The Amazing Trip to Bromo

Sekali lagi saya pergi ke Bromo. Kali ini berbeda tim yang berangkat. Tidak lagi berbanyak, cukup berlima saja. Demi menemui teman-teman dari Jakarta di Penanjakan sana.

Tepat jam 12 malam, mas Glen (nama aslinya sih mas Glendem, biar keren cukup Glen) menjemput kami berlima dari bilangan Sebuku sesuai dengan janjinya. Sebuah hardtop hijau berhenti menangkring di depan rumah. Harga jeep ke Bromo ini kami dapatkan dengan 1,1 juta. Cukup murah lah dibuat bersenang-senang layaknya mobil sendiri karena banyaknya barang yang kami bawa.

Rute menuju Bromo kali ini dimulai dari NongkoJajar – Penanjakan – Bromo dan pulang lewat Tumpang. Herannya, mas Glen mengarahkan si hijau ke arah Tumpang sehingga hati berdesir, ini jadi lewat mana sih sebenernya. Duduk diย pangkuanย kabin depan bersama Boo membuat saya bebas melihat jalan. Ternyata setelah Pasar Pakis arah Jabung ada jalan tembusan ke NongkoJajar! Catet tuh.

Jalannya agak terjal menanjak, dan turun menukik. Posisi duduk kami dari mendangak sampai terjerembab ke dashboard karenanya. Syukurlah pakai hardtop 4×4, biarpun jalan pelan-pelan tetap sampai jua di puncak setiap bukit yang dilaluinya. Tepat 2,5 jam perjalanan kami sampai di Penanjakan.

Bromo masih dingin. Masih sepi. Masih membeku.

Niat saya pakai celana legging sungguh membuat sumpah serapah terserabut dari dalam hati. DINGIN! Buru-buru saya menghangatkan diri dengan berpotong-potong pisang goreng dan popmie panas. Tidak lama cewek-cewek dari Jakarta, teman-teman tercinta, merapat di warung yang sempit itu. Maraklah suasana.

Menjelang pecahnya sunrise, kami bergerak ke Penanjakan. Saya berbelok ke kiri di gardu pandang. Dari sini terlihat titik api dan garis api bukit-bukit di kaki Penanjakan.

Kawasan Bromo.. Terbakar ๐Ÿ™

Tidak lama kami pun segera turun ke daerah kawah untuk menemui rombongan. Di lereng Penanjakan kami sempat berhenti untuk makan sate dan celana saya yang tipis pun sobek terkena paku di sini. Inilah penyebab saya tampak pakai celana pendek di foto ini:

Bersyukur kami jadi berangkat bareng mas Glen yang telaten menemani kami dari satu tempat ke tempat lain yang ingin kami kunjungi. Dia pun pintar memilihkan spot foto yang OK meski pada akhirnya kami terkena badai pasir di sini.

Kemudian kami beranjak ke pelataran parkir, melewati pasir berbisik, dan langsung menuju savana. Pemandangan sedang sangat hitam. Di mana-mana terlihat padang bekas terbakar. Miris. Tapi penduduk sekitar justru bersyukur karena setelah terbakar ada tanah yang kembali subur menanti hijau kembali.

Intip saja video hasil drone Daddiw di sini.

This is… Amazing Trip.

Sharing after reading, yes?

9 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *