JD

Sejak jaman munculnya JD (sebut saja begitu) di depan hotel Kartika Kusuma jalan Kahuripan, bolak balik pengen banget ke sana. Tempatnya lucu gitu. Kecil dan tampak cozy. Apalagi status beberapa temen banyak yang ke sana. Apalagi Dito, my lil bro sering juga tampak nengkri di sana. Apalagi kalo ngga salah ini punya salah satu temen blogger, tapi lupa namanya :D. Apalagi salah satu progie kantor yang resign ternyata menclok di sana.

Jadi lah saat pulang dari perayaan ulang tahun kantor semalem, saya, boo dan bazz, yang bingung masi belom pengen pulang, dan pilah pilih tempat buat ngobrol-ngobrol, mencloklah di JD. Kami bertiga, dengan dandanan retro nanggung, boots tinggi, stoking dan rok, duduk di meja depan bar. Datang waitress melempar buku menu ke meja kami, melirik sepatu dan stoking, setengah lari kembali ke balik meja bar. Sistem open kitchennya bikin kita tau apa aja aktivitas mereka. Seperti, rasan-rasan, melotot-melotot sambil lirik kami bertiga.

Oyea, enough. Kafe dengan waitress norak kayak gini paling ngga asik untuk dikunjungi. 3 menit kemudian kami pergi dari JD.

Ok, saya tau itu mata pencaharian mereka, dan pernah ada seseorang yang ngereview negatif di jaringan malangkuliner ditanggapi negatif pula. Terus terang kalau review ya apa adanya lah. Jujur, saya kecewa dengan pelayanan di Java Dancer. Bandingkan dengan pelayanan di Coffee Corner tempat kami pindah acara ngobrol bersama 7 teman yang lain, dengan dandanan yang sama ancurnya. Mereka santai aja. Ngajakin ngobrol. Nyiapin kursi di teras. Biasa aja gitu loh.. Ngga pake episode sinetron melotot-melotot gitu.

Ah sudahlah, kalo kecewa pasti nulisnya jadi panjang kali lebar. Semoga lebih baik lagi saat kami datang ke sana nanti.

Sharing after reading, yes?

8 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *