Relationship Goals: Kelebihan dan Kekurangan Menikah Dengan Lelaki Lebih Muda

Sesuatu yang nggak lumrah pasti menarik digunjingkan. Pasangan yang cowoknya lebih muda misalnya. Lebih muda 1-2 tahun biasanya masih dianggap biasa. Di atas 5 tahun sudahlah itu segala label nempel semua. Mulai dari yang perempuan suka daun muda, yang laki-laki dianggep suka tante-tante, dan sebagainya sebagainya. Menurutmu sendiri gimana kalau ada perempuan yang menikah dengan lelaki lebih muda di atas 5 tahun bedanya?

Iya, ini gara-gara banyak yang membahas perbedaan usia Awkarin sama Gaga, mantannya.

Baru 3 tahun bedanya ini. Baru pacaran ini. Putus lagi. Relationship goals-nya di mana?

Di lingkungan saya sendiri nggak banyak yang menjalani perbedaan usia saat menjalin hubungan. Biasanya sih kalau nggak setara ya perempuannya lebih muda. Trennya pun sekarang sudah terpaut usia cukup jauh antara laki-laki dan perempuannya lebih muda. Bahkan usia menikahnya juga jadi muda-muda banget deh perempuan sekarang, 20-an sudah tutup buku pelajara buka buku nikah.

15 tahun lalu saya mungkin juga berpikir seperti itu. Target menikah usia 25 lah. Sudah cukup puas jalan-jalan, bekerja sendiri, dan pastinya pengen mengurus seseorang. Apa daya. Saya malah semakin sibuk berkomunitas, bekerja, jalan-jalan, menikmati hidup. Sampai diingatkan ketika masuk usia kepala 3. Tapi nggak jomblo kok. Tenang aja. Sayangnya (atau untungnya) pacar jauh lebih muda. Saya mengenalnya ketika lagi senang-senangnya main motor dan main tembak-tembakan.

Jadi saya sendiri bisa memahami.

kalau ada alasan perempuan yang bilang menikah dengan lelaki yang lebih muda kayak gini:

Cinta Itu Buta, Nggak Bisa Dijelaskan Kata-Kata

Well, saya nggak buta. Saya masih bisa melihat kalau pacar waktu itu keren banget (biarpun lebih muda). Gayanya kalem dan menenangkan. Sekaligus yaah tipikal laki-laki, jual mahal kalau dikejar perempuan. Kemudian mati gaya waktu saya meninggalkannya. Setidaknya pacar juga nggak buta kalau dia butuh saya, kan? Simbiosis mutualisme, kami sama-sama membutuhkan. Tidak dibutakan cinta.

Dia Tidak Akan Mengalahkan Figur Bapak

Indeed. Bapak itu biarlah tetap menjadi sosok yang tidak terkalahkan di hati setiap anak perempuan. Tidak ada laki-laki lain yang bisa menggoyahkan kedudukan itu. Bukannya pada dasarnya perempuan senang dibutuhkan? Coba bertanya pada dirimu sendiri sekarang. Ah tapi itu juga berlaku kok untuk laki-laki yang lebih tua. Nggak semua punya figur kebapakan.

Dia Masih Senang Tantangan, Saya Masih Senang Bersenang-Senang

Lho betul lho. Waktu gaya hidup masih jadi anak motor banget, dia satu-satunya laki-laki di dharma wanita klub saya. Sementara dia nggak terlibat komunitas yang terorganisir, saya bebas nggak ada ikatan kelompok perempuannya. Tantangannya tentu ijin touring keluar kota jadi susah, sementara kegiatannya dia masih di kota-kota aja.

Kami sama-sama mengenalkan kehidupan masing-masing yang masih di taraf ‘senang-senang.’ Dan semua itu berubah ketika pacar nggak lulus-lulus kuliah.

Curhatnya lanjut nih: Apa Yang Harus Dilakukan Ketika Pacar Nggak Lulus-LULUS KULIAH?

Kekurangan menikah dengan laki-laki yang lebih muda juga sebenarnya banyak kok. Itu pun jadi tantangan tersendiri di dalam hidup saya.

Istri Bekerja, Suami Lebih Muda Bersenang-Senang

Karena beda usia, pasti pasangan yang laki-lakinya lebih muda mengalami kesenjangan sosial yang cukup pelik kalau tidak dihadapi dengan dewasa. Yang perempuan tentu masuk dunia kerja lebih cepat daripada laki-laki kan? Setahun dua tahun bahkan lima tahun selanjutnya, perubahan posisi si istri juga pasti akan sangat terasa bagi si laki-laki yang baru mulai bekerja setelah puas masa bersenang-senangnya.

Tulang Sudah Renta, Suami Lebih Muda Masih Semangat Membabi Buta

Oleh karena itu, perempuan yang lebih tua dituntut untuk selalu menjaga kebugaran tubuhnya kalau punya suami lebih muda. Rasa iri dengan teman-teman suami lebih muda pasti jauh lebih terasa. Padahal jarang minum susu kalsium, makan suka asal nggak perhatikan gizi, lemak menggelambir di mana-mana, dan solusinya adalah olahraga. Berat sekali itu, berat karena lebih suka tidur saja.

Terbawa Euforia Bersenang-Senang Dahulu Tagihan Kemudian

Bagi laki-laki yang belum tercerahkan dengan yang namanya asuransi dan jaminan hidup di hari tua, yang diingat tentu makan mah yang dipikir hari ini aja. Besok urusan besok. Sempat terbawa gelombang hidup ini, saya kemudian membaca novel Sabtu Bersama Bapak tulisannya Adhitya Mulya. Ya, baru beberapa waktu terakhir aja kemudian baru ingat keperluan pensiun dan nggak mau ngerepotin anak-anak nantinya.

Guys: IKUT ASURANSI SEJAK MUDA ITU PENTING!

Walaupun pada akhirnya tabungan-tabungan saya sendiri pun ikut kabur terbawa kesenangan sesaat, seperti beli Kawasaki Ninja 250 by my name, saya terus terang masih membutuhkan mimpi yang harus dikejar sendiri. Pas saat saya getol dengan si Ninja, si dia pun getol mencari tambahan penghasilan untuk membantu membelinya.

This is relationship goals versi NengBiker.

Pada akhirnya dengan suami yang lebih muda, kami mencapai level di mana sama-sama mengerti kebutuhan masing-masing, bisa mencukupi hidup, karir tetap jalan, pertemanan yang positif tetap dipertahankan, sambil berusaha mendapatkan keturunan. Perbedaan usia 7 tahun di antara kami tentu masih terasa kalau mengingat jenjang karir, but it’s OK.

Masa lalu tetaplah masa lalu. Yang penting bagaimana menghadapi masa depan. Setidaknya nanti kalau punya anak, dia masih lebih kuat menggendongnya ke mana-mana, kan?

Sharing after reading, yes?

15 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *