Bersepeda di Pulau Pari, Mengejar Sunset Dari Pulau Putri

Sampai detik ini masih simpang siur jumlah pulau di Kepulauan Seribu yang saya tau. 106 pulau atau 110 pulau, mana yang benar? Jika 106, berarti masih 100 pulau yang belum saya kunjungi. Jumlah itu jadi lebih banyak lagi kalau yang benar 110 pulau. Karena, alhamdulillah saya sudah menjejak langkah di 6 pulau indahnya.

Kepulauan Seribu merupakan bagian dari DKI Jakarta, gugusan pulaunya tersebar di Laut Jawa dan Teluk Jakarta. Karakteristik dan potensi alamnya unik, sehingga mendorong pemerintah untuk mengembangkan Kepulauan Seribu sebagai kawasan wisata, konservasi mangrove dan terumbu karang, serta budidaya laut yang meliputi ikan, rumput laut, kerang-kerangan dan masih banyak lagi. Jumlah penduduk Kepulauan Seribu melebihi angka 22.000 orang. Luas wilayahnya 8,76 km persegi yang dibagi menjadi 2 kecamatan, dan 6 kelurahan. Sebelas pulau di Kepulauan Seribu dimanfaatkan sebagai kawasan permukiman, dan 9 pulau merupakan tujuan wisata terpopuler di Kepulauan Seribu.

Mengunjungi Kepulauan Seribu nyaris tidak masuk di agenda traveling saya. Dalam bayangan, jejak traveler yang saya ikuti lebih sering menunjuk gugusan kepulauan di Karimun Jawa atau Raja Ampat sebagai tujuan wisata yang harus dikunjungi. Kepulauan Seribu itu apa? Penampung sampah Jakarta katanya. Faktanya memang tidak 100% salah, tapi kenyataan yang saya hadapi saat memasuki perairan laut Jawa menuju Kepulauan Seribu, anggapan sang traveler luruh seketika.

Kepulauan Seribu itu MENAKJUBKAN!


Berbekal peta di tangan, saya mengikuti rombongan bergerak menjelajah Kepulauan Seribu dengan kapal cepat. Suatu kemewahan yang beruntung saya dapatkan bersama teman-teman travel blogger lainnya. Kapal bergerak cepat membelah pekat air laut Marina, Ancol,ย  menyusuri pinggiran Tangerang, disambut gerbang gugusan Kepulauan Seribu. Jika menumpang kapal penduduk dari Muara Angke, perjalanan ditempuh kurang lebih 3,5 jam menuju Pulau Pari, tujuan pertama kami. Dengan Bidadari Princess, saya hanya perlu 40 menit perjalanan.

Tampak di kanan Pulau Onrust dan reruntuhan bentengnya yang megah. Pulau yang tampak mistis karena pikiran kalau ada gugusan pulau kenapa cuma satu yang dibentengi? Jangan ceritakan saya sejarahnya. Suatu saat saya kembali, Pulau Onrust adalah tujuan pertama saya menyambung tulisan tentang Kepulauan Seribu yang memenuhi benak saya.

Sementara di kiri samar-samar masih terlihat daratan. Ketika Jakarta diguyur badai, dengan takjub saya melihat awan-awan tebal hitam memuntahkan air dari dalam mulutnya di tengah lautan. Di dalam Bidadari Express saya menyadari, untuk dapat membuatmu menikmati dan ingin kembali lagi adalah dengan melihat keajaiban alam yang langka seperti ini. Jakarta badai, dan kami sedang dilimpahi cahaya matahari serta ombak lautan yang bersahabat, sungguh pengalaman baru yang mendebarkan.

Apa yang akan menanti saya di Pulau Pari?

Memasuki perairan Pulau Pari, Bidadari Express mulai melambatkan kekuatan mesinnya. Memberi saya kesempatan melihat gugusan semenanjung yang menjorok ke lautan. Sunyi… Tetiba saja kesunyian Pulau Pari dipecahkan oleh dering bel sepeda mini yang ajaibnya ada banyak tersedia persewaannya di sana.

Beginilah cara menikmati Pulau Pari, berkeliling dengan sepeda mini. Sepeda mini berwarna biru pilihan saya cantik dan berfungsi dengan baik. Puas sekali berkeliling dari sentra budidaya rumput laut, salah satu sumber kekayaan gizi di Pulau Pari, sampai ke ujung ke Pantai Perawan.

Kring kring kring.. Dan sepeda pun melaju. Hijau pepohonan di sepanjang jalan nyaris tidak menampakkan bahwa saya berada di sebuah pulau. Seperti di pedesaan di pinggiran kota aja kan? Benar-benar menyegarkan suasana hati yang sumpeg lepas dari kemacetan Jakarta pagi tadi. Kabarnya kalau menyewa sepeda mini cukup 10.000 saja selama dua jam. Ayo gowes sampai ke pantai!

Dan kami semua berhenti dengan takjub di gerbang Pantai Pasir Perawan.

Menjaga Keperawanan Si Pantai Perawan

Begitu pesan di gerbang pantainya. Satu pesan berjuta makna *sembunyikan cincin kawin*. Pantai Pasir Perawan sangat tenang. Tidak ada ombak pecah menghantam pasir sehingga aman untuk berenang. Ada beberapa warung pantai yang bisa dimanfaatkan jika tidak membawa bekal sendiri. Es kelapa muda dan kripik sukun jangan lupa untuk dicoba, sambil menghabiskan dodol rumput laut serta manisan rumput laut andalan Pulau Pari.

Tenang dan menghanyutkan sampai saya mendengar cerita di balik penamaan Pantai Pasir Perawan.

Ada legenda di balik indahnya Pantai Pasir Perawan yang mungkin tidak semua orang pernah mendengarnya. Alkisah sekitar tahun 80an, sekelompok keluarga yang bermukim di Pulau Pari sedang menikmati surga indah yang belum dikenal dan belum bernama ini. Di pinggir pantai anak mereka yang cantik, gadis berusia 4 tahun sedang bermain pasir pantai. Tak tau dari mana asalnya, tiba-tiba seekor burung gagak besar terbang menyambar si gadis kecil dan membawanya ke angkasa. Teriakan minta tolong keluarga percuma karena burung gagak dan si gadis kemudian menghilang tak ketahuan jejaknya.

Sampai hari ini kabar si gadis kecil lenyap dibawa angin. Keluarga si gadis dikabarkan masih ada namun sudah tidak menghuni Pulau Pari lagi. Penduduk setempat pun menamakannya Pantai Pasir Perawan, tempat di mana si gadis kecil akan selalu dikenang sebagai perawan. Untuk pengunjung yang beruntung, kamu bisa bertemu si gadis kecil. Menurut legenda penduduk, jika banyak pengunjung di Pantai Pasir Perawan, si gadis kecil akan menampakkan wujudnya ketika malam. Melewati pengunjung, tidak bisa disentuh, dan akan menghilang dengan sendirinya.

*goosebumps* untung siang-siang nih mainnya.

Ada keberuntungan lain ketika saya kembali ke dermaga Pulau Pari untukย hopping ke pulau selanjutnya. Sebuah kapal penduduk sedang sandar di dermaga dan menurunkan muatannya. Ada kelapa, sembako, sepeda motor dan kasur. Beberapa penumpang tampak berdesakan di dalamnya. Beruntung saya menikmati kapal cepat berpenumpang 40 orang yang masih longgar untuk barang-barang rombongan. Tapi, seru juga nyobain kapal penduduk. Kabarnya cuma 35.000 per orang saja harga karcisnya. Bandingkan dengan kapal cepat yang mencapai ratusan ribu.

Dan kesempatan berbaur besama penduduk setempat itu yang bakal menjadi kenangan. Juga buat pengalaman yang bisa dibagikan buat kamu-kamu yang pengenย island hopping dari pulau ke pulau di Kepulauan Seribu. Mungkin ribet dan ngga nyaman, tapi bisa jadi liburan yang saaangat terjangkau untuk keluar dari hiruk pikuk Jakarta.

Selepas Pulau Pari saya mengunjungi Pulau Lancang dengan budidaya serta pengolahan rajungan dan ikan terinya yang tersohor itu. Tersohor karena produksi ikan teri asinnya di Kepulauan Seribu tapi lebih dikenal dengan nama Teri Medan. Padahal hubungannya agak jauh ya kalau lewat laut. Melihat sentra pengolahan ikan teri di Pulau Lancang bisa jadi ide untuk buah tangan lho. Selain bisa dibeli dengan harga relatif murah daripada beli di Jakarta, bawa oleh-oleh ikan teri berarti membantu menyehatkan yang diberi oleh-oleh. Kandungan gizinya sangat tinggi walau tidak bisa dimakan setiap hari bagi yang didiagnosa hipertensi.

Lepas berburu teri, saya bergegas kembali ke kapal untuk berburu sunset di Kepulauan Seribu

Sayang… Sunset Cruise yang sandar di Pulau Putri sudah berangkat. Terpaksalah saya menginap di Pulau Putri untuk dua malam. Menginap terpaksa sampai 2 malam? Iya dong, biar besoknya bisa melihat sunset \o/.

EITS! Siapa itu bertelanjang dada di pinggir dermaga?

Setiap kamu menginjakkan kaki di dermaga Pulau Putri, mereka akan menyambutmu dalam keheningan yang mencekam *abaikan teriakan selamat datang*. Pulau Putri adalah salah satu pulau yang dikelola untuk resort dan wisata di Kepulauan Seribu. Menyediakan puluhan cottage apik bersih dan nyaman di sepanjang pinggiran pulaunya. Selain dilengkapi dengan akuarium bawah laut yang WAH, ada juga spot snorkeling yang ciamik di dermaga Pulau Putri. Ada juga fasilitas kolam renang air payau kalau kamu engga pengen berenang langsung di pinggir lautnya.

Sayang akuarium bawah laut Pulau Putri sedang direnovasi. Agenda diving pun urung dilanjutkan karena hujan mengguyur sepanjang pagi. Beruntung masih diberi anugerah menikmati pemandangan matahari tenggelam di Kepulauan Seribu. Dengan menumpang sunset cruise, duduk di hidung kapal semangat menantang angin sambil menanti saatnya matahari tenggelam di ufuk barat di tengah laut sana.

Sunset Cruise melaju perlahan, memberi kesempatan menikmati pulau-pulau kecil di gugusan luar Kepulauan Seribu. Jejak-jejak peradaban manusia tampak di beberapa pulau. Dermaga cantik, cottage yang apik, bahkan tower BTS menjulang di tengah pulau. Perjalanan yang sungguh istimewa. Paket menikmati sunset ini bisa didapatkan dengan menginap di Pulau Putri.

Tapi, matahari tampak malu-malu menampakkan diri. Dia memilih tenggelam dalam sunyi meninggalkan jejak aneka warna di langit sore. Biru temaram, kuning keemasan, ungu dan merah, berpadu cantik menggores langit senja. Terlihat berganti-ganti setiap Sunset Cruise membelokkan haluan.

Subhanallah. Betapa indah ciptaan Allah.

Permukaan Kepulauan Seribu saja begitu cantik. Bagaimana dengan pemandangan di perut lautannya? Sayang sekali memang kesempatan diving saat di Kepulauan Seribu kemarin batal saya nikmati karena cuaca kurang bersahabat. Di petualangan selanjutnya, kesempatan melihat dunia bawah laut bersama mba Riyanni Djangkaru mungkin saya dapatkan.

Berminat mengalami petualangan yang sama? Cepat follow @JakartaTourism dan @Viva_log kayak saya gini. Siapa tau kita bisa bersama-sama Enjoy Jakarta dan menyelam bersama mba Riyanni Djangkaru di Pulau Kotok, Kepulauan Seribu.

twitter NBC

all image by: koleksi pribadi

Sharing after reading, yes?

18 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *