ASI Itu Mahal!

Malang sedang dingin malam ini. Ingin hati menarik selimut menutup sampai pundak, tapi jam terbaik untuk pumping ASIP sudah semakin dekat. Daripada jatuh tertidur, saya putuskan untuk berselancar sebentar di dunia maya. Si kecil tertidur pulas seperti kakaknya. Keduanya memiliki kebiasaan yang sama, sejak lahirnya nggak terlalu banyak bangun di malam hari untuk minum ASI. Tinggal ibunya saja yang kadung sudah terprogram untuk menyetok ASIP dengan jam tidur yang lebih berantakan dari mereka.

Ini adalah hari ke 108 sejak Sasi dilahirkan. Entah sudah keberapa ratus kalinya saya memompa ASI dari payudara kanan dan kiri. Kalau di awal usia Sasi, saya bisa pumping setiap 4 jam sekali karena diberi berkah produksi ASI yang berlebih. Tiga bulan pertama nggak bisa lama jauh-jauh dari rumah kalau pergi tanpa membawa si bayi. Bisa-bisa payudara melembung kayak balon udara kalau tidak segera disusukan atau dipumping.

Resep membuat ASI begitu lancar produksinya hanya satu kok, HATI YANG TENANG DAN SENANG. Saya dikelilingi support system yang kuat. Dari rumah dengan keluarga besar yang hangat, juga pekerjaan yang memberi kemudahan bagi karyawan perempuannya. Untuk membantu mengurus rumah, ada embak yang datang setiap pagi. Hidup saya jadi tenang.

Tenang. Terbaca seperti hidup yang membosankan ya?

Tentu tidak. Karena itulah citra yang saya tanamkan di pergaulan. Hidup saya tidak tenang seperti air di permukaan yang datar. Riak-riaknya mempengaruhi pikiran, meski bukan tentang pekerjaan. Tantangan di pekerjaan adalah tempat bermain saya. Kesenangan yang saya dapatkan di sana, mengaburkan perasaan bahwa hidup saya sebenarnya bermasalah.

Inilah yang menyebabkan saya berani bilang: ASI ITU MAHAL!

Coba baca lagi resep melancarkan produksi ASI di atas. Hati yang tenang dan senang. Mendapatkannya ternyata tidaklah murah. Ada harga yang harus saya bayar lunas saat melalui hari demi harinya. Dan itu tidak mu.r.a.h.

Sebut saja beli kopi kekinian. Orang bilang untuk produksi ASI yang lancar, minum jus buah-buahan. Tetangga sebelah bilang bikin jus wortel aja, mba. Saya, minum kopi. Mungkin kandungan kafein dan gulanya yang bikin tenang. Meski juga pengaruh sama timbangan. Apalagi dekat kantor franchise coffee shop bermunculan.

Belum lagi memancing nafsu makan. Saat tertentu ketika saya nggak bisa menahan diri untuk bersikap tenang, yang saya lakukan tentu makan biar hati senang. Makannya yang enak. Lalu habisnya banyak. Merogoh kantong lebih dalam dari biasanya.

Kalau ditotal sebulannya, biaya membuat hati tenang dan senang ini hampir 3x anggaran membeli susu formula untuk kakak si bayi.

See, ASI ITU MAHAL!

Hey, sebelum pikiran buruk bermunculan, garis bawahi bahwa saya bekerja. Saya membeli mobil saya sendiri. Saya memiliki motor besar saya sendiri. Saya sendiri.

Tapi saya percaya semua pengorbanan ini ada manfaatnya. Dengan mengASIhi, saya ada waktu privat dengan anak saya. Memancing genggaman tangannya dari lahir hingga kini ia bisa menarik-narik baju ketika minumnya kurang banyak. Melihat gemilang binar matanya sambil mengajaknya bicara itu menyenangkan ya? Dengan mengASIhi juga timbangan cepat sekali bergerak ke kiri, lalu ke kanan lagi karena banyak ngemil.

Yang terbaru, pertahanan tubuh si bayi saya akui sangat kuat ketika kakaknya tiba-tiba batuk pilek panas berat dan mereka tidur dalam satu kasur. Tidak tertular itu prestasi mengingat kakaknya juga masih belajar bahwa batuk itu perlu ditahan. Adanya dia batuk dan bersin sesukanya kapan saja meskipun itu sedang berhadapan dengan adiknya.

Setidaknya dengan mengASIhi saya juga nggak diceramahi pentingnya ASI setiap harinya posyandu tiba.

1 Comment

  • its all because of you
    who made a promise to give the best of you
    but it happens again and again and again
    why? have you ask yourself why?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *