Selamatkan Generasi Muda Kita Dari Kejamnya Jalanan

CIIITTT…BRUAKK..

Kedua muda mudi itu pun tersungkur di jalan yang berlawanan arah dari saya. Beberapa saat sebelum mereka mencium aspal, gerakannya memang mengkhawatirkan. Zig zag di antara motor lain, dan akhirnya menabrak bapak ibu yang berboncengan di depannya. Kaki si cowok terjepit di bawah motor, yang cewek baik-baik saja. Entah di mana helm mereka. Mungkin untuk melindungi dengkul tempat otaknya berada.

Cerita pendek kecelakaan anak muda di jalan raya itu hanya gambaran kecil betapa mudahnya generasi muda Indonesia setor nyawa. Entah apa yang membuat anak muda sekarang mudah sekali terpancing emosinya, meskipun sudah banyak contoh yang nyawanya hilang di jalan raya.

Benar. Saya sudah lewat dari masa muda. Hanya bisa mengelus dada melihat yang masih saja ngaco di jalan raya biarpun dia umurnya mungkin sudah kepala lima. Mereka, orang-orang tua yang menempatkan anaknya lebih dulu menghadapi benturan saat berkendara di jalan. Siapa saja?

  • Ayah yang membonceng keluarga besarnya lengkap, istri dan anak-anaknya. Sementara yang terkecil berada di depan, berpegangan kemudi tanpa helm.
  • Ayah yang mengajak si kecil berjalan-jalan naik mobil, tidak bersama ibunya. Namun membiarkan si kecil duduk sendiri di kursi depan, tanpa kursi bayi. Bahkan saat si kecil menempel di dashboard karena ingin melihat jalan di depannya.
  • Ayah yang membelikan kendaraan bermotor di saat anaknya masih belum cukup umur untuk membawanya.
  • Ibu-ibu yang membiarkan para ayah membawa anaknya tanpa pengetahuan keselamatan berkendara.

Takdir memang sudah digariskan. Tapi takdir tidak membuat kita jadi orang yang bodoh terus-terusan. Berpikirlah sebentar ketika kamu sedang memanaskan mesin kendaraan. Bahwa nyawamu hanya ditanggung oleh 2 buah roda yang berputar, bagi yang naik motor. Tubuhmu pun tidak selamanya aman di balik kemudi mobil. Apalagi anak-anak yang tanpa perlindungan keselamatan.

Berpikir sebentar. Dan bayangkan masa depanmu tanpa tawa ceria mereka.

Sementara kamu masih hidup dan menanggung luka hati ditinggalkan anak tercinta, karena secuil kesalahan yang kamu buat sendiri.

Sharing after reading, yes?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *