It’s Not Just a Pocari Sweat’s History

Saya selalu suka kebudayaan Jepang. Di tengah hiruk pikuk kemodernannya, Jepang selalu ingat akan sejarah dari mana dia berasal. Berbagai simbol monumental yang bertebaran di penjuru Jepang pun bukan berdiri tanpa makna.

Saat rangkaian video History of Pocari Sweat yang menceritakan proses bagaimana munculnya ide untuk membuat Pocari Sweat hingga sampai ke tangan kita di Indonesia dipublish, saya baru saja selesai membaca artikel kunjungan koran langganan saya ke Markas Otsuka Pharmaceutical Co Ltd di Prefektur Tokushima, Pulau Shikoku, Jepang. Yuk mari saya ajak untuk telusuri sejarah dan makna yang tersurat di History of Pocari Sweat..

Tahukah Anda, Laboratorium Takesaburo Otsuka cikal bakal perusahaan global Otsuka Pharmaceutical ternyata masih ada di kompleks pabrik Otsuka? Penerus pucuk pimpinan Otsuka tidak pernah terpikirkan untuk menggusur tempat di mana Takesaburo Otsukaa merintis usahanya. Laboratorium itu digunakan Takesaburo Otsuka untuk meneliti kandungan mineral dalam garam dan dikembangkan menjadi cairan infus. Laboratorium kecil itu masih berdiri apik berbentuk rumah Jepang kuno dan tampak kontras dengan kompleks perusahaan yang berkembang pesat untuk memenuhi kebutuhan pasokan infus dan produk Otsuka lainnya. Sedangkan laboratorium tempat Pocari Sweat dikembangkan oleh Rokuro Harima, ahli rasa dari Otsuka, sepertinya sudah masuk ke bangunan baru di dalam kompleks tersebut.

 

 

Tahukah Anda, ada lima filosofi Otsuka lainnya yang secara kasat mata berfungsi sebagai dekorasi gedung tetapi makna di baliknya jauh lebih dalam dari penampakannya? Mari kita berwisata sejenak, merenungi sebuah kolam dengan lima batu apung di halaman gedung utama HRDI Otsuka. Secara logika tidak mungkin ada batu yang bisa mengapung di air. Tetapi, batu apung di kolam itu membuktikan bahwa nothing is impossible. Otsuka yakin selalu ada alasan untuk segala hal yang terjadi di dunia ini. Untuk itu, setiap individu dituntut mampu berpikir di luar konteks atau kebiasaan. Lihat ide bagaimana Pocari Sweat dicetuskan. Konsepnya sederhana, bagaimana caranya cairan infus kaya mineral itu dapat diminum agar pengalaman Rokuro Harima saat kekurangan air kala dirawat di Mexico tidak terjadi pada orang lain.  Tetapi Akihiko Otsuka, generasi ke 3 Otsuka merasa saat itu belum waktunya dikembangkan. Keputusan yang tepat, yes?

 

 

Tahukah Anda, langit-langit gedung HRDI Otsuka bukan terbuat dari gipsum atau pelapis atap modern. Yang ada, langit-langit gedung itu tertutup dengan tanaman tomat! Impressive! Istimewanya lagi, tomat-tomat yang menghasilkan ribuan buah setiap tahunnya di tanam di dalam air. Filosofi tersirat dari tanaman tomat itu adalah Otsuka selalu terbuka pada perbedaan. Ide yang tidak biasa memicu manusia menjadi kreatif yang lantas melahirkan inovasi. Langkah itu jelas terlihat kala Pocari Sweat masih dalam proses pencarian jati diri. Ide yang pertamanya sempat ditolak karena belum saatnya, hingga akhirnya mendunia ketika Akihiko Otsuka menjadi direktur. Intinya, bagaimana  setetes keringat dapat menjadi minuman pengganti ion tubuh yang dibutuhkan oleh manusia. Ide itu dikembangkan Akihisa Takaichi ketika Akihiko melihat tren olahraga jogging di masyarakat Jepang sedang booming. Memperhatikan detil itu lah inti dari kreativitas dan lahirnya inovasi.

 

 

Tahukah Anda, Otsuka menyukai peta dunia versi MAcArthur (MAcArthur’s Universal Corrective Map of The World). McArthur menempatkan Australia, tanah kelahirannya, pada bagian atas peta dunia. Peta MAcArthur memang tidak diakui dunia internasional, tetapi MAcArthur sukses menyuguhkan konsep perbedaan perspektif kepada masyarakat global.

Ingat kala Pocari Sweat belum diterima oleh masyarakat Jepang? Otsuka menggelontor 30 juta kaleng Pocari Sweat untuk mengenalkannya kepada masyarakat Jepang. Perusahaan mana yang mau merugi ratusan miliar dengan produk yang tidak disukai konsumen? Otsuka menggebrak perspektif itu dengan menaruh masa depan perusahaan di arena ‘pertaruhan’ diterima atau tidak oleh masyarakat. Otsuka menggerakkan semua sales Pocari Sweat ke seluruh penjuru Jepang untuk bersinggungan langsung dengan konsumen. Ke lapangan baseball, ke pasar, bahkan langsung ke seorang ibu yang kepanasan. Tak disangka, 30 juta kaleng itu tergantikan dengan trilyunan keuntungan di tahun kedua penjualan sejak Pocari Sweat diluncurkan.

 

 

Tahukah Anda, ada dua gelondongan batang pohon bengkok yang beratnya hampir 2 ton dan entah bagaimana bisa saling bertumpuan hanya pada sebuah pasak kecil? Kayu gelondongan tersebut adalah kayu cedar yang sama-sama diambil dari hutan suginoki di kota  Kyoto, telah berumur sekitar 150 tahun. Bagaimana cara sang seniman membengkokkan gelondongan kayu, dan bagaimana cara merekatkan dua batang besar itu hanya dengan sebuah pasak kecil masih menjadi suatu misteri sampai saat ini. Karya tersebut mengingatkan manusia bahwa dunia penuh keragaman, oleh karena itu manusia dituntut untuk selalu berpikiran terbuka. Filosofi itu digunakan Otsuka untuk menembus berbagai pasar dunia.

Lihat di Indonesia. Otsuka menembus pasar Indonesia dengan pendekatan bahwa di Indonesia ada bulan Ramadan saat kita harus berpuasa menahan lapar dan dahaga seharian penuh, dan Otsuka juga memahami adanya wabah demam berdarah hampir selalu terjadi setiap tahunnya. Berbuka puasa dengan Pocari Sweat, terasa sekali segarnya di dalam tubuh. Dan Pocari Sweat juga dijadikan sebagai salah satu solusi pengganti cairan tubuh yang hilang bagi penderita demam berdarah yang tidak ingin dan tidak rela tangannya diinfus ketika mengalami gejala demam berdarah untuk  menambah cairan tubuhnya. Dari hal sederhana, Pocari Sweat menempatkan dirinya di jajaran minuman yang dicari masyarakat Indonesia untuk kebutuhan sehari-hari.

 

 

Semua pengorbanan, usaha, dan daya pikir yang ditempa bertahun-tahun, dilandasi filosofi perusahaan Jepang yang out of the box, membuat Otsuka menjadi legenda hidup perkembangan pola pikir masyarakat. Awalnya mereka menolak minuman elektrolit yang dirasa tidak enak, hingga akhirnya terbiasa mengonsumsi Pocari Sweat dalam kesehariannya.

Saya jadi mengerti kenapa botol Pocari Sweat selalu ada di kantong tas si pacar yang setiap hari olahraga basket minimal 2 jam sehari. Saya juga jadi ngga heran kenapa saat kakak saya kena demam berdarah (setiap musimnya 😀 ) selalu dihujani puluhan botol Pocari Sweat dari teman-temannya. Saya sendiri selalu memasukkan Pocari Sweat dalam daftar barang bawaan kalau hendak turing atau jalan-jalan.

Jadi, setelah berjuang puluhan tahun lamanya, dibarengi dengan landasan filosofi yang terus berinovasi, keterbukaan, dan pola pikir out of the box, Otsuka berhasil memasyarakatkan Pocari Sweat sebagai minuman pengganti ion tubuh tidak saja di Jepang, tapi sudah ke seluruh dunia.

Cool! Bisakah filosofi itu kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari? Saya yakin, kita bisa! Ayo wujudkan!

 

sumber: Facebook Pocari Sweat, Jawapos


lihat foto Otsuka Building di sini

 

Sharing after reading, yes?

20 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *