Archive for ‘Just Saying’

May 22nd, 2012

Bhakti Alam Agrowisata

image

Setelah ke pantai Bajulmati dan Goa Cina, wisata kuliner di Jumat dan Sabtu, rasanya seru juga menghabisi long weekend dengan naik ke gunung. Rata semua dilewatin. Saya ngga menolak waktu diajak ke sebuah agrowisata di daerah Nongkojajar ini, pikir saya pasti adem suasananya.

Ekspektasi saya mungkin berlebih, lupa kalau yang dingin itu di Malang saja. Akhirnya saya kepanasan di agrowisata berjudul Bhakti Alam. Rute menuju agrowisata ini gampang banget. Dari Malang ke arah Surabaya, di pertigaan Purwosari ambil arah ke probolinggo, tak sampai 1km langsung deh belok kanan naik dan mengikuti petunjuk jalannya sekitar 10km. Tiket masuk dibanderol 25K per orang mendapat fasilitas tour de kebun, free susu Moaaa, dan segelas jus buah. Landmark buah durian menggambarkan varietas unggulan agro ini adalah Durian Montong yang yummy.

Sayangnya kami berkunjung di bulan yang salah. Nyaris tidak ada buah yang menempel di pohonnya selama tour de kebun. Kecuali di greenhouse yang menanam Melon Gold, kecil tapi menarik hati. Selama pemberhentian kami disuguhi seiris melon, foto-foto di kebun, serta membeli beberapa buah melon untuk oleh-oleh. Oiya, Tips berkunjung ke agro itu jangan datang siang, persediaan buahnya masih melimpah kalau pagi. Juga yang ada di kios buahnya. Tips lainnya, berkunjunglah di awal tahun kalau pengen icip durian montong, Januari is the best month.

Jika ingin menikmati pemandangan dan menginap, tesedia cottage mulai 400k, dan ada barak kapasitas 40orang dg rate 1jt rupiah. Selain agrowisata, fasilitas penunjangnya juga banyak, outbound, racecart, atv juga segway! Keren tuh segway sewanya 45k. Di kios buah kami dijamu bberapa buah durian oleh tenan salah satu rombongan. Memang ngga musim jadi duriannya maksa. Maksa gitu habisnya banyak, kok lucu kamu :D .

Perjalanan pulang ke Malang diwarnai insiden dehidrasi dan kelimpungan di jalan. Saya memisahkan diri dari rombongan, masuk ke indomart dan mengadem di depan kulkasnya. Sepertinya ngga cuman dehidrasi, tapi mabuk duren, hahahahahahaha, gombal! Sampai Malang dengan selamat, saya dapat julukan baru dari sahabat.

Don’t Durian and Drive!

Bookmark and Share
May 5th, 2012

Pejalan Kaki dan Trotoarnya

Berjalan kaki itu seharusnya menyenangkan, seperti beberapa waktu belakangan saat saya dan Bazzeveritas mengubah kebiasaan makan siang dengan berjalan kaki beberapa blok sebelum makan. Melihat sudut perumahan tempat kantor saya berada dari pandangan pejalan kaki. Tidak ada trotoar memang, karena jalan perumahan ini cukup lebar dan sepi di bagian dalam. Tapi agak mengkeret kalau jalan di poros utama karena mobil dan motor berlomba menjadi yang pertama.

Hari ini rute perjalanan kami ubah sedikit. Keluar ke pinggir jalan besar jalur utama Arjosari – Gadang. Hasilnya? Jauh dari menyenangkan. Jantung berpacu dengan bunyi roda kendaraan. Ditambah klakson truk kontainer nyaring memekakkan telinga. Hanya 100 meter dan kami kembali masuk ke jalur komplek. IT IS SCARY AS HELL!

Bagaimana mau jalan dengan senang kalau setiap langkah terasa bahaya mengintai. Memang tidak ada trotoar di situ, tapi setidaknya apakah pengguna jalan itu ngga mau mengendurkan ijakan kaki di pedal gas melihat dua orang berjalan mlipir? Mungkin ngga ketabrak, tapi kesenggol dikit aja kan ya serem. Kesenggol truk kontainer –”….. Saya berjanji akan lebih bersabar diri untuk pengendara lain yang nyerobot sana sini, karena jantungnya pasti lebih kuat dari saya. Saya berjanji akan lebih menghormati pejalan kaki yang juga bertaruh nyawa dengan pengguna jalan lain.

Dan masih ngga habis pikir, Afriyani the Xenia driver menyalahkan trotoar demi 9 nyawa yang disambar Xenianya-dalam-kondisi-fly.

Dunia semakin aneh.

 

Bookmark and Share
May 1st, 2012

Pesenannya Mana?

Konser Avenged Sevenfold dibatalkan! Secarik berita yang muncul di timeline mengurungkan niatku pulang. Dan dua jam kemudian saya masi berkutat mencari fakta-fakta berita. Sampai lapar mendera dan tongkat estafet saya lemparkan. Lapar.

Pusing mencari menu yang tepat karena di rumah tak ada orang, saya pilih APS di dekat lokasi pembangunan  Menara Soekarno Hatta. Pengen duduk di mezzanine tapi cukup ramai malam tadi. Memesan Pecal Lele dan Cumi Asam Manis, es teh dan soda gembira. Minuman datang dengan cepat. Lima…sepuluh menit, makanan tak kunjung tiba. Saya belum peduli karena memang ramai. 15 menit mulai terasa dan mulai dilirik-lirik waiter karena hanya ada es teh dan soda gembira terhidang di meja.

Fyi, waiternya ganteng.  Waiter ganteng itu rupanya ngga tahan juga untuk ngga bertanya.
Waiter: Cuman pesen minum aja? Ngga pesen makanan?
Pacar: Justru kita yang harusnya nanya, pesenannya mana kok ngga dianter?
Ngga heran lah jadi esmosi dikit, meja sebelah yang baru dateng aja pesenannya cepet bener, apa cuminya masih mancing?
Dan ngga asyik bener pelanggan ditanyanya seperti itu. PLAKable banget. Kalo mo minum-minum ngga ke resto saya mah, cafe aja. Pelit amat ngasi sambel juga cuman dioles di lele ngga ada puasnya makan penyetan macem itu lah.

Kalo kamu ditanyain kayak gitu, kamu jawab apa? Saya tadi bengong ngga bisa jawab. …. PLAK.

Bookmark and Share
April 25th, 2012

Tentang Geng Motor

Sudah lama saya diam, memperhatikan. Semakin ke sini yang disebut geng motor oleh media semakin kabur artinya. Hanya 3 orang motoran aja bisa disebut geng motor tanpa sumber yang jelas walau aksinya memang meresahkan.

Pagi saya dimulai dengan bete demi kebetulan nonton berita itu. Ada 3 orang motoran masuk jalan tol tengah kota dengan ugal2an. Gitu uda disebut geng motor aja tuh… Pertanyaannya, di mana petugas tol? Apa pintu tol ngga ada yang ditutup dan mereka bisa nerobos tanpa dicegat? Kalian berkewajiban lho mengamankan ranah tanggung jawab kalian. Pukul saja jika tidak mau berhenti. Sekarang yang lebay malah petugas hukumnya sendiri karena ngga menindak tegas dimulai dari kecil, seperti kejadian di tol itu misalnya.

Dan imbasnya tentu ke komunitas dan klub motor. Saya dulu aktif di klub, mengelola klub dengan profesional bekerjasama dengan pihak sponsorship membuat tanggung jawab kami jadi lebih besar. Anggota diseleksi ketat. Berulah tidak dikeluarkan, tapi mendapat teguran keras. Sekarang mereka yang mengelola begitu akhirnya disamaratakan dengan kumpulan orang yang ngga jelas. Anak klub dan komunitas itu bangga dengan atributnya, yang tanggung jawab pasti akan berlaku santun di jalan ketika memakainya. Tidak bisa dihindari ketika ada yang masih baru dan lagi seneng-senengnya biasanya darahnya lebih cepat naik.

Adalah suatu kebanggaan bagi semua orang kalau kegiatannya diliput dan dijadikan bahan pembicaraan di masyarakat luas. Begitu pun kami, dan yang mengatasnamakan geng motor tesebut. Media, bekerjasamalah dengan pihak berwajib untuk mengendurkan sedikit tensi pemberitaan. Agar mereka yang disebut geng motor itu tidak semakin merajalela dan merasa dirinya raja. Tapi apalah kita, hanya penonton saja. Apalagi in depth interview salah satu media ternama yang seolah-olah berhasil mewawancara salah satu geng yang cirinya memakai pita. Saya ngga meragukan dengan kualitasnya sih, tapi…efeknya? Luas. Menimbulkan gesekan antara dua kekuatan besar yang efeknya bukan mendamaikan justru menyiram bensin ke api.

Inilah gunung es sesungguhnya. Ketika masyarakat tak lagi percaya pada kemampuan yang berwajib. Main hakim sendiri dihalalkan. Dan dijadikan seperti pahlawan. Saya, yang mantan anak motor ini cuman pengen bilang untuk anak klub dan komunitas motor untuk merapatkan barisan. Mencegah celah bagi penyusup untuk menyulut bara di tubuh kalian. Susah susah kita membangun nama, membangun jejaring pertemanan kalau hanya emosi semata. Besarkan nama dengan kegiatan positif seperti biasa saja ya.

Viva HTCI!

Bookmark and Share