Bagaikan Pungguk Tak Bertulang

Jauh Panggang dari Tiang. Besar Bulan Merindukan Hulu. Berakit-rakit ke Pasak, Berenang-renang ke Api.

Simpul otak saya sedang kusut. Mengingat kembali satu jam berbincang dengan ibu di sana. Bincang-bincang ringan. Chit chat sederhana. Ditemani es sarang burung dan martabak telor katering Duta. Tentang masa depan.

Bahwa kekusutan ini terjadi, toh awalnya memang dari saya. Menabrak pakem, melawan arus. Detik yang lewat, menit yang berlalu, hari demi hari yang terlupakan. Berganti tahun yang terus berhitung. Yang terjadi sekarang adalah masa depan dari waktu-waktu yang terlewat. Bahwa beliau sebenarnya tidak setuju tapi tak ingin menghapus bahagia. Sesuatu yang terlukis di pelangi aura terpancar dari anaknya.

Sepertinya saya ingin kembali ke jalan dan menghilangkan jejak ini. Menghapus lubang yang ditinggalkan dalam diam. Dalam tidak sanggup yang menipu. Menderu suara aspal beradu adalah obat rinduku.

Inilah waktu yang berbicara debu. Ada tapi halusnya tak nyata.

Dan hapuskan jejaknya.

Untuk sekarang. Esok lusa?

Sharing after reading, yes?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *