembali ke Sumenep. Pagelaran Topeng Wayang Orang ini bakal berlangsung sampai subuh untuk menghibur warga setempat. Dan timeline #PotretMahakarya kembali menghangat setelah koneksi didapat kembali.

Perjalanan ke Keraton Sumenep di hari kedua terekam dengan lancar di timeline. Lokasinya yang di tengah kota memudahkan #PotretMahakarya terposting sempurna. Bergantian foto-foto cantik Keraton Sumenep muncul di timeline. Kerajaan yang pernah berpindah beberapa kali sebelum menetap di Sumenep ini telah muncul di era tahun 1200an, sementara keratonnya baru berdiri pada tahun 1800an. Di berbagai sudut Keraton Sumenep, terlihat akulturasi budaya Tiongkok, Eropa, Jawa dan Madura pada eksterior maupun interior bangunan keraton.

Kompleks bangunan Keraton Sumenep terjaga keasliannya dan tetap terasa asri dengan beringin tua yang telah berumur ratusan tahun di samping pendopo yang juga menaungi area Taman Sare, pemandian para putri. Konon menurut informasi, Ayu Azhari pernah mencoba berenang di pemandian tersebut agar mendapat khasiatnya awet muda serta mudah mendapatkan jodoh atau keturunan. Hasilnya bisa kita lihat sendiri di infotainment.

Jejak #PotretMahakarya  kembali riuh di tujuan kedua hari ini, Masjid Jami Sumenep. Foto-foto @dananwahyu yang epic dan cantik menggambarkan kemegahan Masjid Jamik seutuhnya. Masjid Jamik Sumenep merupakan salah satu bangunan 10 masjid tertua dan mempunyai arsitektur yang khas di Nusantara (wikipedia). Kami tiba tepat tengah hari ketika adzan dhuhur berkumandang. Berbondong-bondong masyarakat Madura di sekitar masjid memenuhi panggilan salat. Sementara di pojok selatan dekat cemara udang, seekor kucing putih totol hitam tampak lelap menjalankan ibadah tidur siangnya.

Usai menjalankan ibadah salat dhuhur, #PotretMahakarya bergerak ke Asta Tinggi, makam para raja Sumenep. Somehow perjalanan ini mengingatkan saya pada arti hidup pada kehidupan dan arti mati dalam kematian yang abadi.

Mendung berat menggantung di langit Asta Tinggi begitu #PotretMahakarya menginjakkan kaki di pelataran parkirnya. Efek langit gelap dan bangunan makam berpadu menarik untuk diabadikan di timeline.  Asta Tinggi sendiri bukan hanya sebuah komplek makam kerajaan tetapi juga sebuah simbol kejayaan Sumenep masa lampau dan lebih dari itu Asta tinggi merupakan cerminan cita rasa seni yang tinggi dari masyarakat di sana (plat-m.com).

Di Asta Tinggi saya banyak mengabadikan macam bangunan yang tersebar di bagian barat maupun di bagian timurnya. Menurut legenda, tembok bangunan Asta Tinggi hanya tersusun dari batu kapur tanpa dilekatkan oleh semen. Tembok tersebut masih tersusun rapi sampai hari ini, membuktikan mahakarya arsitek jaman kerajaan yang terkenal dengan kehebatan ilmunya hingga bertahan sampai ratusan tahun umurnya.

Mendung yang menggantung di Asta Tinggi pun menjadi hujan tepat ketika kami berlompatan memasuki mobil untuk menuju desa Aeng Tong-tong.  Desa ini adalah satu-satunya desa penghasil keris namun paling terkenal di Pulau Madura, yang menorehkan serat di sejarah ketika para Raja di Sumenep mempercayakan pembuatan kerisnya pada penduduk setempat. Membuat keris berlapis emas dengan pamor yang indah adalah keahlian para ’empu’ desa Aeng Tong Tong.

Konon katanya Tommy Soeharto pernah berkunjung dan minta dibuatkan keris seharga 100 Milyar rupiah. Keris dari desa Aeng Tong Tong memang istimewa. Kehalusan hasil karyanya tidak hanya sampai di keris, tapi sarung kerisnya pun dibuat dengan cita rasa seni dari kayu yang berkualitas tinggi. Itulah yang membedakan keris pulau Madura dengan daerah lainnya. Coba intip timeline @barrykusuma, foto keris di timelinenya bisa bikin kamu menelan ludah saking indahnya.

Hujan gerimis mengundang rasa kantuk yang kuat ketika kembali ke Sumenep. Akhirnya gagal sudah rencana menikmati cemara udang di pesisir pantai Madura. Sebagai vegetasi alam, cemara udang termasuk salah satu mahakarya Indonesia karena perjalanan panjangnya menuju pantai Madura. Konon sejarah menulis, adanya cemara udang di Madura ekspedisi besar kekaisaran negeri Tiongkok, dalam mengarungi Perairan Nusantara pada abad ke 15.

Tapi kami tidak gagal main ke pantai. Esok paginya ternyata adalah hari di mana Desa Padelegan merayakan upacara Rokat Tasek atau upacara petik laut. Upacara yang diadakan 2 tahun sekali selain untuk melarung sesaji, juga sekaligus sebagai acara untuk menghibur warga sekitarnya. Tidak heran meriah sekali perahu-perahu nelayan bersolek di pinggir pantai, dan banyak hiburan seperti musik Tong Tong dan Can Macanan yang mengisi acara di desa Padelegan.

And the best is yet to come ketika kami berkunjung ke salah satu sentra jamu Madura yang telah mendunia.  Oh c’mon, tidakkah kamu penasaran dengan Tongkat Madura atau sari rapetnya yang ramai di bisik-bisik tetangga? Salah satu pembuat jamu Madura, Ibu Fachruzah menyebutkan banyaknya garis keturunan yang memegang ilmu membuat jamu Madura adalah berasal dari darah Tiongkoknya. Secara turun temurun mereka membuat Jamu Madura dengan bahan-bahan alami tanpa bahan kimia sesuai dengan resep kuno yang diturunkan padanya.

Kini jamu Madura telah melanglang hingga ke penjuru dunia karena edeknya yang dahsyat bagi kesehatan. Inilah mahakarya Indonesia yang layak mendapat acungan jempol berkat hasil karya tangannya yang luar biasa bagi peradaban manusia. Masih takjub dengan cerita langsung dari mereka-mereka yang memegang tradisi dan meneruskan kebudayaan Madura dalam kesehariannya, namun akhirnya saya pun harus pulang.

Lepas dari Madura, ‘gelas’ saya yang masih kosong terhadap pemahaman budaya Madura, terasa penuh dan hangat mengingat keramahan orang-orang Madura yang saya temui. Dalam 72 jam, stereotype di otak saya tergantikan dengan pandangan yang baru tentang Madura.

Madura kini bukan hanya garam, karapan sapi atau jembatan Suramadu. Tapi mahakarya Indonesia di bumi yang kaya akan sejarah, budaya, dan alamnya. Nikmati Cultural Trip ini lebih lengkap lewat timeline @dananwahyu, @amriltg, @iPulGs, @barrykusuma, serta @venustweets. Intip juga blog mereka dalam daftar berikut ini:

Terima kasih 😀

Sharing after reading, yes?

18 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *