1000 Cerita Horor di Kantor: Tidak Mau Ditemani, Hantunya Bisik-bisik “Ndang mulih”

Cerita Horor Dapur yang Sering Lampunya Putus dan Taman Belakang Kantor

Setelah jalan-jalan ke depan, kita kembali masuk ke dalam kantor. Di tempat duduk saya ini, sofanya sudah diganti. Sampai buluk bantal kursinya dan bolong-bolong rotan tiruannya saking nyamannya duduk-duduk di sini. Tidak nyaman menerpa ketika … ada saja penampakan dari kaca jendelanya.

Kiriman YES nih, Yakin Esok Sampai!

Tepat di pojokan sebelah kiri saya itu, di bagian dalamnya kursi Dini. Baru juga cerita-cerita horor yang disampaikan teman-teman sehari sebelumnya, dia sudah nyaut aja. Ada yang ngintip dari dapur, mba. Katanya.

Area ini meskipun nyaman kok ya selalu ada gangguan ya. Hahahaha. Bahkan ke anak baru. Mungkin mau kenalan sama yang dilebihkan kemampuannya, siapa tahu.

Dimas misalnya, kayaknya orangnya enggak neko-neko amat. Dilihat dari jauh 11-12 posturnya seperti saya. Duduknya sederet dengan meja saya, sementara saya di bagian pojokan. Suatu sore saya sudah pulang duluan. Jelang magrib whatsapp grup kantor gempar karena Sidiq mengirimkan skrinsut kok tumben saya masih di kantor. Sedangkan Tomi bilang lho mba Neng sudah pulang kok.

Ternyata itu fotonya Dimas.

Jadinya saya merinding-merinding disko sih kalau mau nanya cerita horor di kantor ke dia. Tapi bikin penasaran kan? Sekitar bulan ke-tiga dia menjadi bagian dari kantor ini, Dimas terkena shift malam yang biasanya pulang antara jam 12 hingga 1 malam. Kadang-kadang dia masih leyeh-leyeh sebentar di sofa belakang sambil ngegame melemaskan otak. Satu malam di antara leyeh-leyehannya, dia mengaku merasakan seperti yang Putri rasakan di halaman depan.

Pohon beringin yang berada di depan dapur daunnya hoyag-hoyag bergoyang sementara pohon lainnya yang di dekat pintu keluar anteng saja. Anginnya beda mba, kayak ada panas-panasnya gitu kerasa adem soalnya kan tengah malem, katanya. Di lain malam, lain pula kejadiannya.

Jam 22.30 Dimas masih duduk-duduk cantik sama Tomi dan Kistin di sofa belakang. Kantor sudah sepi. Tiba-tiba terdengar suara ramai dari dalam musholla, seperti ada 2-3 orang yang asyik ngobrolin gosip selebriti atau gosip-gosip gitu dah saking serunya. Dimas pikir Tomi sedang salat Isya. Tapi ketika ditoleh, lho Tomi masih duduk di sebelahnya. Kistin pun demikian.

Penasaran, Dimas mencoba mengintip musholla yang kondisinya gelap dari pojokan tempat galon. Lampunya mati. Deg. Tidak ada orang. Deg. Orang yang baru keluar dari musholla pun tidak ada. Dimas kembali duduk, katanya Tomi nggak denger apa-apa sih. Kata Kistin juga demikian. Padahal di telinga Dimas obrolan mereka masih terdengar kencang.

Sepertinya Dimas ini memang perasa sekali indera pendengarannya. Saat tengah malam di kantor, dia sering mendengar suara lemari dapur dibuka dan ditutup, piring-piring berkelontangan seperti sedang ditata di raknya, sampai suara-suara kompor dinyalakan. Tapi ya nggak ada apa-apa. Pintu dapur tetap tertutup rapat nggak ada orang di sana.

Punch line penunggu kantor ini juga nggak kaleng-kaleng untuk Dimas. Suatu malam sebelum memutuskan pulang, dia masih leyeh-leyeh di sofa. Lalu di telinga kirinya ada yang bisikin dua kata. Tapi sekali saja. Dalam satu tarikan nafas.

Ndang muleh. Cepat pulang.

2 Comments

  • Bwahahaha… baca cerita ini saya jadi ingat zaman2 kuliah dulu. Suatu malam saya, seperti biasa, pulang jam 2-3 pagi abis nongkrong di sekret. Saya lewat gerbang samping, lewat bangunan tua-bangunan lawas dan jejeran cemara, terus lanjut jalan ke arah kosan. Terus di pojokan saya mencium bau bunga, melati. Merindinglah saya dan saya percepat langkah buat pulang.

    Eh, paginya pas lewat sana ternyata memang beneran ada pohon melati 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *