Sekarang Kota Saya Punya Malang Autism Center

malang autism center

Hari Sabtu lalu saya memenuhi undangan dari bapak ganteng idola. Biarpun telat hampir 2,5 jam karena jalanan macet dari ujung ke ujung, plus nyasar, Pak Cahyadi masih asyik berbagi cerita tentang Malang Autism Center yang baru saja dibukanya ke teman-teman media.

Dasar blogger, datengnya telat maunya enaknya aja ngintip-ngintip jajanan sama makanan. Tapi kemudian saya terpesona pada cerita Pak Cahyadi. Mengurungkan niat ngambil minum, kemudian ikutan ndoprok di gazebo samping pagar.
 
Pak Cahyadi namanya, seorang petinggi di salah satu provider ternama Indonesia. Beberapa kali bertemu dalam banyak acara, baru kali ini saya mendengar bahwa anak pertamanya menderita autis dari kecilnya. Di usianya yang mendekati usia 17 tahun, Pak Cahyadi patut berbangga. Kini si sulung mengalami perkembangan pesat dalam kemandirian dan perilaku sosial dibandingkan di masa-masa kecilnya dulu. 
 
Entah sudah berapa puluh juta dikeluarkan demi si sulung agar memiliki kemampuan sendiri saat tidak bersama orangtua. Banyak tempat pendidikan anak autis dan ahli-ahli yang mengerti kebutuhan khusus anak autis didatanginya. Bahkan sempat salah satu ahli sangat underestimate dengan kemampuan si sulung untuk membentuk perilaku sosialnya karena sudah berada di kisaran usia 11 tahun.
Namun pak Cahyadi tidak menyerah.
penggagas malang autism center
 
Sejak saat itulah ia mulai mendidik si sulung dengan cara yang berbeda. Ada teori pendidikan yang diterapkannya, saya agak lupa dengan penjelasannya. Satu titik dasar adalah pembentukan kemandirian dari hari-hari yang padat aktivitas. Sejak adzan subuh terdengar sampai malam tiba, jadwal kegiatannya ditata rapi. Membuatnya terorganisir mengatur aktivitas sehari-hari. Dengan menyibukkan si sulung, kini tak sempat lagi ia untuk masuk ke dunianya kembali. 
 
Anak autis itu unik. Demikian yang bisa saya tangkap dari cerita Pak Cahyadi. Di satu sisi saya sempat juga berbincang dengan Ibu Vinka, salah satu pengajar di Malang Autism Center. Mereka sangat cerdas dengan rasa ingin tahu yang besar, hanya tidak bisa mengungkapkan apa yang di pikirannya seperti saya, kamu, dan teman-teman lainnya. Mereka berkomunikasi dengan bahasanya sendiri sehingga harus dilatih terus menerus, setiap hari, sampai si anak bisa memahami kebutuhan tubuh dan adaptasi di lingkungannya.
 
Ibu Vinka hanya satu dari puluhan pengajar Malang Autism Center. Dengan model boarding house, si anak akan dititipkan selama beberapa waktu untuk mendalami karakternya. Orangtua tetap harus memantau perkembangan si anak dengan secara teratur mengunjunginya. Dengan cara ini orangtua tidak melepaskan tanggungjawabnya pada pertumbuhan si anak untuk mencapai taraf dewasa dan bisa mandiri dengan usahanya sendiri. Karena menghadapi orangtua yang lepas tangan pada pendidikan anak autisnya, hasil maksimal bisa jadi tidak akan tercapai.
 
Malang Autism Center memiliki 5 kamar boarding, dan 5 ruang belajar untuk masing-masing anak. Dua gazebo dan dapur digunakan sebagai ruang kelas di luar agar tidak bosan dengan ruang tertutu. Setiap anak didampingi 2 pengajar, dan guru olahraga, juga ahli gizi yang akan terus memantau perkembangannya. Di aktivitas sehari-harinya, anak akan diajarkan cara mengatasi kebutuhan dasarnya sendiri mulai dari mandi hingga makan dengan rapi. Dengan terbiasa pada keteraturan, si anak kemudian akan diajarkan tentang budidaya hidroponik yang menuntut ketelitian terorganisir. Kelak ia akan dapat menghidupi dirinya sendiri dengan hasil panen yang didapatnya dari keterampilan tersebut.
 
Ke depannya, Malang Autism Center juga ingin membuka pelatihan pengajar anak autis secara gratis. Rencana ini tentu diperhitungkan secara tepat dari para pengurus sebelum memberikan modul pengajarannya. Namun melihat optimisme yang tercetak jelas di wajah Pak Cahyadi, saya yakin setiap langkah yang sudah diangan-angankannya ini akan membantu para orangtua dengan anaknya yang menderita autis.
 
Bertempat di Jalan Manggar no 8, Dau, Malang Autism Center adalah angin segar bahwa penyandang autis dapat mandiri, dan kelak dapat menghidupi dirinya sendiri. Pelatihan-pelatihan yang sudah dibuat modulnya bisa disesuaikan dengan bagaimana kondisi anak ketika hadir pertama kali di Malang Autism Center.
Kalau bingung di mana lokasinya, arahkan saja ke kendaraan ke Sengkaling, lalu belok ke arah rumah makan Joglo Dau. 50 meter dari pertigaan traffic light, melipir masuk gang di belakang KUD Batu.
 
Anak adalah anugerah terindah. Rawat, jaga, dan bimbinglah agar ia bisa menjadi orang yang berarti. Hari Sabtu lalu, saya menyetir motor pulang dengan hati bangga, melihat bagaimana usaha seseorang agar bisa berguna bagi lingkungannya.

Sharing after reading, yes?

8 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *