Sekali Lagi, Mungkin Akan Lebih Sering ke Yogyakarta

Ada serenade sumbang setiap saya mengingat kota kelahiran orangtua ini. Jalan-jalan ke Yogyakarta biasanya terbentuk sebagai liburan ke rumah eyang dalam periode masa sekolah. Main ke Yogyakarta berarti mengingat masa kecil hingga dewasa, dari naik kendaraan umum sampai jadi supir travel. Kenangan yang tercetak di setiap perjalanan, meskipun terlalu pahit selalu ada magnet yang menarik saat saya kembali ke Yogyakarta.

Bakso di Dekat Terminal Bis Situ Lho

1 kilometer sudah kaki kecil saya tertatih mengikuti langkah Bapak yang sedang menggeret kopernya. Kami tiba di Yogyakarta lepas magrib dibawa bus antar kota dari rumah di Madiun. Ibu menggendong adik, dan kakak membawa travel bag di belakang. ‘Sudah dekat situ,’ kata Bapak lagi. Warung bakso itu tak kunjung kelihatan hingga saya menangis kelelahan. Mungkin itu sebabnya saya jatuh cinta pada bakso pada level tidak terkatakan alasannya kenapa.

Hanya Bisa Lari 80km Per Jam, Yogyakarta-Malang Cukup 5 Jam

‘Lihat nih, cuma bisa lari 80km per jam,’ tunjuk Pagob ketika kami pulang bersama-sama dari Yogyakarta. Saat itu pukul 9 pagi ketika si Baleno melaju pelan di kelokan Pujon, setelah lepas landas dari Yogyakarta selepas subuh. Pada perjalanan selanjutnya survey skripsi ke Museum Dirgantara Mandala Yogyakarta, Baleno sudah pada settingan mantapnya melaju hingga 140km per jam. Dan saya di grounded nggak boleh menyetir sendiri setelah pulang hanya 5 jam sampai rumah di Malang.

Jes Gojes Naik Kereta Api Sambil Mengumpulkan Serpihan Hati

‘Aku berangkat ke Yogya mau ikut lomba,’ katanya suatu hari. Diam-diam tiket kereta api di tangan, ingin hati menjadi pemandu sorak kejutan. Menyemangati si dia yang sedang berlaga. Pulang lagi dengan kereta api, kepala tertunduk di pinggiran jendela. Mengingat-ingat kembali ketika seorang perempuan selalu menggelayuti lengannya selama perlombaan. Hati ini, terserak seiring jes gojes kembali pulang.

See, setiap perjalanan ke Yogyakarta ada kenangan di dalamnya. Kota ini tidak pernah membiarkan memori saya kosong tanpa belajar dari pengalaman. 3 moda transportasi yang saya coba, tinggal pesawat saja yang belum pernah membawa ke Yogyakarta. Kenapa saya masih ragu saja memilih naik pesawat ke kota ini? Nggak lain karena selalu melihat bandaranya setiap melewati menuju pusat kota.

Bandara Adisutjipto tampaknya penuh sesak dilihat dari bagian depan. Ia berbagi jalur dengan pesawat-pesawat Akademi TNI-AU yang satu komplek dengannya. Kalau sedang ada latihan terbang, penumpang umumnya wajib bersabar. Begitu juga ketika ada pesawat-pesawat militer yang memakai bandara, kesabaran itu wajib diperpanjang.

Menjemput dan menurunkan penumpang di Bandara Adisutjipto pun harus memiliki kesabaran lebih. Area drop off yang sempit dan parkir yang overload membuat gerahnya kota ini jadi lebih terasa.

Hasil skripsi saya setelah bolak-balik ke Museum Dirgantara Mandala sebenarnya juga memiliki kesimpulan bahwa Bandara Adisutjipto sudah kelebihan kapasitas (overload). Akan tetapi, Bandara Adisutjipto tidak bisa untuk dikembangkan lebih luas lagi. Posisinya yang berada di tengah kota yang sudah padat penduduk serta berada di kawasan Lanud TNI AU tidak mungkin untuk dikembangkan. Adapun secara geografis, pengembangan Bandara Adisutjipto terhalang oleh flyover Janti di sebelah barat, dan situs Ratu Boko di sebelah timur.  Daerah Istimewa Yogyakarta  adalah tujuan wisata nomor 2 di Indonesia setelah Bali. Akan tetapi, kondisi Bandara Adisutjipto Yogyakarta yang merupakan pintu gerbang utama wisatawan kurang representatif karena sudah kelebihan kapasitas. Bayangkan, kapasitas asli Bandara Adisutjipto adalah 1,2 juta penumpang pertahun. Namun, di tahun 2016 saja bandara ini dipaksa untuk melayani 7,2 juta penumpang atau 6 kali lipat dari kapasitas seharusnya. Kapasitas parkir pesawat pun hanya dapat memuat maksimal 8 buah pesawat tipe narrow body (berbadan sempit) sehingga pesawat harus berputar-putar di udara karena antri untuk mendarat.  Oleh karena itu, keterlambatan penerbangan atau delay tak terelakkan, sehingga membuat penumpang tidak nyaman.  Bandingkan ketika mendarat di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dan Bandara Sultan Aji Muhammad Sepinggan Balikpapan yang ramai namun luas dan penuh fasilitas menarik sehingga penumpang pun nyaman menunggu. Masalah lainnya adalah, Bandara Adisutjipto terpaksa untuk menolak rute-rute penerbangan baru dari dalam maupun luar negeri karena keterbatasan kapasitas. Landasan pacu yang pendek juga membuat Bandara Adisutjipto tidak mampu untuk melayani pesawat jenis wide body untuk penerbangan internasional.

Terbersit keinginan, Yogyakarta harus memiliki bandara berkelas dunia yang dapat menjadi kebanggaan bersama. Satu-satunya jalan adalah memindahkan bandara ke lokasi yang lebih lapang jika ingin diperluas untuk menampung lebih banyak penumpang.

Good News From Yogyakarta!

Ancang-ancang perluasan bandaranya sudah dikibarkan nyaris setahun lalu. Tepat 27 Januari 2017, Presiden Indonesia memutuskan untuk memulai pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta dalam acara bertajuk Babat Alas Nawung Kridha. Rancangan bandara baru itu juga sudah beredar di lini masa. Ada yang asyik ada juga yang bikin bertanya-tanya.

Laksana Hamparan Batik Kawung di Kulon Progo

Mengutip tulisan Angkasa Pura I, Bandara Internasional Yogyakarta telah memiliki grand design yang diperoleh lewat kompetisi. Dipilih sebuah desain yang mencirikan konsep yang benar-benar Yogyakarta dengan hamparan batik kawung di bagian atapnya. Rancangan fenomenal ini nanti akan dibangun di Kecamatan Temon, Kulon Progo

It’s truly Batik Kawung, lho. Sebagai lulusan arsitek saya kagum sendiri bagaimana rancangan atap untuk mengakomodir bentuk batik kawung itu ya? Nah, untuk desain lebih lengkapnya bisa dilihat pada gambar di bawah ini.

©Dok. Angkasa Pura I

Bandara baru yang masih memiliki nama sementara New Yogyakarta International Airport ini dirancang dengan nuansa filosofi dan arsitektur yang kental akan kebudayaan Jawa. Oleh karena itu, dibuatlah desain baru dengan pesona batik yang memadukan green concept serta terintegrasi dengan teknologi modern baik di operasional hingga pelayanannya. Masyarakat Yogyakarta, yang diwakili oleh para budayawan, seniman, dan kurator juga diberikan kesempatan untuk memberikan masukan pada desain bandara baru ini pada acara “Babar Gambar Bandara Anyar New Yogyakarta International Airport” tahun 2017 lalu. Jadi, desain bandara baru ini benar-benar didasarkan pada filosofi Daerah Istimewa Yogyakarta.

WeOWe!

Seperti Apa Desain New Yogyakarta International Airport Ini?

Masih ingat gimana rasanya masuk area security check Bandara Adisutjipto Yogyakarta yang sempit? Hal tersebut membuat calon penumpang kurang nyaman karena harus mengantri panjang. Untungnya hal ini sudah diantisipasi di New Yogyakarta International Airport. Terlihat dari desainnya yang lapang, area security check ini akan menyambut calon penumpang dengan keramahan khas Yogyakarta.

Tampak bersahabat dan lega, sehingga calon penumpang akan merasa ini cuma sekadar melewati pemeriksaan keamanan doang kok. Di dalam sana kayaknya menyenangkan. Ya kan?

And how many times you feel so desperate when you’re waiting for your baggage at the airport? Di  bandara baru nanti, area pengambilan bagasi dan jumlah konveyor akan diperbanyak sehingga setiap penumpang tidak perlu mengantri dan menunggu lama untuk mengambil bagasi. Ada yang tahu itu pola batik apa yang ada di langit-langit dan tiang penyangga?

Kalau ngeliat desain curb side di New Yogyakarta International Airport ini saya sedikit flashback waktu kesasar di basement Resorts World Sentosa. Sok-sokan melihat desain langit-langitnya, eh jadinya salah jalan mengantri di bagian taxi. Padahal sebagai kaum backpack pengirit segala anggaran, saya harusnya menanti di line-nya bus gratis.

Rasanya mirip-mirip dengan desain curb side ini. Mudahan saya nggak kesasar lagi di jalanan sini nantinya.

Desain check in area New Yogyakarta Internal Airport yang futuristik ini mengedepankan konsep eco-airport, atau bandara yang ramah lingkungan dalam pengoperasiannya. Oleh karena itu, cahaya matahari akan dibiarkan masuk dengan alami melalui desain atap kaca yang tampak pada gambar di atas.

 

There are a lot of open space yang tersebar di New Yogyakarta International Airport. Selain itu juga dirancang taman dan kolam yang asri tujuannya juga untuk menyejukkan area ruangan.

Jadi ngga sabar sekali lagi ke Yogyakarta untuk membuktikan bagaimana rancang desain New Yogyakarta International Airport ini diaplikasikan. Sabar, masih pertengahan tahun 2019 kita bakal bisa melihat seperti apa bandara ini nantinya. Masih cukup lama, masih ada waktu untuk menimbang-nimbang akan naik pesawat dari mana untuk mencicipi landing di sini. Syukur-syukur kalau ada rute penerbangan langsung Malang Yogyakarta kan?

Sharing after reading, yes?

7 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *