Public Relation Through Social Media

Tanpa banyak yang menyadari, social media adalah ajang bagi penggunanya untuk mempromosikan diri. Menghubungkannya dari satu dengan yang lain, dan terhubung ke berbagai jaringan lainnya. Sayang, kode etik jarang berlaku di dunia maya sehingga masih banyak yang seenaknya saja memanfaatkan akunnya.

DISCLAIMER: Bukan kamu kok.

Coba perhatikan beberapa aktivitas akun brand dan akun-akun personal yang secara tidak langsung mempromosikan aktivitas perusahaannya. Mungkin yang perusahaan-perusahaan besar sudah menerapkan sistem ‘protected post’ di mana tidak semua karyawannya bebas menginformasikan apa yang terjadi di dalam lingkup pekerjaan. Ada juga yang mengharuskan karyawannya untuk membantu publikasi dan ada juga yang akun personal karyawan turut mempublikasikan informasi tersebut dengan penuh kerelaan. Ngga papa sih, asal ngga bikin gemes saja cara publikasinya seperti:

1. Merespon dengan ASAL.
Bukan ASAP. ASAL. Saya pernah mendapat jawaban begini di salah satu akun brand penyedia jasa waktu bertanya ada paket wisata apa engga ke daerah yang saya tentukan. Jawabannya: “Ngga ada Mas, lagi sibuk.” gitu aja.
Apa yang bisa diharapkan dari akun brand dengan jawaban seperti itu? Klik unfollow. Kita sendiri mungkin pernah menjawab dengan demikian di akun personal milik masing-masing. Sehingga jadi terbawa ketika tiba-tiba diserahi tanggungjawab memegang akun tempat bekerja. Mengubah mindset diri sendiri ke sebuah brand memang ngga mudah. Jadi, bertindaklah sebagai konsumen untuk mengetahui apa bedanya. Kalau perlu buat protokol cara menjawab setiap pertanyaan dengan jawaban yang sama dari semua pemegang akun.

2. Tag Massal
Dulu, di Facebook dan sudah sangat jauh mereda sampai tidak ada lagi tag dari online shop di akun saya. Sekarang tag massal kembali terjadi di Path. Jejaring sosial tempat hahahihi bersama teman-teman dekat yang kemudian melebar karena ketemu temen baru dan bertanya “Aku diadd dong Path-nya”. Crap. Di situ saya merasa sedih dan salah langkah.
Akun path saya termasuk yang santai aja bro. Promo ya promo, tapi ngga kebangetan. Sampai kemudian ditag massal pada sebuah promo activity, yang kemudian direpath repath repath tanpa untag. Tag level 1 sih masih ngga papa. Level 2-3-4-nya yang disturbing. So biasakan untag ketika repath ya.

3. Ngetag Kemudian Ngambeg
Iya mbaknya ngambeg. Pake nyindir segala kalo posting tanpa tag karena ada yang ngerasa keganggu :)).
Gini, ngambegan di jejaring sosial itu lucu lho. Apalagi kalau kamu membawa nama perusahaan tempat bekerja di status nyinyir itu. Apalagi kalau perusahaan tempat bekerjamu itu pernah memiliki pengalaman buruk dengan blog ini. Apalagi kalau engga terbersit dalam pikiran: YAELAH SEGITUNYA AJA PERUSAHAAN SAMA KARYAWANNYA.

4. Tag Massal dari Akun Yang Tidak Dikenal
Repotnya lagi karena akun Path sudah diketahui orang banyak yang ngga dikenal, akun saya kemudian ditag lagi di promo lainnya oleh temannya teman di Path. Kemudian setting ‘only friend can tag’ biar kembali kondusif.

Bah, ini postingan curcol banget.

Sebelum kembali ke deadline yang menyita waktu, buat kamu yang ingin terjun ke sosial media untuk membranding diri dan berkomunikasi dua arah yang menyenangkan, banyak-banyak membaca, banyak bertanya, dan jangan terlalu banyak diambil hati. Sosial media itu tempatnya orang ngomong tanpa dipikir, tapi alangkah lebih baiknya kalau kamu juga punya etika yang membatasi diri untuk tidak menjadi orang yang menjengkelkan di dunia maya.

Bawalah dirimu ke dunia pergaulan yang lebih dewasa, tanpa menjadikan akun sosial mediamu menjadi tempat sampah curahan hati yang bisa dinyinyiri oleh siapapun juga. Kebiasaan itu bisa membentuk pribadimu untuk lebih dewasa menanggapi apa yang terjadi di akun brand yang kamu wakili secara tidak sengaja.

Be wise. And feel free to untag when repath, will ya?

 

 

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *