Dilema Pace Uda dalam Tabula Rasa

Dunia kerja tidak pernah mulus seperti tiang listrik. Di antara harapan dan impian, selalu terbentur pada kenyataan. Itulah yang dirasakan Pace Uda Parmanto, juru masak rumah makan Takana Juo.

dari Twitter Tabula Rasa Film

Kenyamanannya bekerja dengan hasil pas-pasan terusik oleh kehadiran Hans, pemuda asli Papua yang mimpinya bermain sepakbola kandas di Jakarta. Ditolong Mak dan diberi makan gulai kepala ikan istimewa yang dibuat Mak setahun sekali, tidak membuat Hans mengingat posisinya sebagai pendatang.

Keinginannya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak, membuatnya lupa pada kepentingan Pace Uda Parmanto di rumah makan Padang Takana Juo. Pace Uda pun undur diri dan memilih menahkodai rumah makan Padang Caniago, tepat di seberang Takana Juo. Bagaimana dilema Pace Uda menentukan perjalanan Hans kemudian?

Demikian Tabula Rasa dari sudut pandang saya. Mungkin berbeda dari cerita kebanyakan. Saya sedih atas nasib Pace Uda. Lebih sedih lagi melihat Hans yang pergi entah ke mana meninggalkan Takana Juo yang niat dinahkodainya.

Kapal belum bersandar, Jenderal. Mungkin akan ada cerita Hans selanjutnya yang belajar memasak nasi gudeg di Jogja? Siapa yang tahu, karena Hans pun pergi tanpa pamit Mak yang menolongnya.

Tabula Rasa, Hans dan Pace Uda. Yang menang tentu penggambaran proses pembuatan rendang dan gulai kepala ikan yang resepnya asli dari Mak, perantau Aceh sejak tahun 2009 silam saat tsunami melanda. Mulai dari bawang merah, cabai, cara ngulek, ngaduk wajan besar, sampai rendang mengental. Saya jerit-jerit sendiri di antara 3 orang penonton Tabula Rasa sore itu.

Oh Tuhan, kapan Kau akan membantu manusia menciptakan rendang tanpa ancaman kolesterol?

Sharing after reading, yes?

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *