Keluarga Kasat Mata, Penunggu Yang Membuat #BahagiaDiRumah

Apakah kalian percaya bahwa setiap rumah ada penunggunya? Bagaimana wujudnya penunggu tersebut dalam bayangan kalian? Tinggi besar dengan suara menggema dan gigi yang tinggal satu dua, atau berwujud perempuan dengan tinggi tak seberapa berambut putih dan suka kelotekan di dapur seolah memasak namun biasanya dianggap mengganggu? Terlalu absurd bagi saya untuk menjelaskan wujud tersebut jika kalian belum pernah melihat penunggu-penunggu tersebut secara langsung.

Belakangan saya tidak jarang menjumpai mereka kembali karena sibuk berkelana dan membina rumah yang baru bersama pasangan saya. Di rumah saya yang baru, meski #bahagiadirumah berdua, kadang-kadang saya merindukan penunggu rumah yang dulu.

Mereka, keluarga kasat mata saya yang selalu muncul tidak terduga.

Sosok yang tinggi besar dengan suara menggema dan wujud bergigi tinggal satu dua itu misalnya. Rumah saya yang dulu berlantai dua. Bagian atasnya jarang ditempati karena saudara-saudara saya semuanya berkelana, satu di Jakarta, satu lagi di Gorontalo sana. Kakak memang masih sekota tapi bersama keluarganya di rumah berbeda. Rumah besar yang kini hening tanpa suara anak kecil lagi itu pun menjadi lebih lengang sehingga sosok tinggi besar itu sering terlihat melenggang di mana-mana. Naik turun tangga. Bermain pohon di kebun atas. Terkadang gemericik air terdengar dari taman di kanopi garasi.

Tanpa suara. Tanpa bicara.

Kemunculannya di kebun dan taman serta teras yang penuh dengan pot-pot tanaman selalu dihiasi kepulan asap. Kapan saja sosok tersebut berniat muncul, asap putih dengan bau menyengat selalu menyertainya. Makanya kadang-kadang saya sangat nggak berharap bertemu dengannya.

Asap bikin saya batuk.

Berbeda dengan kehadiran sosok perempuan dengan tinggi tak seberapa berambut putih yang biasanya terlihat di dapur. Dalam bayangan saya, tubuh ini terus meninggi sementara tubuh sosok perempuan tersebut malah semakin merunduk. Jauh sekali dengan cerita-cerita penunggu yang biasanya kemudian malah terlihat lebih besar ketika semakin dipikirkan. Sarangnya sendiri di dapur rumah yang dulu karena terletak di lorong garasi, agak gelap dan samar-samar pencahayaannya karena kamar samping lebih banyak tertutup.

Kadang-kadang sosok perempuan itu terlihat terdiam duduk di pojokan kamar bersanding tumpukan majalah Nova yang dekat dengan dapur. Kalau yang sosok tinggi besar sering bau, sosok perempuan itu sering mengagetkan ketika tiba-tiba muncul.

Terutama ketika ia berdendang.

Saya masih ingat masa kecil yang begitu menyeramkannya mendengar suara dendangan jelang subuh tiba.

“Bangun bangun, hari sudah siang…,” dalam gumaman yang dinyanyikan terus menerus sampai saya bangun, salat subuh dan siap-siap sekolah. Gumaman itu kadang-kadang masih didendangakan ketika saya tidur di rumah yang dulu. Setiap pagi.

Hingga saya memutuskan untuk total pindah ke rumah baru. Bebas dari penunggu, pikir saya waktu itu.

Merindu kelotekan di dapur yang dalam hening memang terasa seperti menenangkan. Meski terasa mengganggu, mereka adalah orang yang membuat saya #BahagiadiRumah karena merasa selalu ditemani. Selalu ada ketika saya bahkan tidak menginginkan mereka ada di sekitar.

Namun saya terus merindu. Apalagi begitu lama tidak bertemu. Kedua sosok tersebut kini sedang melepas rindu dengan anak-anaknya yang selalu mereka tunggu di rumah. Melanglang ke Jakarta dan terbang ke Gorontalo sudah lewat sebulan lamanya. Perjalanan panjang yang membuat rumah saya dulu begitu sepi ketika sesekali menengok untuk membersihkan debu kompor dapur dan menyiram tanaman di atap garasi.

Di rumah besar yang hening. Di rumah besar yang kehilangan sosok penunggu keluarga kasat mata itu.

Mama Papa kapan pulang? Kangen.”

SENT.

Keluarga Kasat Mata Penunggu Yang Membuat #BahagiaDiRumah

Sharing after reading, yes?

4 Comments

  • Aku ngga pernah (dan ga kepengen ketemu) penunggu di rumahku. The one and only merinding stories adalah setelah 40 hari Papa meninggal, tetiba jam 2 malam ampli gitarku nyala sendiri dan bunyi “tak-tok-tak-tok” sampe baterenya abis :”(

  • mungkin aku kurang peka, di rumah tempat almarhum ibu dan bapak ini, tempat aku dibesarkan juga, kok gak pernah diganggu dan gak pernah berasa yak.
    mungkin, mungkin aku kurang peka

    • aku sih kerasa banget klo pas di rumah cuma sendiri gini. maklum ya, kakak adek sudah keluar ruma semua. jadi tinggal sm mama papa gitu yang digangguin cuma aku aja. mama papa ga ngganggu kakak adek :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *