Makanlah Karena Lapar, Hiduplah Untuk Sebuah Alasan

Semua orang selalu bilang SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA ketika sedang mengalami kemalangan. Kesusahan. Ketidakpas-an dengan apa yang diimpikan.

Saya pernah menghibur diri dengan kata-kata tersebut. Tapi mengalaminya sendiri ternyata jauh lebih melegakan. Karena ada banyak alasan di balik setiap kejadian yang bisa saya ambil hikmahnya. Seperti ketika kamu lapar dan makan, mungkin benar ketika kita membutuhkan satu alasan untuk hidup.

Semakin ke sini, saya benar-benar paham, kalau hidup kita ini tidak sendiri. Hidup ini sudah ada jalan yang mengatur dan diatur oleh Yang Maha Kuasa. Mulai dari saya tidak lulus-lulus dari kuliah dengan berbagai macam alasan, tapi memang di situlah saya sedang dibutuhkan untuk menjaga rumah ketika jauh dari orang tua. Dan menjaga kakak saya hingga ke jenjang pernikahannya. Kemudian saya baru lulus kuliah.

Pertama kali bekerja pun saya dihadapkan pada pilihan: MASUK MALAM. Berhubung bos saya gantengnya luar biasa, saya sih oke-oke saja. Sampai ketika saya sadar ini sudah digariskan, karena waktu paginya saya menjaga ponakan kecil saya yang baru lahir dan mamanya yang dokter tidak punya banyak waktu untuknya. Begitu juga ketika jam kerja saya bergeser dan lebih banyak shiftnya, itu juga saat keponakan kecil saya masuk sekolah di hari yang pas dengan shift saya masuk siang.

Garis selanjutnya saya kembali menjaga adik-adik saya saat mereka menikah karena calon saya masih sekolah. Sampai ketika giliran saya menikah dan melihat saudara-saudara saya berkumpul dan membantu total ketika saat saya menikah, itu rasanya jauh lebih luar biasa. Saya merasa roda garis masih tetap berada di jalurnya ketika saya yang punya pekerjaan dengan banyak waktu luang. Nenek dari papa, dan kakek dari mama mertua, adalah tanggung jawab saya dan suami untuk menjaga mereka.

Awalnya sulit untuk berpikiran baik, tapi melihat begitu banyak pertanda di perjalanan saya sebelumnya, saya ngga suudzon lagi kepada pemilik takdir ini. Biar bebas menunggu orang-orang tua di sana dan sini, saya dan suami masih berdua saja. Saya ngga sombong, saya sebenarnya terluka karena tidak bisa mengejar cita-cita seperti kamu-kamu yang langsung memiliki momongan dan bisa bebas hidup bersama keluarga kecilmu.

Tenang, wahai pikiran. Tenang. Masa depan masih bisa dikejar sambil menikmati tahun-tahun saya bersama si dia. Semoga cepat sembuh abah. Selamat reuni mama papa.

Selamat ulang tahun pernikahan, sayang.

Sharing after reading, yes?

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *