Kesombongan di Kehamilan Pertama yang Mudah

Tengah malam di antara lenguh kesakitan, bukan karena mau lahiran, saya tiba-tiba aja ngetwit beginian.. Kalo ada lagu Kesombongan di masa muda yang indah, aku punya Kesombongan di kehamilan pertama yang mudah.. Dibandingkan dengan kehamilan pertama, saya merasa agak keberatan sekali dengan kondisi kehamilan kedua. Meskipun ada kejadian sama-sama masuk rumah sakitnya, tapi tidak memberatkan fisik sehingga masih bisa aktivitas ini itu sampai hari lahirnya tiba. Yang kehamilan kedua ini…fyuh

Setelah episode bed rest dan istirahat di rumah sakit karena terjadi flek kehamilan, saya baru merasa kalau badan ini sering kayak patah-patah dengan otot yang meregang parah. Duduk lama, berdirinya harus pelan-pelan. Tiduran lama, bangunnya harus pegangan. Bahkan berpindah posisi tidur pun nggak bisa nggelinding begitu saja. Padahal sebelum masuk rumah sakit saya masih kejar-kejaran sama Raga. Nggendong tanpa memperhatikan kondisi perut yang semakin membesar.

Saya pikir tidak apa-apa.

Ternyata kenapa-kenapa. Inilah alasan kenapa ibu hamil disarankan untuk tidak membawa beban berat, menggendong, atau menarik barang. Juga kenapa ibu hamil disarankan untuk banyak istirahat. Bagi yang kondisi kesehatannya prima seperti saya yang kayaknya kukuh bekerja terus bagai kuda saja mengancam kesehatan sendiri, bagaimana denganmu?

Yup, memasuki hari-hari di bulan ke delapan, saya sudah mengalami bukaan awal persalinan. Apa saja dugaan penyebabnya?

Terlalu Banyak Menggendong

Ih siapa sih yang suka dilarang nggendong anak sendiri? Apalagi lagi dalam masa ‘lucu-lucunya’. Maunya lari ke sana ke mari, digandeng nggak mau pilih lari kalau capek minta gendong. Itulah periode pertumbuhan anak saya yang pertama. Diperkirakan hanya beda 16 bulan saja dengan adiknya nanti, mengerti kan kenapa saya susah sekali menahan diri untuk nggak menggendong?

Sejak mengetahui kehamilan kedua di 8 bulan anak pertama, saya nggak mengurangi aktivitas belajar, bermain dan mengurusinya. Hanya saat di kantor saja mungkin tidak memegangnya. Tapi Sabtu dan Minggu adalah hari-hari full bersamanya. Pun sejak dia bangun tidur hingga waktunya tidur malam. Tidak selalu minta gendong untuk tidur karena dia sangat menyayangi stroller tempat tidurnya.

Saya pikir tidak apa-apa. Efeknya sendiri ya ternyata membebani kehamilan kedua. Mungkin saat menggendong ternyata posisinya di atas perut jadi terdorong ke bawah? Bisa jadi. Kan di kehamilan pertama saya nggak megang beban apa pun. Ngantor, kerjaan rumah, biasa saja. Hanya mengambil lemburan lebih banyak. Itu saja.

Kelelahan

Sebelum jatuh pada kesimpulan menggendong bikin flek kehamilan, saya sih lebih aware sama masalah kelelahan. Kadang-kadang saya cuma tidur sejam dua jam saja. Beberapa waktu belakangan ada hal-hal yang tidak pada tempatnya sehingga mengganggu pikiran. Yaa, namanya insting ya. Otomatis seharian aktivitas dan tidurnya kurang, hasilnya kelelahan.

Berbeda dengan kehamilan pertama yang …. sepertinya tidak ada apa-apa dan tidak membebani pikiran dengan yang macam-macam. Kehamilan kedua ini rasanya bertumpuk beban yang ada di pikiran. Langkah saya sehari-hari tetap ringan, tapi kalau malam tidak bisa tidak memikirkan. Berlarut-larut dan tidak diselesaikan sejak awal, saya paham ketika tubuh menjerit minta perhatian.

Menyetir Mobil Sendirian

3x seminggu pasti saya menyetir mobil sendiri kalau ke kantor. Pulang pergi. Gitu aja sih. Nyetirnya matic pula. Kan tinggal duduk aja. Kecuali pas macet sih pulangnya, kudu pengen lempar-lempar kulit kacang ke jalan rasanya.

Bandingkan dengan saya di kehamilan pertama yang naik motor besar sampai bulan ke lima, dan sisanya dengan motor matic lalu dua minggu sebelum melahirkan baru bawa mobil manual. Kayaknya beban di kaki jauh lebih berat di yang dulu kan ya? Jadinya saya nggak nuduh nyetir mobil bikin capek.

Berhubungan Intim Terlalu Kasar

Uhuk. Tidak. Setiap saya cerita kalau terjadi kontraksi dan bukaan proses kelahiran terlalu dini ini, kalimat tudingan semacam: Kamu ML gaya gimana sih? kerap saya terima. Saya berani bersumpah, penyebabnya bukan itu sama sekali. Tapi lack of sex itu menyebabkan masalah lain di kemudian hari. Memang, sperma bisa memancing kontraksi sehingga disarankan untuk berhubungan intim di akhir masa-masa kehamilan biar lahiran lebih lancar. Begitu menurut ibu-ibu dari Puskesmas yang memantau perkembangan kehamilan saya. Bikin capek juga? Hmmm..

Meski sekarang jadinya kerasa capek karena badannya sudah minta istirahat mulu.

Iya, sejak pulang dari rumah sakit, mendadak badan ini semakin gampang lelah. Semakin gampang terasa sakit. Biarpun urusan pikiran sudah bisa dibereskan, tapi belum juga terasa tenang. Kadang-kadang saya ingin kembali ke masa-masa tidak tahu apa-apa saja daripada tahu kenyataannya. Tapi saya juga rindu aktivitas full seperti dulu. Bekerja keras bagaikan kuda, kumpul dengan teman-teman, pulang tinggal tidurnya saja.

Sekarang, bekerja keras bagaikan kuda lalu sampai rumah tinggal jerit-jeritnya saja kalau segala otot menjerit minta dipijat tapi nggak boleh. Beberapa malam belakangan saya harus berpegangan cukup lama ketika berdiri dari rebahan. Salat sambil duduk karena pangkal paha terasa nyeri yang nggak tertahankan. Pun juga ditambah was-was karena efek dari proses bukaan jalan lahir terlalu cepat yang menyebabkan produksi lendir bertambah banyak.

Masih 4 minggu lagi sampai kondisi bayi aman untuk dilahirkan. Kadang-kadang bertanya dalam hati, sanggupkah saya bertahan santai saja seperti di kehamilan pertama dulu?

MAKAN TUH KESOMBONGAN DI KEHAMILAN PERTAMA YANG MUDAH! :))

Sharing after reading, yes?

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *