tips membeli mobil keluarga

Curhatan Seorang Istri yang Lebih Sering Naik GoCar Ketimbang Diantar Suami

“Duduknya di mana?”
‘Masuk aja mbak, nanti langsung ketemu kita-kita kok di ruang depan.’
“Library kan, belum pindah tempat kan?”
‘LABOREE, MBAA, LABOREEEE!’

Lalu terdengar suara tawa ngakak membahana dari seberang sana. Memang bukan sekali ini saja saya salah lokasi untuk ketemuan sama teman-teman. Jadi ketika salah lagi, pasti jadi sasaran dibully. Masalahnya kali ini, Library dan Labore itu jaraknya 5 km dan minggu sore jalannya padat sekali. Sementara yang ditebengi acaranya di sekitaran Library. “Aku pesen GoCar aja ya, Pi.”

Dia hanya tersenyum kecut sambil melirik sekali. Dulu saya pernah salah lokasi dari Ayam Goreng Yogyakarta di Suhat padahal kumpulnya di Dieng. Pernah juga sudah meluncur ke Karangploso padahal acaranya di Karanglo. Suami jadi mahfum sama kondisi otak dimakan bayi yang dialami si istri, mau marah ya wong anaknya sendiri. Dia mending nggak mau ribet nganterin saya yang pasti bakal ngomel sepanjang jalan kok nggak diingatkan lagi. Pesan taxi online seperti GoCar adalah solusi baginya untuk menyelamatkan telinga kali ini, hahaha.

Soalnya kan tinggal buka aplikasi Gojek setelah kami sampai di tempat tujuannya yang nggak jauh dari Library. Pilih GoCar lalu menentukan tempat tujuan sebelum memilih pickup location. Tidak lama paling tiga menit saja, taxi online yang dipesan menjemput di tempat yang sudah disepakati. Tinggal duduk santai, lima belas menit kemudian saya sudah bergabung dengan teman-teman di Labore untuk melanjutkan ghibahan sementara suami melanjutkan rencananya buat basket.

Naik GoCar ke Labore

Menariknya, saya mendapat GoCar berupa mobil sedan mewah dan dioperasikan oleh salah satu perusahaan taxi Indonesia yang beroperasi di Malang. Jadi gatel kan pengen tanya-tanya mengingat sebelumnya dapatnya LCGC mulu, sementara teman-teman ada aja yang dapat mobil SUV besar-besar itu. Mas suami di Jogja dulu malah dapat mobil mewah yang pintunya sliding door kayak mobil bos gituu..

“Perusahaannya memang sudah kerjasama sama GoCar ya Pak? Itu terus hitungannya gimana?”
‘Iya bu, sudah lama kok kerjasamanya. Hitungannya ya sama kayak kalau driver bebas, sama-sama ada target hariannya. Nggak beda jauh seperti kalau narik taxi biasa. Malah lebih cepet gabung GoCar ini juga dapatnya penumpang.’
“Menarik ya, padahal dulu sempat rame juga waktu pertama kali muncul di sini.”
‘Mungkin karena masyarakatnya belum terbiasa juga sama layanan taxi online ya bu.’
“Iya pak, saya sih terbantu banget ada taxi Indonesia yang caranya lebih gampang seperti pesan taxi online begini.”

Padahal ya padahal, saya itu paling anti dipanggil ibu. Tapi ya mau gimana, lha wong naik GoCarnya pas lagi bawa bayi, kalau pas lagi nggak bawa bayi saya pilih moda roda dua saja karena lebih cepat. Pakai GoCar jelasnya bikin saya merasa aman ketika bepergian jarak dekat dengan anak yang lagi aktif-aktifnya gini. Ke rumah kakak, ke dokter, ke mall, ke kantor juga.

10 Cara Naik GoCar

Naik GoCar ke dokter sering banget, karena mending saya berangkat sendiri dan ketemu mas suami di tempat dokter daripada harus menunggu dia pulang dulu. Wong tempat praktik dokternya dekat tempat kerjanya dia. Ke mall juga demikian. Manalah sekarang tarif parkirnya mahal per jamnya, enakan didrop GoCar dan pulangnya pesan lagi taxi online yang sama. Selama ini drivernya juga selalu helpful kalau melihat saya pergi sendirian dan kerepotan membawa bayi sambil melipat stroller. Mobilnya wangi, bersih, dan obrolan (kalau lagi pengen ngobrol) sama drivernya selalu membawa kesan positif di hati.

Satu hal yang pernah menjadi catatan saya selama menggunakan GoCar adalah ketika aplikasinya diperbarui. Itu bingung amat ya menentukan tujuan dulu baru pickup location. Sehingga di awal update dulu saya sempat salah memasukkan lokasi penjemputan sebagai tujuan. Ribut dong, sama suami, lagi. Hadeh, padahal sama drivernya baik-baik aja komunikasinya ketika dikasih tau kalau saya salah memasukkan lokasi sehingga harus memesan ulang.

Masa ya saya pergi naik GoCar terus kalau sama anak-anak? Lha fungsinya suami apaa? Apaaa? *seret mas suami biar baca blog ini iya curhat curhat terus di sini bukankah itu fungsinya blog ini?*

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *