Cerita #NinjaHattori: Kenapa Ibu Hamil Muda Disarankan Tidak Naik Motor Besar (dan Sendirian)

Di awal-awal proses kehamilan ini, mendadak hidup saya dikelilingi satpam yang serempak berkata: ‘Nggak usah naik Hattori dulu!’. Ketahuilah, masa bulan madu yang baru seminggu itu bikin saya patah hati seketika, sehingga kadang-kadang masih nyolong manasin Hattori sambil keliling komplek. Tapi saya tahu, segala larangan naik Hattori itu memang perlu, bahkan dokter pun menyarankan untuk tidak naik motor dulu saat hamil muda. Kenapa?

Ibu hamil muda perlu menyesuaikan diri dengan berbagai kondisi perubahan yang sedang terjadi dalam tubuhnya. Ada yang mengalami morning sickness dengan mual, muntah-muntah, kadang juga ada yang pusing hebat dan tekanan darahnya berubah-ubah. Kondisi ini tentu berbahaya karena mengancam konsentrasi ibu hamil sekaligus pengemudi. Belum lagi masalah perlekatan janin di dalam kandungan, dikhawatirkan apabila terkena goncangan maka akan berpengaruh bagi kesehatan kondisinya.

Makanya di awal kehamilan, dokter sering memberi suplemen penguat kandungan untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat ibu-ibu sekarang itu begijikan ya, dalam arti positif karena banyaknya kesibukan seiring perkembangan jaman. Mungkin juga saya diberi penguat kandungan karena kebetulan dokter spesialis kandungan tempat periksa adalah teman SMA, yang pasti paham dengan track record ulah saya. Apalagi saya baru memutuskan untuk pindah haluan dari matic ke motor besar (lagi).

Posisi pengemudi motor besar yang perutnya menempel ke tanki, dikhawatirkan dapat menambah benturan yang tidak perlu pada daerah perut bagi ibu hamil muda. Pun juga sebenarnya di bagian bontjenger juga tidak disarankan karena posisinya cukup tinggi, cukup melawan gravitasi sekiranya tiba-tiba motor menghantam lubang di jalan. Walaupun sebenarnya saya kurang tahu juga, seberapa besar goncangan yang bisa ditahan oleh kandungan karena kondisi setiap orang berbeda-beda.

Yang mana akhirnya juga kembali lagi ke Matic untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kata papa, bawa aja mobilnya papa. Ih ogah macet. Kata suami, jalannya yang hati-hati ya, karena dia tidak bisa mengantar bekerja setiap hari. Sungguh dengan segala peringatan dari lingkungan ini awalnya bikin saya parno dengan kondisi jalan.

Lihat polisi tidur, 5 meter sebelumnya saya sudah ngerem pelan-pelan. Dulu boro-boro ngerem, inget ada polisi tidur aja engga. Lalu saya juga jadi terbiasa memilih jalur yang aman, mengurangi lewat jalan tikus yang padat dengan joglangan. Seminggu di awal sejak mengerti hamil kemarin sih. Seminggu kemudian sudah terbiasa memegang motor dengan lebih hati-hati, lebih pelan, dan jauh lebih perhitungan.

Jadi, ibu hamil sebenarnya bukan tidak boleh sama sekali naik motor ya. Tapi, periksakan diri dulu biar tahu seberapa kuat kandunganmu. Juga jangan ngeyel, pahami jika terjadi perubahan yang membuat tubuh harus menyesuaikan diri dengan perkembangan kandungan. Nggak usah dilawan, nikmati saja setiap prosesnya.

Sharing after reading, yes?

8 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *