Bicara Pada Hati

Dear Hati,

Sekali lagi kamu diuji. Dalam rentang waktu yang hanya beberapa hari. Aku tahu, lukamu yang berserabut belum lagi tertutup.

Tidakkah kamu ingin menyerah?

Tidakkah kamu ingin bahagia?

Bahagia tanpa usaha. Tanpa bersusah-payah memunguti kepingan kenangan yang bisa membuatmu bertahan? Sekian. Lama.

Dear Hati,

Cinta. Harapan. Kenyataan. Tidak pernah seperti yang kamu cita-citakan. Tidak. Pernah. Sekali lagi, garis bawahi, TIDAK PERNAH. Kaleidoskop yang kamu tinggalkan setiap tahun, hanya berkutat tentang jatuh, jatuh, jatuh dan kamu terus jatuh hingga detik ini.

Kamu kuat, Hati.

Tapi kamu bodoh. Bertahan hanya pada keindahan yang dilihat di depan mata ketika pengkhianatan itu terjadi setiap kakinya beranjak sejengkal saja dari hadapanmu. Hatinya? Pernahkah kamu bertanya apakah hatinya padamu?

Hati,

Sudahlah. Mari kita akhiri penderitaan kita. Aku tidak ingin kamu berdarah-darah setiap malam. Menangis dalam diam. Memeluk dirimu yang terperas kesakitan.

Hati,

Kamu layak berbahagia. Kamu pantas mendapatkan bahagia. Kamu harus berbahagia. 8 tahun yang kamu sia-siakan ini, ikhlaskan. Lepaskan. Jangan lagi kamu pertahankan. Kamu harus bahagia. Kamu wajib bahagia.

Hati,

Jangan menyerah pada keinginan untuk pergi saja. Perjuangkan kebahagiaanmu agar mereka yang menyayangimu bangga. Melepaskan diri memang tidak gampang. Tapi kamu punya banyak pegangan. Berjuanglah.

Dari aku. Yang telah menemukan bukti-bukti kuat untuk mendukung langkahmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.