Hanya Ingin Bercerita

Ada beberapa waktu saya ingin mengisi blog ini dengan cerita kehidupan lagi. Sekitaran cerita dewasa tentang kita-kita yang telah memilih hidup berumah-tangga. Tentang cara membayar tagihan listrik dengan cashback, atau cerita tentang tempat belanja bulanan yang banyak diskonan. Bagaimana perasaan deg-degan ketika sudah jatuh tempo. Belum lagi soal melunasi tunggakan KPR. Dan memilih tempat sekolah anak balita yang murah di Malang. Banyak topik cerita dewasa yang bisa diangkat jadi tulisan blog.

Semua itu belum saya lakukan. Karena mengingat jatuh tempo tagihan-tagihan ditakeover Mama agar ada kesibukan setiap bulan. Belanja bulanan pun seringnya saya lakukan sambil jalan-jalan makan siang di akhir pekan. KPR tidak punya. Anak belum masuk usia sekolah. Lalu saya bimbang, saya mengalami cerita dewasa yang macam apa.. 

Bagaimana kalau saya cerita tentang didatangi perempuan yang saya duga pacarnya si dia? Kaget jelasnya. Saya tahu, menduga-duga tanpa bertanya itu cuma cemburu belaka. Jadi FYI, sudah diselidiki dengan banyak bukti. Selama beberapa waktu belakangan, sejak selesai cuti melahirkan anak kedua, saya dalam proses melupakan meski kadang radar waspada masih terpasang. Kerja, menyusui, anak 2, itu sibuk coy! Sehingga yang ingin saya lakukan adalah berbagi cerita dengannya, apa saja yang dilakukan anak-anak saat dia kerja.

Pernah satu waktu, saya mencari keberadaan si dia saat dinihari karena hawa tidak enak menyergap di dada. Dia tidak bisa dihubungi. Keliling kota dengan Ninja mencari Mbak Sienta. Di tempat kerjanya tidak ada. Esok paginya saat gantian kerja, di mobil ada dua tiket ke salah satu destinasi wisata malam di Batu. Karena masih kesal dan kurang tidur, lanjut meeting on call dengan Jakarta, si dia tidak juga membalas pertanyaan untuk apa tiket itu ada di mobil, dengan gelap mata saya menuduh perempuan itu bersamanya. Seperti saat mereka kondangan di luar kota yang bilangnya beramai-ramai tapi fotonya cuma berdua.

Saya ceritakan ini karena tuduhan tiket itu diingatnya baik-baik dan menjadi topik ketika ia melabrak saya malam tadi. Sayanya sudah lupa karena nomernya sudah saya blok ketika saya bertekad untuk melepaskan beban yang tidak perlu saya pikirkan. Saat sedang asyik menyusui si kecil dan menemani kakaknya nonton Youtube. Bertiga menunggu si dia sampai jam kerjanya habis untuk pulang bersama. Saya tahu, memberi tontonan Youtube bagi anak bayi tidak baik, tapi ternyata jauh lebih baik daripada memberi tontonan dua perempuan yang sedang bertengkar.

Tengkar karena laki-laki. Gosh, tidak pernah dalam bayangan saya akan mengalami hal seperti tadi malam. Perempuan itu marah karena saya menuduhnya, baik saya paham. Walau dalam hati saya sebenarnya bertanya-tanya, jangan-jangan ia cemburu karena yang diajak itu bukanlah dirinya. Ok itu kembali pada cemburu. “Kamu itu kalau cari tahu tentang suamimu, harusnya tanya ke aku!” “Jadi kamu tahu lebih banyak suami saya ketimbang saya?” “NGGAK GITUUU!”

Terus gimana? Singkat cerita, dia pergi sambil ngomel-ngomel meninggalkan sejuta tanda tanya ngakunya berteman tapi marahnya kayak pasangannya direbut orang.

Sebenarnya pertanyaan yang jauh lebih penting adalah kok perempuan itu bisa tahu saya ada di mana. Bukan di rumah. Bukan di tempat yang biasa saya datangi. Karena mobil tempat saya kebetulan menunggu ada di gedung sebelah tempat kerja si dia. 

Marah. Jelasnya saya marah. Ini bukan cerita dewasa yang saya inginkan untuk diingat nanti saat sudah tua. Gobloknya saya kemudian menyetir mobil dalam keadaan marah. Terima kasih atas pengalaman bertahun-tahun mengemudi, emosi ini bisa terkendali. Dua anak selamat sampai rumah. Si dia ikutan marah dan lompat dari mobil yang berjalan. Dan selamat juga karena menyusul pulang.

Bahwa saya bercerita ini masih dengan hati yang marah, ya. Bahwa saya ingin mengambil credit sebagai istri yang dikecewakan suami, ya juga sih. Bahwa cerita ini hanyalah sekian dari banyak perempuan yang tidak saya ceritakan, itu juga hak saya. Berulangkali saya mencetus status dan update Twitter bahwa lelah ini terulang lagi. Bahwa saya sudah tidak ingin mengalaminya lagi.

Bodoh. Beginian aja diceritain.

Ga usah dimasukin ati [read]  
Forget and move on [read]

I’m trying. [sent]
Hey, ada promo Excelso buy 1 get 1! [sent]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *