Kisah di Balik Kejayaan Biji Pala dari Banda Neira

“Tuan-tuan, apakah kalian tidak mengenal belas kasihan?” pintaku pilu..

Di depan sana, tubuh-tubuh bergelimpangan meregang nyawa. Para pemimpinku, para tetua, dan orang-orang berpengaruh di Banda, tak dapat lagi membela kami rakyatnya. Nyawa yang tak lagi ada ditebas pedang serdadu Jepang di bawah pengawasan utusan VOC.

Lidahku kelu. Mulutku bisu. Langkahku mati kaku ketika digiring menuju kapal yang akan membawa kami ke Batavia untuk dijadikan budak. Ratusan orang meregang nyawa. Ribuan lainnya memilih meloncat dari tebing dan lari ke pulau Seram meninggalkan harta benda daripada menyerahkan hidup pada penguasa.

Demi menguasai perdagangan biji pala, kekayaan tanah kami, tanah Banda!

Continue reading

Mencicipi Afternoon Tea di Hotel Tugu Malang

Tidur siang.
Mandi sore.
Main sama teman-teman di dekat rumah.
Pulang, ngemil jajan bareng bapak ibuk.

Begitulah kebanyakan masa kecil yang diingat dari generasi saya. Begitu pula yang ingin diberikan Hotel Tugu Malang pada para tamunya setiap sore mulai jam 4 hingga 6pm di Afternoon Tea. Lewat secangkir teh dan kue-kue kecil untuk ngemil, suasana yang tadinya sedikit resmi, mencair seiring dengan keletikan bunyi sendok di pinggir cangkir.

Anak-anak berpiyama yang mengambil piring penuh jajan. Sementara ayah ibunya menanti di teras depan. Menyesap teh atau kopi pilihan, serta es dawet segar bagi yang pengen sedikit dingin untuk menyegarkan badan. Pilihan sekarang mungkin akan beda untuk besok lho, karena Hotel Tugu akan terus menghadirkan jajanan dari kearifan lokal kota Malang.

Debu dan deru jalanan di depan jalan Tugu no 3 itu pun menghilang. Rasanya suasana kembali pada romantisme masa kecil yang sudah sempat terlupa. Kebiasaan masa kecil saya bersama ibu dulu di Madiun tempat menghabiskan umur 5-11 tahun sebelum menjadi besar dan jauh dari keluarga di Malang.

Haru dalam hati. Masih ada yang mau mengingat dan menghadirkan kembali romantisme masa kecil di sini.

Lezat kue di lidah, dan sepat teh memberi kehangatan di antara bincang-bincang keluarga dari berbagai daerah yang datang menginap di Hotel Tugu.

Waittt… Siapa bilang Hotel Tugu hanya untuk bule?

Body Boarding di Pantai Kuta vs Pantai Double Six Legian

Pantai Kuta dengan garis pantai yang jauh dan ombak yang relatif menggelora, sering dijadikan spot yang apik untuk menunggu matahari kembali ke pelukan bumi. Banyak pengunjung yang hanya sekadar duduk-duduk saja, ada pula yang jogging sore, menikmati akhir hari bersama keluarga, dan beberapa bermain dengan ombak di tengah lautannya.

Ada yang bermain surfing ada pula yang bermain body boarding. Meski pernah tinggal di pesisir lautan dan pernah hitam legam seperti anak pantai, saya baru mengenal body boarding di usia kepala 3. Pertama kali si cinta yang mencoba, dan saya masih acuh tak acuh kepengen ngga kepengen mencobanya.

Sampai sekali lagi diracuni oleh Boolixious.

Pagi itu dari Best Western Kuta Beach, Bali masih pagi. Dengan baju renang di bawah kaus lengan panjang, saya mencoba body boarding di Pantai Kuta. Masih dengan pagi yang sama, dua hari kemudian dari Sara Residences, saya mencoba body boarding di Pantai Legian. Biarpun berada di garis pantai yang sama, ternyata ada bedanya.

Body boarding di Pantai Kuta



Harga sewa body boarding relatif mahal, susah ditawar. Dari 50ribu hanya turun ke 40rb.
Lokasi yang paling populer di Bali, membuat pantai Kuta ramai dengan wisatawan domestik. Which is kalo mau bilang sungkan, ya sungkan banget mau bikinian. Hahahaha..
Ombak relatif besar, tapi cukup tenang. Dalam artian tidak ada ombak yang bersusulan datang.
Pasir kasar, bikin dengkul beset-beset kalau meleset jatuh dari papan.

Body boarding di Pantai Legian


Harga sewa body boarding relatif murah. Ngga usah nawar dikasih harga 25ribu dan sewa kursi 50ribu. Jadi ga bisa nawar, soalnya sudah senang harganya separo dari di Pantai Kuta, hihihi
Di sini lebih common dengan bule. Main body boarding malah malu soalnya yang laen pada surfing. Mau nyoba surfing, ga berani njebur di laut yang lebih dalam.
Ombaknya besar dan bersusulan, bikin body boarding senang. Dari tengah bisa sampai pinggir pantai. Ngga perlu nunggu lama, ombaknya banyak datang kalau pagi-pagi di pantai.
Pasir cenderung seperti pasir besi yang butirannya super lembut, sampai bisa masuk ke serat-serat pakaian. Baju renang saya masih menyimpan pasir itu biarpun sudah dicuci 3 kali.

Jadi, mau nyoba body boarding juga? Mau diajarin caranya?

Dompet Etnik Cantik Souvenir Wedding yang Unik

Tidak ada yang berkesan tanpa kehadiranmu.

Begitulah yang biasanya diucapkan di undangan-undangan reuni. Dan saya jarang ikutan reuni karena sudah biasanya bertemu di pesta pernikahan, atau pun arisan, mungkin juga rujakan, atau di mol bareng teman-teman.

Meski ada bedanya. Kalau di reuni dapat cerita, ketemu di pesta pernikahan dapet souvenir. Seperti souvenir dompet cantik dari NIESTU Genuine Leather ini.

Kenapa ya saya baru sadar belakangan kalau teman-teman SMA saya super duper kreatif. Mulai dari fotografi Happipolla, disain KDRI, batik Antique Boutique, dan banyak lagi yang mungkin saya ngga tau. Perasaan waktu SMA dulu kita banyakan tampang lugu yang hahahihi tanpa mikir seni deh.. x)

Dan ini adalah salah satu contoh kecil dari tangan kreatif Heni Estu. Selain souvenir dompet etnik yang cantik, Heni juga mendesain, memroduksi, dan menjadi model, serta memasarkan hasil karyanya yang berupa tas home made cantik. Dari Turen di kabupaten Malang, hingga ke mancanegara, karyanya sudah mendunia.

Koleksi tas cantik hasil karya Heni bisa kamu lihat di temaniestu.com. Kabarnya display Niestu Genuine Leather ini juga bisa dilihat di Hotel Swiss Bell-In. Siapa tahu kamu pengen lihat dan memegang tasnya biar tahu kualitas tas Niestu sendiri.