20 Tahun No Man’s Land Dalam Catatan

 

Hari Minggu kemarin, 18/10/15, adalah hari bersejarah yang ngga mungkin dilupakan. Buat Adhib, teman baik saya yang kerjaannya tiap hari ketik-ketik. Ketik-ketik cari uang, kata Uwing. Dari kecintaannya pada dunia musik, Adhib menjadi tangan kanan No Man’s Land untuk mencatat sejarah bertahannya band ini hingga mencapai 20 tahun dalam sebuah buku. Satu catatan, No Man’s Land bukan band mainstream di bawah naungan major label.

Saya tidak mengenal No Man’s Land. Saya tidak ngerti musik apa yang diusungnya. Namun sambil menulis cerita ini, saya mendengarkan salah satu lagu No Man’s Land – 20 Years of Oi!. Bukan jenis musik yang bisa didengarkan kuping bebal saya selama berjam-jam.

Ketika menghadiri launching buku 20 Tahun No Man’s Land, saya seakan tercebur pada satu dunia yang ngga pernah dicobain sebelumnya. Kuatnya persaudaraan, kuatnya ikatan yang disatukan lewat musik. Meski 4L yang dihadapi, lo lagi lo lagi, penuturan Mas Didith, vokalis No Man’s Land, cukup menerjemahkan pertanyaan yang ada di dalam bayangan.

Musik jenis apa sih. Aliran apa sih. Gayanya gimana sih.

Mereka bukan band mainstream. Apa adanya saja, ngga perlu drama untuk membuatnya di kenal di kalangan pecinta musik. Bahkan foto-foto yang berhasil dihimpun Mas Didith selama puluhan tahun itu pun terkumpul dengan penuh perjuangan. Dari hanya pengen dikenal di masa tua pernah main band-band-an, ternyata puluhan tahun ke depan No Man’s Land dikenal hingga ke Benua Eropa. Iya. Benua Eropa!

Amazing kan!

Mungkin prosesnya agak berbeda ya dengan mbak penyanyi yang go internesyenel itu, No Man’s Land tetap bertahan di Indonesia. Hanya kaset demonya yang dikirimkan ke mana-mana. Ya dulu kan pake kaset, kak. Sekarang sih bisa lewat Youtube atau attachment email. Mereka berhasil mendunia tanpa kehilangan karakter Arek Ngalamnya dalam kesehariannya.

Semua tercatat dengan rapi dalam buku yang ditulis oleh Adhib. 20 Tahun No Man’s Land mungkin tidak akan pernah mampir toko buku mainstream, untuk membacanya Mas Didith tidak membatasi kamu untuk memfotokopi teman, pun juga meminjamnya dari teman. Tapi kalau ingin mendapat langsung buku fisiknya, sila hubungi Adhib lewat Twitternya: @adhibmujaddid.

Sharing after reading, yes?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *