Dokter Idolaku

Memilih dokter terpercaya tidak semudah memilih bakso langganan. Berpindah dokter untuk periksa kesehatan juga tidak semudah membeli cilok ketika ga pengen bakso. Tapi, sekali kita percaya, sepertinya sugesti untuk sembuh semakin kuat.

Alkisah hampir dua tahun yang lalu, si pacar demam tinggi selama beberapa hari. Dasar bandel, dia ngga mau diperiksain ke dokter sampai saya cabut paksa dari tempat tidurnya. Pilihan saya jatuh ke dokter terdekat, dr. Nova Fendika nama di plangnya. Ga tau deh bukan temen seangkatan, bukan temen sejawat kakak juga kayaknya. Cap cip cup, diperiksa. Sambil bercanda dan ramah bertanya. Menyuruh ke lab dan kontrol balik konsultasi hasil lab. Tarifnya? Murah! Sampe ngga percaya.

Lewat dua tahun itu, ketika saya batuk ngguguk tak henti-henti, akhirnya coba periksa ke dokter yang sama. Beliau masih ingat kami. Masih pacaran ato sudah nikah sekarang? tanyanya. PLAK! Setelah mendengarkan batuk dan mendiagnosa, sambil menulis resep beliau memberi saran pacaran yang saling menghargai. Oh dear… 3 hari kemudian, saat kontrol karena obat sudah habis tapi masih sedikit batuk, beliau kembali menasihati tentang dunia pernikahan sambil menulis resep lagi. Saya agak heran, sebenernya saya periksa ke dokter umum apa konsultan pernikahan ya….

Karena tempat prakteknya kelewatan saat pulang pergi, saya jadi memerhatikan tingkat keramaian orang yang periksa ke sana. Setiap hari, ramai di pagi dan malam hari. Sementara di jalan yang sama juga ada beberapa dokter yang praktek juga, tapi lebih banyak yang memilih ke dr. Nova. Selain karena ramah, tarifnya murah, dan buka sampai Sabtu malam, rupanya ada faktor lain yang membuat masyarakat terkesan padanya.

Pak dr. Nova, tak sungkan menyapu dan mengepel sendiri tempat prakteknya. Ah, saya semakin memuja nih jadinya..dan banyak orang lain yang berpikir sama sepertinya. Kata pacar, dia cina yang njawani. No rasis ya :). Rasanya tanpa  berpikir banyak, kami berdua sudah memilih dokter keluarga kami nanti.

*sambil berdoa, semoga kakak saya, dokter yang galak itu ga baca blog ini..*

Sharing after reading, yes?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *