Dari Penelitian Sampai Kenyataan di Jalan

Berbulan lalu saya pernah berdiskusi hebat di facebook. Hebat karena nyaris pengen mengeluarkan kata-kata kasar di beberapa bagian diskusi. Lawan diskusi saya ngga asyik sih, in the end saya akhirnya menghapus seluruh komen yang saya tuliskan secara dia sudah menemukan teman diskusi yang sesuai dengan yang dia inginkan.

Ngebahas apa sih Neng?

Sebuah link sharing artikel penelitian seseorang muncul di timeline, membahas tingkat kecelakaan yang meningkat karena jumlah pengendara motor yang cewek dibandingkan pengendara cowok sekarang jumlahnya sudah mendekati kisaran 50:50. Kenapa dihubungkan dengan tingkat kecelakaan? Karena pengendara cewek cenderung lebih kurang siap di jalanan. Refleksnya rendah, cara berkendaranya salah. Apalagi tidak ada kursus mengemudi motor yang profesional seperti sekolah mengemudi mobil.

Yes, saya setuju dengan hasil penelitian, terutama menyangkut sekolah mengemudi motor. Sampai sejauh ini saya belum pernah melihat plank sekolah mengemudi motor tersebut. Saya sendiri belajar dari tetangga. Sekali diajari besoknya sudah keliling-keliling sendiri. Yes saya bangga dengan kemampuan adaptasi kendaraan yang saya miliki. Motor bebek, motor cowok, matik, trail, kecuali vespa saya ngga mau belajar. Ngga ada alasan apapun, ngga klik aja feelingnya. Teman yang lain juga kan, pasti diajarin temen, kakak, bapaknya, kan? Bukan via kursus kan? Oleh karena itu ngga ada pakem yang seragam tentang cara mengendarai motor yang bisa disamakan satu sama lainnya seperti mengendarai mobil. Dan itu berlaku untuk semua gender, COWOK ATAU CEWEK.

Kita semua pengendara motor bergerak berdasarkan feeling, kemampuan menguasai medan, dan kebiasaan. Apa yang dinilai di jalan adalah kepatutan sebaiknya begini begitu. Feeling, merasakan apa yang motormu rasakan itu perlu, jadi kamu tau sejauh mana kekuatan motormu. Kemampuan menguasai medan, taruhlah kamu setiap hari ke sekolah/kantor lewat rute yang itu-ituuu terus, seharusnya kamu bisa menghafalkan jalan mana yg ramai atau persimpangan mana yang ruwet, gang kampung mana yang banyak penghuninya. Kebiasaan, saat kamu melaju nginjek rem atau berbelok, semua berdasar kebiasaan. Lihat Rossi, di tikungan yang lain ngerem, dia cukup mengurangi gigi ke gigi rendah, lepas gas dan langsung melaju. Seperti itulah, tidak ada pakem yang jelas untuk mengendarai motor.

Trus kalo setuju kenapa kamu marah?

Karena yang ngebagi link itu berkomentar buruk tentang pengendara cewek! “Baca ini cewek-cewek! Makanya jangan sok-sok-an berani di jalan!”. Loh, ada yang salah ya dengan kami para cewek?, komentar saya. Dia bilang, iya soalnya cewek itu jarang yang ngbaca aturan lalu lintas dengan benar. Saya tanya, emang kalo cowok pada bener di jalan? Dia jawab, kalo cewek kan refleksnya ngga baik jadi kalo kaget suka jatuh sendiri gitu. Ga nyambung kan? Saya bilang, cuma cowok lho yang bisa motor koplingan sambil smsan di jalan, dan saya pernah ngliat ada yg nyruduk mobil karena kaget, itu cowok lho. Dia jawab lagi, tapi cuma cewek yang cara nyetirnya telapak tangan menghadap ke atas, itu kan bikin refleksnya jadi lambat kalau kaget. Kok jadi ngebahas itu? Akhirnya ada temennya dia yg nimbrung, cewek itu ga penting bisa motoran asal orisinil. LHAAAAA. Ini sapa ngebahas apa. Selanjutnya mereka berdua akhirnya ngebahas cewek ori dan ga ori. Ngga lama saya hapus komentar-komentar saya. Diskusi ngga guna!

Kok nulisnya baru sekarang?

Soalnya saya baru mergokin cowok motoran dengan telapak tangan menghadap ke atas, yang beberapa bulan lalu dibahas sama temen saya itu. Narik gas dan tuas rem tangannya pun dia lakukan dengan cara yang sama. Sayang saya lagi nyetir sendirian, jadi ngga bisa motret yang bersangkutan. Nanti kalo saya ketemu lagi bakal saya jejelin foto itu ke mukanya dia.

Saya ngga suka pandangan yang meremehkan satu dan lain jenis kalau menyangkut kemampuan di jalan. Ladies, kalau memang ngga berani jangan paksakan kamu untuk nyetir sendiri. Apalagi kalau kamu punya ibu yang belajar motornya telat sudah di usia tua. Kalo kamu cowok, tugasmu untuk mengantarkan ibumu, bukan melepas beliau motoran sendirian. Gentlemen, behave di jalan. Jalanan itu bukan milik kamu sendiri. Masih ada sejutasatu orang lainnya yang memakai jalan. Gunakan otakmu, perhitungkan kecepatan kendaraanmu, jarak ruang kosong untuk nyalip, dan sebagainya. Motoran bukan hanya narik gas.

Jangan sampai kamu seperti laki-laki tadi yang nyaris membuat saya jatuh karena menyalip terlalu dekat. Balasannya? Yaaa cukup menghabiskan jalannya dia kok. Salip balik. Pepet ke kanan. Dan biarkan dia menghadapi truk yang berlawanan.

Kau pikir cuman cowok yang bisa ngawur? Happy Valentine’s day, brader 🙂

 

 

Sharing after reading, yes?

14 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *