Category Archives: bingung

My Sister’s Keeper

In a gloomy mood, saya memilih nonton My Sister’s Keeper sebagai pengantar tidur tadi malam. Sebenarnya pilihan yang salah, karena bikin mood semakin down mengingat hari yang berat yang baru saja berlalu.

Film drama keluarga yang anak ke duanya mengidap kanker darah atau leukemia. Semua anggota keluarga, bapak, ibu, anak pertama, dan anak terakhirnya menjaga dan merawatnya dengan baik, dengan iklas. Sampai suatu hari si adek mencari pengacara yang mau memperjuangkan hak atas badannya. Anna, si adik, adalah anak yang dilahirkan dengan fungsi sebagai donor untuk kakaknya penderita leukemia tersebut. Di balik itu ternyata Anna didorong oleh keinginan menyelamatkan kakaknya yang sudah berjuang melawan kanker dan kehilangan kekasih yang sama-sama pengidap kanker. Alasan si kakak masih terus berjuang adalah keinginan si ibu yang ingin menyelamatkan nyawanya dengan berbagai cara. Ketika alasan Anna terungkap, ibu rela melepaskan, si kakak menghembuskan nafas terakhir malam itu juga.  Continue reading

Tradisi Bermotor Yang Hilang

Saya belajar motoran sejak duduk di bangku SMP. Saat itu jalanan masih sepiiiii, sesepi-sepinya jalan sampai yang namanya begal jalanan masih banyak. Apalagi saya tinggal di pelosok desa di sudut kota Malang. Dua puluhan tahun kemudian, jumlah motor rasanya sudah sebanding dengan jumlah penduduk kota Malang. Dalam arti, di setiap rumah ada satu sepeda motor bahkan dua dan lebih.

Akibatnya? Jumlah pengguna jalan semakin mengarah tidak sebanding dengan jalan eksisting yang tidak dilebarkan pula selama beberapa waktu ini. Continue reading

Ketika Keikhlasan Diuji

Lusa lalu seorang teman bercerita pada saya, dia merasa dunia ini tidak adil untuknya. Dan untuk seorang yang tidak berdaya di luar sana.

Hari itu memang cukup mengesalkan baginya. Beberapa kali obrolan kami penuh sumpah serapah getir di antara canda tawa. Belum pulih suasana hati kelabunya, di perjalanan pulang dia dinunuti oleh seorang lelaki tua, dengan kaki tinggal sebelah, dan mata berselimut katarak. Menumpang ke satu titik tujuan yang searah dengan teman saya.

Sebut saja ‘si bapak’.

Bapak ini mengaku asalnya dari Pagak, sekitar 50an kilo jauhnya dari titik kota kami. Sudah 2 hari dia berjalan mencari pekerjaan. Perjalanannya dihabiskan dengan menumpang kendaraan-kendaraan besar yang baik hati memberinya tumpangan. Si bapak mengeluh susahnya mencari pekerjaan dengan kondisinya yang seperti ini. Dia berniat pulang saja ke desanya.

Tak tega dengan kondisi si bapak, teman saya memberi beberapa rupiah yang ada di dompetnya. Sampai rumah, dia bercerita galau karena hanya bisa membantu sedikit untuk si bapak. Saya hanya bisa bilang, beruntunglah dia masi bisa membantu si bapak, setidaknya dia tidak kehilangan ‘rasa’ untuk menolong sesama.

Mungkin karena lelah hati, teman saya sampai ambruk pikirannya hingga tidak masuk kemarin.

Menyusuri jalan pulang yang sama, kemarin saya melihat lelaki lusuh yang melambai di perempatan dekat teman saya bertemu dengan si bapak.

Hari ini, di tempat yang sama lagi sudut mata saya melihat sosok itu lagi di tempat yang sama.

Kenapa sudut hati berbisik ada yang tidak beres di sana ya …

my horrible thought

(NengBiker/WP for BlackBerry)

A Butterfly

Si kecil milik Anda bukan hanya pajangan semata yang perlu diberi baju cantik dan rapi. Milik Anda yang sangat berharga harapan generasi tua untuk membuat kehidupan lebih baik bagi mereka. Banyak harapan yang disematkan di pundaknya, kelak menjadi yang bisa dibanggakan keluarga, kelak menjadi anak pintar, cantik dan berwibawa, kelak bisa membawa lingkungannya bangga.

Tapi, apa lacur, kadang kita sendiri yang memburamkan jalan mereka menuju ke sana. Perilaku yang menurut seusia kita praktis dan normal, bisa jadi akan ditiru sampai si kecil besar nanti. Cita-cita dokter dan pengusaha kaya mungkin bisa mereka raih, tapi perilaku akan tetap tertanam di benak mereka. Bagaimana kita akan membawa kehidupan ke arah yang lebih baik jika tidak menanamkan contoh yang baik sejak dini? Tidak hanya akan mengajarkan mereka, si kecil penuh harapan, tapi juga sedikit akan mengubah perilaku buruk kita perlahan. Kita ingin yang terbaik bukan?

Sedih jika setiap pagi saya melihat orang tua, mengajak anaknya berhenti di jembatan Sulfat untuk membuang sampah dari atas jembatan. Mungkin pikiran Anda, alaah hanya saya aja ini yang buang… Yang terekam di otak anak? Buang sampah di sungai itu gapapa, apalagi buang sampah sembarangan.  Berpikirlah sebelum mengajak anak membuang sampah di sungai. Sampah memang menyusahkan, apalagi jika terkumpul ratusan, menghambat sungai dan menciptakan banjir. Karena siapa?

Segala kata adalah doa. Setiap yang dibicarakan adalah contoh perbuatan. Berpikirlah sebelum mengucapkan kata umpatan di depan anak mereka akan merekamnya dan mengulang dengan kefasihan yang luar biasa. Luar biasa karena mereka belum tau belum mengerti apa yang mereka ucapkan.

Ajarkan si kecil kebersihan sejak dini, mungkin pampers memang mahal, setidaknya tidak mengajarkannya memperlihatkan kemaluan di depan banyak orang. Berpikirlah sebelum mengajarkan anak buang air tidak di tempatnya jika ingin si kecil menjadi orang yang terbiasa dengan sopan santun di kemudian hari. Hal kecil yang kadang menurut kita praktis, berhentikan mobil/motor di pinggir jalan, plorotkan celana mereka, dan buang air. Mudah. Dan ketika mereka besar nanti sopan santun juga akan hilang sendiri. Ajarkan di tempat tertutup teman, spbu sekarang kan bejibun jumlahnya kan…

Setidaknya rekaman tiga kalimat bergarisbawah adalah yang saya alami dan yang saya lihat sendiri. Saya tidak bermaksud menggurui, pun saya juga belum mengalami sendiri susah payahnya mengurus anak. Saya hanya ingin kehidupan kita ke depan lebih baik lagi dengan mengajarkan sejak dini, hingga mereka bukan menjadi generasi payah, manja, ga punya malu dan ga bisa berpikir sendiri di masa depannya. Mereka hanyalah kepompong sekarang, yang butuh banyak bimbingan untuk menjadi kupu-kupu cantik yang bisa dibanggakan. Mereka tidaklah bukan apa-apa, mereka adalah jiwa.

Di tangan siapa lagi mereka akan menjadi individu berjatidiri?

 

Don’t handicap your children by making their lives easy ~Robert A. Heinlein