Twitter Talk: Duitnya aMrazing Sebanyak Apa Sih Traveling Mulu?

Sekali jalan-jalan bareng Alex, story teller blog aMrazing, membuat saya masih tetap ngga begitu kenal Alex. #lahgimanasih.. Waktu yang singkat, waktu yang pendek buat belajar fotografi ala Alex. Karena belajar blogging ala Alex ngga bisa ditiru semua orang. Ngga semua orang punya kemampuan bercerita yang lucu jayus dan tetap punya pendirian dengan wawasan luas yang dimilikinya sehingga ngga sedikit brand yang tertarik untuk bekerja sama dengan Alex.

Alex duitnya banyak ya? Nggak kok. Misteri duit Alex sebanyak apa sampai bisa traveling mulu itu terjawab di postingan blognya selama menjelajah Europe akhir tahun 2015 itu.

Secara gamblang sebenarnya juga sudah dijelaskan Alex di Twitter Talk-nya bagaimana ia membentuk personal branding aMrazing hingga menjadi dirinya seperti sekarang. Dirangkum sini aja yuk.

#1. The answer is very simple: i work my ass off. Dari membangun brand pribadi (still doing it until now), sampai networking.

#2. Traveling nggak harus bayar, kok. Ada banyak caranya.

#3. The premise is simple. 1. Gue pengin sering traveling. 2. Gue gak pengin traveling yang menyiksa diri. 3. Tapi gue gak punya banyak duit.

#4. Tiga point ini rasanya relateable ke banyak orang, kan? You have the problems. Now… What about the solution?

#5. Mati kita kupas. Pengin traveling tapi duit gak banyak sementara maunya traveling yang enak. How how how how how?

#6. Jawabannya tentunya traveling yang disponsori. Atau, dari kerjaan. Atau, jual meki atau titit. But, last option is not for me.

#7. Jadi, makin mengerucut ke opsi ini: Traveling yang disponsori.

#8. Supaya sponsor mau mensponsori kita, maka tentunya mereka akan bertanya: – elo siapa? – what is your worth? – how can you benefit us?

#9. Can you answer the ‘elo siapa – worth lo seapa – apa elo bisa deliver yang diharapkan’? Kalau belum, start dari: elo siapa.

#10. You want the brands to notice you hence the question ‘elo siapa’ came out, someday. In order to do that, you need to build your own brand.

#11. So, the question has shifted into: how. to. build. my. own. brand. This will be the hardest part and it will be on continuity mode.

#12. Karena gue pengin traveling, karena gue ingin suatu hari ada brand yang ngajakin gue lanjalan gratis, here’s what i do:

#13. 1. Gue menyadari bahwa traveling adalah tentang berbagi cerita. 2. Setiap orang pasti punya pendekatan yang berbeda akan setiap hal.

#14. Maka: gue sering bercerita. Gue membangun personal brand gue sebagai tukang cerita. A story teller, if you may.

#15. Gue memulai personal branding sebagai story teller dari tahun 2009. Dari zaman Multiply. Lanjut ke Twitter. Merambah ke Instagram.

#16. Gue belajar menulis. Gue banyak membaca. Gue mengamati manusia di sekitar gue. Gue menuliskan hasil pengamatan itu.

#17. Dan ketika gue menulis, gue nggak berpikiran, suatu hari nanti, gue akan diajak jalan2 gratis. Nope. I just write because I LOVE it.

#18. Ketika elo melakukan suatu kegiatan dengan hati senang dan ikhlas tanpa tendensi harus begini-begina-beginu, you’re doing it right.

#19. The train of thought is simple. I do what I love, I’m making myself better in doing what I love, and maybe someday I get what I deserve.

#20. So, I write. I practice. I write. I practice. I write.

#21. Gue menyadari satu hal: lo gak akan jadi siapa-siapa dengan meniru gaya orang lain. Then I get to know who i am.

#22. Lo liat aja penulis terkenal. Mereka punya ciri sendiri. Dari J.K. Rowling sampe Bastian Tito. Dari Dee Lestari sampe Ika Natassa.

#23. *jangan geer kau, Ka.*

#24. Apakah ciri khas mereka muncul dalam satu malam setelah semedi telanjang bulat di goa? No. It takes years to shape the ‘elo siapa’

#25. Setelah ‘bisa’ menulis dan punya gaya sendiri, lanjut ke pertanyaan lain: Kalo lagi traveling, apa yang penting? The answer is: visual.

#26. Visual? Maksudnya? Gini, pas traveling, elo motret gak? Kalo iya, sebagus yang diharapkan nggak?

#27. Kalo jawabannya masih ‘nggak’, maka latihlah mata lo untuk menghasilkan foto yang bagus. Why?

#28. Because you’d want people to ‘feel’ what you feel. To ‘see’ what you see. What’s better than a great visual? A good photograph?

#29. Itu sebabnya gue belajar fotografi. Susah nggak? Nope. Mahal gak? Nope. In fact, you can get it for FREE.

#30. This is the internet era. It’s so easy to get the information you want from google. Or YouTube. The point is: jangan manja.

#31. Jangan maunya cuma disuapi doang. Use your greatest device: your brain. Train your train of thought. If this than that.

#32. Banyak orang yang hanya terpaku pada masalah tanpa berpikir mengenai solusinya. Karena fokus ke masalah doang, jatohnya self-pity, deh. ?

#33. Yang ketiga, ini yang paling penting, adalah attitude. Lo jago nulis dan jago motret tapi kelakuan lo kek taik? Say goodbye to brands.

#34. Atau, elo merasa keren hence elo menuntut perlakuan istimewa karet dua telor extra? Bhay, bitch. Masih banyak orang lain yang bisa diajak.

#35. As you build your personal brand, you will gain audience. Respect them.

#36. Inget, elo bukan Chris Martin atau Cara Delevigne jadi gak usah sok nganggep punya banyak fans. Belum jadi apa-apa gak perlu halu.

#37. Karena banyak yang kayak gini. Punya followers sekian, langsung belagu gak ketulungan. Atau menganggap yg gak suka sama dia = haters. Pfft.

#38. Posisi elo gak lebih tinggi dari followers elo jadi gak usah anggap diri lo dewa. Kecuali elo Jason Mraz atau Amber f(X)

Good very early morning, #Indonesia. Good night from #Vienna.

A photo posted by Alexander Thian (@amrazing) on

Membangun personal branding tidak dicapai satu dua bulan. Bahkan mungkin belum tentu setahun namamu sudah dikenal. Kadang-kadang perjalanan menjadi ‘diri yang bisa dijual’ ini yang oleh generasi penulis selanjutnya dinilai bisa didapat secara instan.

Bisa sih kalau kamu hempas-hempas seperti Syahrini atau punya keberuntungan bisa menghasilkan one hit wonder dari foto, tingkah atau tulisan, yang menjadikanmu bintang dalam waktu singkat.

Buatlah dirimu semenarik mungkin. Kemas dalam satu kesatuan mulai dari blog, sosial media, hingga memilih pekerjaan yang mendukung, dan tetap konsisten menulis agar bakatmu terus diasah dan semakin terasah sebagai modal berkompetisi di dunia ini.

Jadi, berapa duit aMrazing sebenarnya?

— misteri —

Sharing after reading, yes?

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *