Jika Vendor Pernikahan di Malang Melek Digital

Beberapa waktu lalu saat mengikuti sharing di #eduAXIS tentang Indonesia Melek Digital di Ria Djenaka, Malang. Saya sangat terkesima dengan penjelasan gamblang sepak terjang mbak Dyah Purana memulai bisnis AremaFood-nya. Internet bagaikan pasar tak terbatas bagi dunia usaha baik kelas korporat dan terutama untuk usaha kecil menengah. Waktu itu sih saya masih tepuk tangan aja ya, karena ngga terjun langsung dan jarang sih belanja lewat online.

Tapi, akhir-akhir ini saya sangat mengapresiasi pada jasa internet dan mbah Google serta UKM atau mereka pemilik usaha yang sadar intenet dan meninggalkan jejak di internet. Apa tebak? Yaaaaaaa, saya lagi mempersiapkan pernikahan yang akan dilaksanakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya persiapan para calon pengantin. Karena suatu dan lain hal, persiapan pernikahan saya ngga sampai 2 minggu! Mengingat 8 tahun lalu saya mempersiapkan pernikahan kakak dalam waktu 4 bulan, bisa ngga ya saya tembus 2 minggu untuk pernikahan saya sendiri?

Cara paling cepat yang pertama saya pikirkan adalah mencari vendor-vendor jasa pernikahan di kota Malang lewat internet. Luar biasa. Nama yang muncul hasil penerawangan mbah google memang nama yang sudah malang melintang di jasa make up, katering, maupun perlengkapan lainnya. Sayangnya, 80% dari nama tersebut bukan merupakan company profile milik vendor yang bersangkutan. Bahkan di akun facebooknya pun. Nama mereka muncul di forum-forum pernikahan, check in lokasi di foursquare serta facebook location, sampai sharing seseorang di blognya. Aneka tanggapan positif terhadap kesempurnaan hasil kerja, hingga tanggapan negatif akibat missed pekerjaan yang seharusnya sampai ke vendor yang bersangkutan untuk digunakan sebagai perbaikan jadi tidak tersalurkan.

Saya sempat berpikir, seandainya saja kita semua sudah melek digital, baik pemilik usaha maupun penggunanya, rasanya akan semakin cepat berkembang tak cuma di lingkup kota Malang. Walau tidak sedikit hasil tanya-tanya ke pemilik vendor tentang kemungkinan jualan jasa di internet bikin saya keki sendiri. Banyak yang masih percaya WORD OF MOUTH IS THE BEST MARKETING STRATEGY. “Saya sih sudah lewat, mbak, masa promosi dari mulut ke mulut. Sekarang saya tinggal duduk aja pesenan dateng dari mana-mana,” jawab Mas Nakata dari percetakan undangan. Beda lagi dengan jawaban pemilik vendor persewaan tenda. “Ga atek internet ae aku wis kewalahan nrimo pesenan, mbak…” –» Ngga pakai (jualan) di internet saja sudah kewalahan dengan pesanan mbak.

Sedangkan jawaban mbak cantik penyedia jasa make up-yang namanya saya dapat dari forum pernikahan- menjawab: “Kalau saya ngga pasang promosi di forum itu, kita ngga ketemu kan mbak?”. Benar, saya menemukan namanya di antara nama perias besar lainnya. Namanya memang belum terdengar familiar di antara deretan yang disarankan, tapi dia menyertakan katalog hasil kerjanya secara online. Dengan promosi yang jelas dan dapat berhubungan langsung dengan pemilik salon, saya rasa itu lebih penting daripada menghubungi nama perias yang disarankan oleh teman di forum yang sama. Rasanya lebih…intim. Dia butuh pelanggan, saya butuh harga yang bersaing, yang bisa dinegoisasi bahkan saat kita belum bertemu muka sekalipun dengan bermodalkan katalog online yang dimilikinya.

Sekali lagi saya tergelitik untuk menyimpulkan begini, untuk yang sedang serius mengembangkan bisnis barunya jangan terpaku pada sistem penjualan bertatap muka langsung. Alur kehidupan masyarakat sebagian besar sudah berpindah di jalur dunia maya, lewat internet mereka harap semua permasalahan hidup bisa diselesaikan. Bahkan, berdoa pun mereka lakukan di status Twitter dan Facebook, walau mereka tau Tuhan tidak punya akun di sana. Jadi, jika mengincar pelanggan di kelas menengah ke atas jangan sungkan investasi waktu untuk belajar pemasaran lewat online. Pelajari minimal cara membuat email untuk korespondensi maupun untuk mendaftar ke berbagai layanan jual beli lewat internet. Tak perlu smartphone atau tablet pc keluaran terbaru. Gadget lokal pun saat ini sudah cukup mumpuni untuk beraktivitas di internet. Lengkapi dengan kartu provider internet service yang pro rakyat seperti AXIS, pemakaiannya irit, sinyal ngga medit, modal pun ngga jadi sempit. Dan dikembangkan lagi pemahaman pemasarannya untuk membuat akun brand di social media.

Seperti kita sadari di sekitar kita, generasi muda di bawah saya ke depannya adalah generasi menunduk. Bukan, bukan seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk, tapi mereka mengawasi ‘hidup’ mereka di linimassa lewat gadget. Begitulah yang sering saya diskusikan dengan beberapa pemilik vendor agar mereka mau membuka diri tehadap internet. Meninggalkan jejak sedikit saja jika bisa dilakukan dengan kata-kata yang tepat, pasar akan terbuka seluas-luasnya. Dan berapa orang seperti saya yang hidupnya juga di internet bisa terbantu?

Akhirnya seluruh proses persiapan pernikahan sudah selesai dengan bermodalkan penerawangan mbah Google juga dibantu dengan koneksi teman. 50% persiapan saya lakukan online, sisanya termasuk tahap survey memang membutuhkan tatap muka langsung dengan vendor. Dalam perhitungan di awang-awang, jika semua vendor nama dan katalognya sudah tersedia di internet 99%, saya ngga turun keliling kota mencari alamat mereka satu persatu. 2 hari aja selesai nyiapin nikahan. Cukup lihat foto, pilih barang, nego harga, transfer hasil kesepakatan, done. Tinggal duduk manis di pojokan. Kira-kira Malang tahun berapa ya bakal kesampaian?

image
Ungunya bikin jatuh cinta! (doc Almeera)

Oiya satu lagi yang perlu diutamakan dari belajar internet untuk bisnis pemula, belajar JUJUR terhadap hasil karya itu lebih penting.

Sharing after reading, yes?

6 Comments

    • sumpah kepengen banget ngumpulin data2 pemain baru di vendor2 gini, mamijul
      banyak bakat baru yang kalah namanya dg pemain lama. yaaa tapi orang2 tua selalu kena bagian yang –> klo perias sepuh tu lebih keluar auranya T___T

  • waah, apa vendor baru yg dimaksud itu adalah mbak zoe dr almeera? hehehe..

    bener banget, bahkan di kota sekecil malang pun kadang2 kita males untuk keliling2 dr vendor satu ke vendor lainnya. Dengan internet tinggal duduk manis klik klik, ketik ketik, liat portofolionya, bandingin satu vendor dengan vendor lainnya, cocok, baru deh samperin. hemat waktu, tenaga, dan biaya… Lebih bagus lagi kalau para calon pengantin di kota kecil juga sudah melek teknologi dan gak pelit berbagi informasi mengenai vendor yg dia pakai.. istilahnya promosi dari situs ke situs, hehehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *