Butuh 30 Tahun Untuk Mengenalmu, Ibu

Sejauh mana kamu mengenal ibumu? Berapa lama kamu pernah meluangkan waktu untuk duduk bersamanya, mendengarkan curhatannya? Bukan, bukan hanya kamu yang punya masalah, kids.

Setiap ibu di dunia ini pernah melalui episode kehidupan yang kamu lalui. Walau berbeda jaman, tapi tantangan yang dihadapi setidaknya satu jalan. Dari sekolah, pertemanan, pacaran, skripsi, kawinan, punya anak, dan seterusnya. It is a life circle. Someday dirimu akan menghadapi permasalahan yang sama dengan ibumu.ย Hanya, ibu perlu mengenalmu seperti kamu perlu mengenal ibumu. Ibu memang melahirkanmu, tapi ibu bukan dirimu.

Butuh 30 tahun bagi saya untuk mengenal bagaimana sosok ibu yang melahirkan saya ke dunia. Selama itu pula saya merasa ibu adalah sosok yang jauh dari harapan saya. Tidak mau mengerti anaknya, tidak sabaran, tidak ngikuti perkembangan jaman, dan lain sebagainya. Ibu tidak melawan, dia tetap memberikan perhatian sepenuhnya pada kebutuhan anak-anaknya.

Ibu, memang berada di persimpangan. Tugas bapak yang membuat kami tinggal terpisah, membuat hidupnya terbelah. Di mana pengertian kami sebagai anak? Tidak ada. Kami tetap menuntutnya menjadi sosok yang sempurna yang selalu ada ketika ibu dibutuhkan. Tidak peduli apa kata orang ibu adalah orang tersabar di dunia, bagi kami ibu tidak selalu ada.

Sampai ketika suatu waktu, ibu sama sekali tidak pulang ke dekat kami berbulan lamanya. Kondisi di rumah berantakan walau masih tertata. Ibu dan bapak masih tetap berkomunikasi dengan baik. Kami memang jauh di mata, tapi ngobrol-ngobrol masih tetap berjalan. Dan di sinilah keluarga kami baru menyadari pentingnya teknologi untuk komunikasi.

Dengan hp 3G yang baru dibeli bapak dan diuji coba menelepon hp 3G saya, anak-anak diberitahu kondisi bapak dan ibu yang baru saja kecelakaan hebat di jalur tol Bandung – Jakarta. Sepersekian detik saja bapak tidak tanggap dengan kondisi mobilnya, pasti ibu sudah tidak bersama kami saat ini. Itulah penyebab kenapa mereka berdua tidak pernah pulang dalam jangka waktu yang lama karena tidak ingin membuat anak-anaknya khawatir di rumah.

Mulai detik hp 3G kami tersambung antara Malang dan Jakarta itu, saya baru merasakan bagaimana takutnya saya kehilangan bapak dan terutama ibu. Saya baru merasakan kalau saya benar-benar disayang, walau jarang sepaham. Saya bertekad untuk lebih banyak meluangkan waktu ketika ibu berada di rumah. Tidak sibuk sendiri dengan kesibukan saya. Duduk bersama, masak bersama, dan mengantarkannya ke pasar, hal kecil yang ternyata dipikir-pikir berharga juga ya…

Walau masih juga berselisih pendapat, sampai saat ini pun, saya bersyukur ibu ada mendampingi saya di hari pernikahan saya setengah tahun yang lalu

mamaTerima kasih Ibu. Terima kasih Bapak.

Jangan selalu menuntut pemahaman mereka terhadap hidupmu, apakah kamu juga sudah memahami mereka? Apakah kamu sudah mengenal Bapak dan Ibumu?

Sharing after reading, yes?

9 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *