Mahakarya Indonesia: Menyimak Kegigihan Masyarakat Desa Bajulmati Kelola Goa Coban

5 tahun lalu berkunjung ke Bajulmati, saya hanya mendapati pantainya saja yang menarik hati. Sepaket dengan jembatan pelangi yang selalu saya sukai ketika melewati lengkungan busurnya.

Kemarin, tidak pernah saya sangka sebelumnya, saya dan Alex bisa bertemu dengan orang-orang baik yang dengan sabar dan gigih mengelola potensi lain dari lingkungan sekitar Bajulmati. Jika sebelumnya wisatawan hanya mengenal Bajulmati dengan pantainya, saya ingin mengenalkan kalian pada kekayaan alam lainnya, Goa Coban.

Adalah sekelompok pemuda desa Bajulmati yang tidak sengaja menemukan ‘lubang’ di perut bukit kapur ini sekitar tahun 2013 lalu. Sebelumnya lubang ini tersembunyi di balik air terjun, atau coban seperti yang disebut masyarakat setempat.

Ketika sungai masih mengalir dengan normal, pintu goa ini tertutup derasnya aliran air. Debit air sungai yang terus menurun, perlahan-lahan membuka pintu goa, dan terbuka total ketika lubang di atas goa terbuka. Seluruh debit air sungai kini melaju melintasi goa meninggalkan aliran air yang sebelumnya.

Satu demi satu pemuda desa Bajulmati mencoba menilik potensi goa tiban peninggalan sungai yang telah mati. Diperkirakan jarak mulut goa sampai ke lubang yang terbentuk di langit-langitnya tempat air masuk sekitar 200 meter. Dengan ketinggian lubang hingga 9 meter, goa ini dinilai cukup aman untuk ditelusuri ketika debit air sedang ideal.

Dilengkapi dengan stalaktit-stalaktit kecil dan tingkap goa yang seperti bangunan berlantai dua, Goa Coban memang sangat menarik untuk ditelusuri wisatawan. Belum lagi cerukan air dan ketinggian goa yang bervariasi, sungguh suatu tantangan untuk bisa melewati satu demi satu hingga ke ujung goanya.

Sayangnya, Goa Coban berada di kawasan desa sebelah. Hanya berbeda beberapa meter saja dari perbatasan antar desa. Namun Pak Ihsar salah satu penggerak pemuda desa Bajulmati tidak menyerah. Beliau mengajak kepala desanya untuk berembug menggali potensi Goa Coban untuk mendatangkan pemasukan bagi desa.  

Ini adalah salah satu gerakan Pak Ihsar yang sebelumnya merasa perannya dilewati karena pepohonan rindang yang ditanamnya selama puluhan tahun di mulut desa Bajulmati, ditebang begitu saja demi proyek tambak udang tanpa kulonuwun pada yang menjaga keindahannya. Melupakan kenangan pada jajaran pohon rimbunnya, Pak Ihsar mengembangkan potensi Goa Coban dibantu Cak Sis, tetangga depan rumahnya.  

Setiap saya pulang dari aktivitas mengeksplor kawasan Bajulmati, Cak Sis dan istrinya dengan sigap menyiapkan bergelas-gelas kopi dan pisang goreng hangat untuk dihidangkan sambil bercerita. Begitu pula ketika selesai memasuki perut Goa Coban, Cak Sis dan kepulan asap rokok kreteknya kemudian menceritakan perihal goa dan intrik mendapatkan ijin untuk membuka pintunya bagi wisatawan. Lepas dari cerita pak Ihsar dengan Goanya, Cak Sis menambahkan kegigihannya mendekati kepala desa Bajulmati untuk mendapatkan dukungan mengelola si Goa.  

“Sayangnya pengelola desa kurang menyambut antusiasme pemuda desa Bajulmati untuk mengelola Goa ini, mbae. Jadi saya mencoba mencari dukungan dari kepala desa sebelah. Nah, dari ijin kepala desa sebelah itulah Goa Coban mulai bisa dikelola. Tapi perjuangannya belum berakhir,” Cak Sis kembali mengepulkan asap rokoknya. Pandangannya menerawang mengingat kembali masa-masa sulit mengkoordinasikan keperluan banyak pihak yang ingin mengelola Goa Coban pada akhirnya.

Belum lagi adanya pihak-pihak yang menyelinap masuk goa tanpa ijin masyarakat setempat sehingga membahayakan dirinya karena tidak didampingi guide yang berpengalaman. Urun rembug pun kembali dilakukan demi pendapatan semua pihak, dan kenyamanan wisatawan yang ingin mengunjungi Goa Coban. Kesabaran mendekati semua pihak tersebut juga mengetuk hati banyak dermawan.

Satu demi satu orang yang peduli dengan kemajuan desa Bajulmati pun membuka mata. Tidak hanya bakti sosial untuk membiasakan masyarakat desa dekat dengan orang baru, juga limpahan safety equipment untuk pengunjung juga diberikan. Pelampung, helm, sepatu safety, agar pengunjung aman dan nyaman ketika menelusuri gua. Bahkan satu dermawan menyumbangkan sebuah truk untuk mengembangkan satu potensi desa lainnya yang sedang mulai dikelola, kanoeing menuju Pantai Ungapan, sebelah Pantai Bajulmati.

Kini, Goa Coban dikenal dengan penduduknya yang ramah yang selalu membuka pintu rumahnya lebar-lebar jika ada mahasiswa yang ingin meneliti goa. Jika ada wisatawan yang ingin menelusuri goa. Atau jika ada pengunjung yang ingin tinggal di homestay dan merasakan sambal segar ulekan para istri pemilik homestay. Warga desa Bajulmati dan desa sebelah telah memahami benar bagaimana menyambut tamu-tamu dengan keramahan yang tidak dibuat-buat.

Goa Coban pun tetap membuka pintunya lebar-lebar bagi siapapun yang ingin melihat isi perutnya. Bermula dari penemuan biasa, urun rembug masyarakat seperti Jiwa Indonesia yang telah dikenal sebagai ciri khas Indonesia, adalah Mahakarya Indonesia yang tidak ternilai harganya. Bukan hanya dari sisi keindahan goanya, tapi bagaimana proses membentuk masyarakat untuk menyambut perubahan ketika membuka wilayahnya bagi orang-orang tak dikenal yang ingin mengenal potensi kekayaannya.

Mereka tidak mengeksklusifkan diri, namun tidak juga membuka potensi wisatanya begitu saja tanpa perlindungan. Setiap saat masing-masing warga saling menginformasikan jika ada pengunjung yang ingin memasuki wilayah Goa Coban. Bahu membahu mereka bersama-sama bertanggungjawab terhadap keselamatan potensi desanya, termasuk keselamatan pengunjung yang tertarik pada Goanya.

Kerjasama yang baik selama beberapa tahun belakangan inilah yang membuat Goa Coban tetap aman ditelusuri dan dinikmati keindahannya.

 

Sharing after reading, yes?

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *