May 3rd, 2012

Manisnya Coklat di De Chocolat Cafe

Deretan cafe yang perlu dikunjungi di kota Malang semakin panjang saja. Belum sempat ke yang satu, sudah muncul yang lain dengan genre yang berbeda. Pernah melihat De Chocolat?

De Chocolat melawan mainstream kopi dengan menyuguhkan menu berbasis coklat bahkan sampai pohung aka telo cocol coklat. Lucuk, setiap gelas dan piringnya berlabelkan De Chocolat yang apik. Kami memilih Blueberry Chocolate dan Hot Chocolate. Standar. Justru itu menu standarnya harus dicoba, kalau standar yang sering dilewati ngga enak, gimana yang sudah olahan? *ngeles* 

Selain minuman coklat, saya juga memesan Choco Casava (pohung goreng cocol coklat), Double Sausage  dan french fries. Di luar hujan, jadi ngemilnya banyak. Intinya sih mau makan Fried Rice sayangnya katanya sold out *sambil nglirik jam 7pm*. Dengan logika jam 7 masih sore dan nasi goreng itu menu yang paling mudah dibikin kayaknya kok lucu. Kalau Sandynata dulu pesan choco casava dengan coklat di gelas yang meleleh-leleh, coklat saya beku. Jadi pohungnya ngga bisa dituang, akhirnya dicocol. French friesnya enak dengan taburan apa ya itu, kudu nyoba bikin kayaknya. Dan sosis gorengnya bikin saya mikir yang iya-iya. Ada Tom Yun juga lho… next saya pesen tom yum aja.

Kalau mau ngeliat arsitektur dan tampilan cafe coba lihat di blognya Sandynata. Saya terlalu malu untuk foto-foto kalau lagi banyak orang gitu. Rasanya belum terlalu lama muncul, De Chocolat Cafe sudah memiliki banyak penggemar rupanya. Sofa-sofa berbantal besar menyenangkan untuk pacaran di pojokan secara di rumah saya ngga punya sofa segede itu juga.

Belum tau tempatnya? Untuk keluarga muda dan yang usia sebaya sama saya-yang-sering-nyari-kado-buat-bayi pasti tau Buchi Kids di sekitaran Perempatan Rampal. Nah De Chocolat ada di sebelahnya. Cukup tricky kalau mau parkir, Buchi Kids pengunjungnya buanyak, mending pakai motor daripada mobil. Yook., ke sana?

 

Bookmark and Share
May 1st, 2012

Pesenannya Mana?

Konser Avenged Sevenfold dibatalkan! Secarik berita yang muncul di timeline mengurungkan niatku pulang. Dan dua jam kemudian saya masi berkutat mencari fakta-fakta berita. Sampai lapar mendera dan tongkat estafet saya lemparkan. Lapar.

Pusing mencari menu yang tepat karena di rumah tak ada orang, saya pilih APS di dekat lokasi pembangunan  Menara Soekarno Hatta. Pengen duduk di mezzanine tapi cukup ramai malam tadi. Memesan Pecal Lele dan Cumi Asam Manis, es teh dan soda gembira. Minuman datang dengan cepat. Lima…sepuluh menit, makanan tak kunjung tiba. Saya belum peduli karena memang ramai. 15 menit mulai terasa dan mulai dilirik-lirik waiter karena hanya ada es teh dan soda gembira terhidang di meja.

Fyi, waiternya ganteng.  Waiter ganteng itu rupanya ngga tahan juga untuk ngga bertanya.
Waiter: Cuman pesen minum aja? Ngga pesen makanan?
Pacar: Justru kita yang harusnya nanya, pesenannya mana kok ngga dianter?
Ngga heran lah jadi esmosi dikit, meja sebelah yang baru dateng aja pesenannya cepet bener, apa cuminya masih mancing?
Dan ngga asyik bener pelanggan ditanyanya seperti itu. PLAKable banget. Kalo mo minum-minum ngga ke resto saya mah, cafe aja. Pelit amat ngasi sambel juga cuman dioles di lele ngga ada puasnya makan penyetan macem itu lah.

Kalo kamu ditanyain kayak gitu, kamu jawab apa? Saya tadi bengong ngga bisa jawab. …. PLAK.

Bookmark and Share
May 1st, 2012

Milk Story Baru?

imageHari ini agak berat untuk dilalui. Gempuran Super Junior bertubi-tubi. Sampai pantat berasa lengket di kursi. Tapi kalau mau coba tempat makan baru emang ngga perlu alasan kayak di sebelah itu sih, heheheh. Untuk menghibur hati, saya pengen coba Kedai Masakan Mama.

Nah, pas lewat jalan yang seperti saya bayangkan di mana kedai itu berada, ada tempat cantik yang saya kira Kedai Masakan Mama. Waktu waiter nyodorin Milk Story menu, lho kok jadi bingung? Hashashas, ternyata saya salah gang. Berarti saatnya minum minuman sehat! Susu! Yogurt! Dan saya malah mesen Coklat Lava. Coklat Lava itu kewl banget! Kalo cakenya dibelah, coklatnya meleleh-leleh keluar dengan sedapnya. Bentuknya mirip dengan yang di KFC, tapi yang ini lebih gede.

Selain coklat lava, kamu juga bisa coba Spagheti Pedas-nya untuk makanan berat. Selain itu masih ada burger dan hotdog yang harganya berkisar mulai 10k-16k. Susu dan yogurt aneka rasa harganya mulai 6k. Dan ada olahan tambahannya seperti milkshake dan lain sebagainya.

Milk Story jalan Diponegoro deketnya Bakso Bakar Pak Man ini cozy. Beberapa set sofa etnik berada di pinggir area makan. Walau kurang nyaman kalo untuk berduduk ria bersama-sama soalnya kesannya kaku kalau pakai sofa etnik. Coba yang dipasang sofa gede, empuk, pakai bantal-bantal, betah nih lama-lama kopdar sambil nyamil susu. Pake wifi ngga ya, kurang tau soalnya lagi ga bawa getab.

Dan tau ngga, Kedai Masakan Mama ada di seberangnya Milk Story ini dikit –”.

 

 

Bookmark and Share
April 25th, 2012

Tentang Geng Motor

Sudah lama saya diam, memperhatikan. Semakin ke sini yang disebut geng motor oleh media semakin kabur artinya. Hanya 3 orang motoran aja bisa disebut geng motor tanpa sumber yang jelas walau aksinya memang meresahkan.

Pagi saya dimulai dengan bete demi kebetulan nonton berita itu. Ada 3 orang motoran masuk jalan tol tengah kota dengan ugal2an. Gitu uda disebut geng motor aja tuh… Pertanyaannya, di mana petugas tol? Apa pintu tol ngga ada yang ditutup dan mereka bisa nerobos tanpa dicegat? Kalian berkewajiban lho mengamankan ranah tanggung jawab kalian. Pukul saja jika tidak mau berhenti. Sekarang yang lebay malah petugas hukumnya sendiri karena ngga menindak tegas dimulai dari kecil, seperti kejadian di tol itu misalnya.

Dan imbasnya tentu ke komunitas dan klub motor. Saya dulu aktif di klub, mengelola klub dengan profesional bekerjasama dengan pihak sponsorship membuat tanggung jawab kami jadi lebih besar. Anggota diseleksi ketat. Berulah tidak dikeluarkan, tapi mendapat teguran keras. Sekarang mereka yang mengelola begitu akhirnya disamaratakan dengan kumpulan orang yang ngga jelas. Anak klub dan komunitas itu bangga dengan atributnya, yang tanggung jawab pasti akan berlaku santun di jalan ketika memakainya. Tidak bisa dihindari ketika ada yang masih baru dan lagi seneng-senengnya biasanya darahnya lebih cepat naik.

Adalah suatu kebanggaan bagi semua orang kalau kegiatannya diliput dan dijadikan bahan pembicaraan di masyarakat luas. Begitu pun kami, dan yang mengatasnamakan geng motor tesebut. Media, bekerjasamalah dengan pihak berwajib untuk mengendurkan sedikit tensi pemberitaan. Agar mereka yang disebut geng motor itu tidak semakin merajalela dan merasa dirinya raja. Tapi apalah kita, hanya penonton saja. Apalagi in depth interview salah satu media ternama yang seolah-olah berhasil mewawancara salah satu geng yang cirinya memakai pita. Saya ngga meragukan dengan kualitasnya sih, tapi…efeknya? Luas. Menimbulkan gesekan antara dua kekuatan besar yang efeknya bukan mendamaikan justru menyiram bensin ke api.

Inilah gunung es sesungguhnya. Ketika masyarakat tak lagi percaya pada kemampuan yang berwajib. Main hakim sendiri dihalalkan. Dan dijadikan seperti pahlawan. Saya, yang mantan anak motor ini cuman pengen bilang untuk anak klub dan komunitas motor untuk merapatkan barisan. Mencegah celah bagi penyusup untuk menyulut bara di tubuh kalian. Susah susah kita membangun nama, membangun jejaring pertemanan kalau hanya emosi semata. Besarkan nama dengan kegiatan positif seperti biasa saja ya.

Viva HTCI!

Bookmark and Share