Mabuk Mancing, Tempat Makan dengan View Cantik Kota Malang

Minggu lalu, setelah 2 tahun, saya kembali main ke Lembah Tumpang. Sedikit update ceritanya di sini. Merayakan pertambahan usia seorang sahabat, tiba-tiba saja kami sudah merencanakan family outing dan berangkat bareng esok harinya. Saya berdua saja bersama Raga. Sementara keluarga lainnya lengkap ikut semua. Kembali ke Lembah Tumpang tempat hati saya mulai teraduk-aduk hingga hari ini belum juga sembuh. Ditutup dengan makan bersama di Mabuk Mancing, jauh juga jaraknya dari Lembah Tumpang :D.

Mabuk Mancing namanya. Setelah sekian lama diiming-iming Boni, Irma, Winda, bahkan kakak sendiri yang sudah duluan ke sana. Saya memang sedang malas menjelajah jika tidak ada temannya. Apalagi sekarang ada baby, agak ruwet kudu bawa-bawa ini itu. Tapi tidak kalau bareng teman-teman.

Biarpun Mabuk Mancing jauh dari Lembah Tumpang, mengambil rute memotong jalan lewat kebun tebu dan perumahan-perumahan baru, rombongan kami bahkan sampai merasa in the middle of nowhere karena nggak ada sinyal di tengah hutan sana. Apalagi jalannya memang nggak karuan begitu dekat TKP kolam pemancingannya. Sempit, kayaknya bahkan cuma cukup 1 mobil saja. Bikin bingung gimana kalau papasan dengan mobil berlawanan arah.

Sebenarnya rute ke Mabuk Mancing bisa lebih singkat dari Kota Malang. Cukup arahkan kendaraan ke Gor Ken Arok, setelah jembatan KedungKandang di pertigaan pasar Kebalen, langsung ambil belokan ke kiri di puncak jalan. Kamu akan menyusuri sungai lalu ikuti saja. Saya nggak tau jalan yang ini karena lewat dalam dari arah Tumpang.

Kolam Mabuk Mancing terletak di punggung bukit. Terdiri dari 2 kolam pemancingan besar, yang satu untuk perlombaan yang satunya lagi untuk mancing senang-senang. Area makan Mabuk Mancing juga terbagi dua, di kolam mancing senang-senang, atau mau yang melihat view kota Malang di bagian atasnya lagi.

Ini memang, BYUTIFUL BANGET! Begitu mencapai puncak sambil ngos-ngosan menggendong Raga, saya pun langsung terpesona melihat garis pemandangannya. Kalau mau jeli sedikit, kayaknya bahkan bisa melihat atap rumah sendiri karena ada logo Giant besar-besar di sana.

Sore kami sedikit hazy, berkabut di horizonnya. Pemandangan gunung Arjuno di kejauhan jadi samar. Katanya kalau sedang cerah sangat, kamu bisa melihat mana-mana sampai Universitas Brawijaya. Sambil menunggu makanan datang, kami pun main tebak-tebakan nama gedung yang kelihatan.

Waktu paling tepat kalau mau makan di Mabuk Mancing adalah jelang senja. Jam 4an lah. Kecuali mau mancing-mancing dulu, ya dari siang saja. Sambil menanti matahari hilang di ufuk barat, kamu bisa ngemil-ngemil dulu. Ada banyak cemilan yang disediakan dengan aneka makanan beratnya. Saking pergi dengan banyak anak kecil, saya nggak sempat memotret makanannya. Juga sudah diserbu duluan sebelum saya bisa mengatur duduknya Raga.

Tidak usah takut ketinggalan waktu salat. Mabuk Mancing dilengkapi dengan musholla yang bersih. Apalagi kalau kamu makan di area tertinggi. Musholla tepat di belakang tempat makan. Cuma di sini agak dingin, jadi bawa saja jaket dan selimut buat si kecil.

Soal harga, ya worth to buy lah dengan pemandangan yang ditawarkan. Tapi kalau nggak punya nyali dan sayang sama mobil daripada beret-beret karena jalan sempit, mending naik motor saja ke sininya ya.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *