I Need to Read – Ketika Writers Block Menghadang

Pena itu diam kalau tak ada tangan yang menggerakkan. Keyboard pun tak bersuara jika tidak ada jari yang menari. Kesenyapan itu adalah musuh utama penulis di tengah kejaran deadline yang menggila. Pernahkah kamu melakukan satu dua cara di antara pilihan berikut untuk bawa ide kembali, ngga?

Baca. Baca. Baca.
Wahyu pertama yang diterima junjungan kita. Jadi penulis jangan malas membaca. Saat saya kehilangan kata-kata, jalan keluarnya ya membaca. Nda perlu yang berat-berat, baca tulisan di blog ini, baca majalah, baca berita,  baca timeline. Di tengah serunya membaca, saya buka notepad dan merangkai satu dua fakta seru yang didapat dari intermezo sejenak itu.

Ngobrol
Dunia penulis itu dunia kreatif. Ngobrol dengan teman sebelah, ngobrol di ym atau hangout, bisa jadi sumber pencerahan. Tapi pastiin dulu, temen yang kamu ajak ngobrol ngga lagi dikejar deadline juga. Saya menyimpan 1 grup absurd di wassap yang membernya dari segala macam latar belakang. Dari mereka saya sering dapat canda segar bukan sekadar forwatan email/kalimat motivasi/berita hoax semata. Saat kembali ke keyboard, biasanya yang saya ingat adalah seafood udhay aka permata laut.

Jalan-Jalan
Penulis harus suka jalan-jalan. Di mal di taman atau yaa cuman di pinggiran jalan. Amati sekitar kalau kamu suka menulis tentang humanis. Kalau berkutat dengan reviewan produk, jalan di mal dan lihatlah siapa saja target audience yang dituju, apa saja behaviour mereka, dengerin ekspektasinya saat memilih-milih barang.

Atau ya..hanya cari udara segar biar ide ngga terkungkung dalam sangkar. Saya melakukan semuanya. Dan saya merindukan baca novel seperti dulu kala saat waktu begitu banyak terluang tanpa harus mikir bekerja.

Sekarang, novel apa ya yang nyenengin untuk dibaca, gaes?

Sharing after reading, yes?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *